Dengan audiens yang luas, SIKPA menjadi ruang belajar bagi orang tua, pasangan, maupun individu yang ingin memahami proses tumbuh kembang manusia secara lebih mendalam.

Kolaborasi ini mempertemukan dua pendekatan yang saling melengkapi. SIKPA menghadirkan perspektif ilmu keluarga dan perkembangan anak, sementara KLTC® membawa pendekatan leadership dan coaching yang selama ini diterapkan dalam pengembangan SDM dan organisasi.

Melalui sinergi tersebut, kedua institusi ingin menghadirkan proses belajar yang tidak hanya membahas bagaimana mendidik anak, tetapi juga bagaimana orang tua bertumbuh bersama proses pengasuhan yang mereka jalani.

Saskia Ratry Arsiwie, Founder SIKPA, menyampaikan kolaborasi ini lahir dari kebutuhan masyarakat yang semakin besar terhadap edukasi keluarga yang lebih reflektif, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Selama ini banyak orang tua belajar parenting dari media sosial atau potongan-potongan informasi yang belum tentu utuh. Padahal, anak tidak tumbuh hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari contoh nyata yang mereka lihat setiap hari di rumah. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang membantu keluarga bukan hanya memahami pola asuh, tetapi juga memahami komunikasi, emosi, dan dinamika hubungan di dalam rumah,” jelas Saskia.

Kolaborasi antara KLTC® dan SIKPA juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendekatan pengembangan manusia yang lebih terintegrasi. Jika selama ini leadership sering dipahami hanya dalam konteks organisasi atau pekerjaan, kedua institusi melihat bahwa fondasi leadership sebenarnya mulai terbentuk dari kehidupan sehari-hari di rumah.

Cara seseorang belajar mendengarkan, menyelesaikan konflik, membangun empati, hingga menghadapi tekanan sering kali pertama kali dipelajari melalui hubungan dengan keluarga.

Lantaran itu, keluarga dipandang bukan hanya sebagai tempat tumbuh, tetapi juga ruang pertama yang membentuk karakter, pola pikir, dan kualitas relasi seseorang di masa depan.

Kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan pendekatan pengembangan SDM yang dimulai dari rumah. Pada akhirnya, rumah adalah tempat pertama seorang anak belajar memahami dirinya sendiri, memahami orang lain, dan membentuk cara pandangnya terhadap dunia.