Banyu Asin, katakabar.com -- Aroma menyengat dari limbah cair kini bukan lagi masalah bagi Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Sukomoro 7, Air Batu, Kabupaten Banyu Asin, Sumatera Selatan. Sebuah terobosan biologis hasil riset Ir. Syamsul Alwie, pensiunan dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri), berhasil menetralkan bau tak sedap pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) SPPG tersebut hanya dalam tempo 24 jam.
Hasil menggembirakan ini diperoleh melalui uji coba yang dilakukan pada pertengahan Mei 2026, dengan menggunakan formulasi khusus bakteri Endofit, yaitu perpaduan simbiosis jamur Trichoderma dan bakteri Bacillus. Dengan dosis yang terukur—10 liter untuk IPAL 3.000 liter dan 4 liter untuk IPAL 1.000 liter—perubahan drastis langsung terasa di lokasi. Hanya berselang sehari, bau busuk yang menyengat seketika hilang.
Bekerja dari akar masalah
Syamsul Alwie menjelaskan bahwa rahasia keampuhan larutannya terletak pada proses biodegradasi alami. "Prinsipnya bukan sekadar menutupi bau dengan wewangian kimia, tetapi mengurai sumber penyebab bau itu sendiri secara biologis," ujar Syamsul di lokasi kegiatan.

Menurutnya, ketika bahan organik penyebab bau terurai sempurna oleh mikroba, maka aroma busuk akan hilang dengan sendirinya. Jamur Trichoderma dan bakteri Bacillus memang dikenal luas dalam literatur ilmiah sebagai agen bioremediasi yang mampu menurunkan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) secara efektif.
Dampak inovasi ini dirasakan langsung oleh para petugas di SPPG Sukomoro 7. Sailani, Koordinator Satpam setempat, menuturkan bahwa sebelumnya area IPAL selalu menebarkan aroma yang mengganggu aktivitas harian. "Setelah diberi larutan ini, suasana di sekitar sini jauh lebih nyaman. Kami yang bertugas setiap hari sangat merasakan perbedaannya," ungkapnya.
Senada dengan itu, Ridho, Koordinator Sanitasi dan Kebersihan, mengaku terkejut dengan kecepatan hasil kerja larutan tersebut. “Luar biasa, hari ini diberi larutan, besok bau busuk sudah hilang,” ucapnya, takjub. Ia berharap metode ini bisa menjadi standar pengelolaan limbah baru, terutama untuk fasilitas dapur skala besar.
Keunggulan berkelanjutan
Salah satu nilai tambah utama dari inovasi ini adalah efisiensi. Syamsul menyebutkan bahwa aplikasi tidak harus dilakukan secara intensif terus-menerus. Jika ekosistem mikroba di dalam IPAL sudah terbentuk, mikroorganisme akan berkembang secara mandiri.
Lebih jauh, ia melihat potensi ekonomi dari limbah ini. Air olahan yang telah diproses tidak lagi menjadi limbah pencemar, melainkan dapat diproses menjadi Pupuk Organik Cair plus (POC+). "Ini adalah konsep circular economy. Limbah dikembalikan ke tanah untuk menyuburkan tanaman," jelasnya.
Potensi skala nasional
Inovasi yang dilakukan Syamsul menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa untuk menjawab tantangan lingkungan. Dengan metode yang murah, sederhana, namun berdaya guna tinggi, riset ini kini membuka peluang untuk diterapkan di berbagai fasilitas publik lainnya, mulai dari rumah makan, pesantren, hingga industri kecil menengah.
"Indonesia kaya akan sumber daya hayati. Tugas kita adalah membuktikan bahwa riset lokal mampu memberikan solusi nyata bagi lingkungan di lapangan," pungkasnya.
Berawal dari penelitian panjang
Di lingkungan Sumatera Selatan, nama Syamsul Alwie sebenarnya sudah cukup dikenal dalam dunia pengolahan limbah biologis. Pensiunan dosen Fakultas Pertanian Unsri tersebut telah belasan tahun melakukan penelitian mandiri hingga akhirnya berhasil mengembangkan fermentor dan bioremediator berbasis mikroorganisme lokal.
Risetnya tak hanya berhenti di laboratorium. Berbagai produk hasil pengembangannya telah diujicobakan untuk menangani limbah cair, sludge minyak bumi, limbah peternakan, hingga limbah pabrik tahu.
Salah satu keberhasilan penting terjadi saat teknologi bioremediasi miliknya digunakan menangani limbah sludge minyak di stasiun pengumpul limbah minyak Talang Jimar EP Pertamina Prabumulih pada 2020. Saat itu kandungan Total Petroleum Hydrocarbons (TPH) yang semula mencapai 126.000 ppm berhasil ditekan hingga tinggal sekitar 140 ppm dan diubah menjadi pupuk kompos berkualitas.
Teknologi serupa juga pernah diuji pada limbah pabrik tahu di kawasan Lenteng Agung, Jakarta. Hasilnya, bau busuk berhasil dihilangkan sekaligus menghasilkan pupuk cair yang dapat dimanfaatkan kembali.
Keberhasilan tersebut bahkan sempat menarik perhatian Pertamina Hulu yang mengundang Syamsul Alwie untuk melakukan presentasi di Gedung Sopo Del Tower Mega Kuningan, Jakarta, pada Desember 2023.
Tim KLHK pernah datang khusus ke Palembang
Kemampuan fermentor dan bioremediator temuan Syamsul juga pernah menjadi bahan diskusi serius bersama Direktorat Pengendalian Pencemaran Air KLHK.
Pada Maret 2024, tiga pejabat fungsional KLHK — Salman Anwar, Hirna Sulistyowati, dan Eti Purwati — datang langsung ke Palembang untuk berdiskusi di lingkungan PT Lembaga Green Garbage milik Syamsul Alwie.

“Tim dari KLHK antusias sekali menanyakan hal-hal detail mengenai kemampuan fermentor dan bioremediator kami dalam proses pengolahan limbah cair,” tutur Syamsul kala itu.
Dalam diskusi tersebut, KLHK juga membawa sejumlah sampel produk Green Garbage untuk diuji lebih lanjut sebagai langkah awal penerapan kepada masyarakat.-
Inovasi Pensiunan Dosen Unsri Larutan Bakteri Endofit Sulap Limbah SPPG Jadi Ramah Lingkungan dalam 24 Jam
Diskusi pembaca untuk berita ini