Lantaran itu, keterlibatan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi penting dalam merumuskan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri tembakau nasional, khususnya di segmen SKT, guna menjaga ekosistem ekonomi daerah serta melindungi puluhan ribu lapangan kerja yang bergantung pada sektor ini.
Sementara, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Sampoerna terus menciptakan nilai di seluruh rantai nilai perseroan, mulai dari kemitraan dengan lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih, bekerja sama dengan lebih dari 1,5 juta toko ritel, serta penciptaan sekitar 90.000 lapangan kerja di Indonesia dari kegiatan usaha Perseroan.
Berdasarkan Studi Litbang Kompas pada tahun 2025, dampak berganda aktivitas usaha Sampoerna mencapai sekitar Rp204,1 triliun per tahun atau setara dengan sekitar 1 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan rasio multiplier sebesar 1,7 kali.
Sejalan dengan kontribusi tersebut, Perseroan juga terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan melalui berbagai inisiatif pelatihan, pengembangan talenta, serta program pembinaan dengan pengusaha UMKM lokal di seluruh Indonesia. Beberapa program yang telah dijalankan adalah Sampoerna Retail Community (SRC) yang diluncurkan pada tahun 2008 dan telah membina 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia dan menghasilkan total omzet sebesar Rp251 triliun per tahun atau setara dengan 9,46% PDB Retail Nasional 2025, Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang dimulai dari tahun 2007 dan telah menjangkau lebih dari 108.000 pelaku UMKM, serta Sampoerna Karya Bangsa yang memiliki berbagai program pengembangan kapasitas, termasuk program HOPE yang telah melibatkan lebih dari 9.000 peserta dan pelatihan vokasional dengan lebih dari 1.500 peserta.
Dengan pengalaman selama lebih dari 112 tahun di Indonesia, Sampoerna terus memperkuat perannya sebagai bagian integral dari perekonomian nasional melalui inovasi, keberlanjutan, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dalam RUPST, Sampoerna juga mengumumkan pembagian dividen dari laba tahun buku 2025 dengan total sekitar Rp6,55 triliun dari saldo laba Perseroan, dengan rasio pembayaran dividen sebesar 99,95% atau Rp56,3 per saham, mencerminkan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham.
Perubahan Susunan Direksi
Dalam RUPST, para pemegang saham menyetujui perubahan susunan Direksi Perseroan. RUPST menyetujui pengunduran diri Elvira Lianita dari jabatannya selaku Direktur Perseroan, sehubungan dengan penunjukan beliau pada peran baru sebagai Vice President Corporate Affairs East & Southeast Asia, Pacific and PMI Global Travel Retail, Philip Morris Asia Limited. Perseroan menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang telah diberikan selama masa jabatan beliau di Perseroan.
Sejalan dengan hal tersebut, RUPST juga menyetujui pengangkatan Joy Kartika Widjaja dan Virawaty sebagai anggota Direksi Perseroan, serta Umer Jawaid sebagai Direktur Perseroan yang menggantikan Johan Bink, efektif sejak ditutupnya RUPST 2026.
“Perubahan dalam jajaran Direksi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Perseroan untuk memastikan kepemimpinan yang solid dan relevan dengan dinamika bisnis. Kami menyampaikan terima kasih atas dedikasi Elvira Lianita dan Bapak Johan Bink serta mengucapkan selamat menjalankan tugas kepada Ibu Joy Kartika Widjaja, Ibu Virawaty, dan Bapak Umer Jawaid,” jelas Ivan.
Sampoerna Pertahankan Kepemimpinan Pasar 2025 di Tengah Tantangan Industri Tembakau
Diskusi pembaca untuk berita ini