https://www.katakabar.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Privacy

https://www.katakabar.com

Privacy     Info Iklan     Pedoman Media Siber     Redaksi     Disclaimer     Tentang Kami    

https://www.katakabar.com

  • Home
  • ";
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

Home

Trending

Pilihan

Katakabar TV

Home / Sawit / IFBA Lawan Kampanye Negatif Sawit, Tapi Anti Sawit Kian Brutal di Nusantara

IFBA Lawan Kampanye Negatif Sawit, Tapi Anti Sawit Kian Brutal di Nusantara


Minggu, 04 Januari 2026 | 19:00 WIB  

Editor : Sahdan
IFBA Lawan Kampanye Negatif Sawit, Tapi Anti Sawit Kian Brutal di Nusantara

Foto: Istimewa/katakabar.com.

www.katakabar.com | Artikel ID: 43142 | Artikel Judul: IFBA Lawan Kampanye Negatif Sawit, Tapi Anti Sawit Kian Brutal di Nusantara | Tanggal: Minggu, 04 Januari 2026 - 19:00

Jakarta, katakabar.com - Indian Food and Beverage Association (IFBA) mengeluarkan statemen keras melawan kampanye negatif minyak sawit. Pernyataan ini sontak menjadi tamparan keras tidak hanya bagi kelompok anti sawit global, tetapi justru menghantam balik negara produsen utama seperti Indonesia.

Ironinya, saat negara pengimpor besar membela sawit dengan data dan sains, di dalam negeri sendiri komoditas ini malah terus digerus narasi buruk.
Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Gulat Medali Emas Manurung, menyebut sikap IFBA sebagai sinyal keras ada yang keliru dalam cara Indonesia memperlakukan sawitnya sendiri.

“Untuk kali pertama negara pengguna minyak nabati sawit terdepan melawan kampanye negatif sawit. Ini justru menjadi pukulan berat bagi negara produsen minyak nabati sawit seperti Indonesia,” ujar Dr. Gulat.

Menurutnya, India melalui IFBA membela sawit bukan asal bunyi. Mereka berdiri di atas kepentingan ketahanan pangan, harga terjangkau, dan pendekatan ilmiah. Sebaliknya, di Indonesia, sawit seolah terus dijadikan kambing hitam segala persoalan lingkungan dan sosial.

“Di saat negara importir seperti India membela sawit secara terbuka dan rasional, Indonesia justru dibanjiri narasi bahwa sawit itu tidak baik. Isu ini seperti tak pernah berhenti diproduksi,” ucapnya.

Narasi negatif itu, kata Gulat, menyebar seperti asap tebal, pelan tapi mencekik. Media online, media cetak, hingga ruang-ruang diskusi publik dipenuhi cerita suram soal sawit. Dampaknya, persepsi publik pun ikut terdistorsi.

“Memang tidak semua masyarakat terpengaruh. Tapi kebanyakan sudah terbuai dan percaya dengan kampanye negatif sawit yang dibangun secara masif, terencana, dan terstruktur lewat berbagai media,” tegasnya.

Kondisi ini, tuturnya, bukan cuma soal citra. Ini sudah menguras energi bangsa. Terlalu banyak kementerian dan lembaga terlibat dalam urusan sawit, namun tanpa satu komando yang jelas. Alih-alih solid, yang muncul justru kebijakan tumpang tindih dan regulasi yang saling menikam.

“Terus terang, energi kita habis sendiri. Banyak kementerian dan lembaga ambil peran di sawit, tapi tidak terintegrasi. Pada akhirnya, ‘lawan sawit’ itu justru bersifat domestik, dari dalam negeri sendiri, termasuk lewat regulasi,” jelas Gulat dengan nada getir.

Ia menilai situasi ini berbahaya. Sawit bukan sekadar komoditas ekspor, tapi tulang punggung ekonomi jutaan petani. Jika kampanye negatif dibiarkan makin brutal, efek domino ke petani kecil tak terelakkan, dari harga TBS tertekan, akses pasar menyempit, hingga stigma sosial di tingkat tapak.

Untuk itu, APKASINDO mendorong pembentukan lembaga khusus yang mengurusi sawit secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Bukan hanya soal produksi dan ekspor, tapi juga perang narasi.

“Sudah saatnya dibentuk badan khusus yang mengurusi sawit secara terintegrasi, termasuk kampanye positif sawit. Kami berharap Presiden Prabowo bisa segera mengantisipasi masifnya kampanye negatif sawit di dalam negeri dengan mendirikan Badan Otoritas Sawit Indonesia (BoSI),” terangnya.

Dr. Gulat juga mengingatkan posisi strategis India bagi Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir, India konsisten menjadi salah satu importir terbesar minyak sawit Indonesia. Fakta ini, menurutnya, seharusnya membuat Indonesia bercermin.

“India itu pasar besar kita. Mereka membela sawit dengan lantang karena tahu manfaatnya bagi rakyatnya. Kita seharusnya malu. Di sana sawit dibela, di sini justru sering disudutkan,” bebernya.

Pernyataan keras APKASINDO ini muncul menyusul sikap resmi IFBA yang menilai label No Palm Oil atau Palm Oil Free lebih sebagai strategi politik pemasaran ketimbang informasi gizi berbasis sains. IFBA menegaskan, label tersebut menyesatkan konsumen dan tidak sejalan dengan pedoman resmi maupun fakta ilmiah.

Bagi APKASINDO, sikap IFBA seolah membuka mata dunia. Bahwa kampanye anti sawit tak selalu soal lingkungan atau kesehatan, tapi kerap sarat kepentingan. Dan di Indonesia, kampanye itu dinilai sudah melampaui batas, kian brutal, kian bising, dan perlahan menggerogoti kepentingan petani sendiri.

Saat dunia mulai bicara dengan data, Indonesia justru sibuk berdebat dengan bayangannya sendiri. Sawit pun berdiri di persimpangan, antara dibela atau terus dihantam dari dalam.

www.katakabar.com | Artikel ID: 43142 | Artikel Judul: IFBA Lawan Kampanye Negatif Sawit, Tapi Anti Sawit Kian Brutal di Nusantara | Tanggal: Minggu, 04 Januari 2026 - 19:00
Sumber : elaeis.co

TOPIK TERKAIT

# Lawan# Kampanye# Negatif# Sawit# IFBA# Kian Brutal# Nusantara
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Sawit

    2026, Petani Desak Penetapan Harga TBS Sawit di Banten

    Sabtu, 03 Jan 2026 | 08:14 WIB
  • Nasional

    ISMEI Desak Presiden Stop Pemutihan Sawit BUMN: Negara Legalkan Pelanggaran Petani Kian Terpinggirkan

    Jumat, 02 Jan 2026 | 15:00 WIB
  • Ekonomi

    Bittime Gelar Kampanye #NewYearBonus, Bagikan Airdrop $BTC dan $USDT di Akhir Tahun

    Kamis, 01 Jan 2026 | 10:00 WIB
  • Sumut

    Peduli Sosial Holding PTPN, PT KPBN Salurkan Bantuan CSR ke Warga Belawan

    Senin, 29 Des 2025 | 20:57 WIB
  • Sawit

    Permentan No 33 2025 tentang Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Disosialisasikan Ditjenbun

    Minggu, 28 Des 2025 | 17:00 WIB

TERPOPULER

  • FPAN Diminta Tak Catut Nama PPPK Paruh Waktu dalam Aksi Demo di BPJSTK Sumbagut

    Rabu, 01 Apr 2026 | 21:41 WIB
  • UPDATE Kasus Dugaan Permainan Retribusi Pasar Belantik Siak: Jaksa Minta Inspektorat Audit, Tapi...

    Rabu, 01 Apr 2026 | 15:40 WIB
  • Tidak Bayar Pesangon 34 Eks Karyawan, Ratusan Buruh Geruduk BRI Kanwil Medan

    Sabtu, 28 Mar 2026 | 19:06 WIB
  • Kejari Binjai Tetapkan Empat Tersangka Kasus Kontrak Fiktif di Dinas Ketahanan Pangan

    Rabu, 01 Apr 2026 | 05:02 WIB
  • Warga Gajah Sakti dan Titian Antui Dikerangkeng Polisi Gegara Jualan Pil Ekstasi

    Kamis, 02 Apr 2026 | 19:28 WIB
Tuk Malim Daiwah



  • Tentang Kami     Disclaimer     Redaksi     Pedoman Media Siber     Info Iklan     Privacy    

    katakabar.com 2019 - - All Right Reserved Desain by : Aditya

    Network :