Menurut Lena, pengembangan bawang putih di Toba memiliki peluang karena sejumlah wilayah berada pada ketinggian yang dinilai sesuai dengan kebutuhan tumbuh tanaman tersebut. Ia berharap keberhasilan program percontohan dapat mendorong perluasan budidaya secara bertahap.

Program penanaman seluas 36 hektare itu direncanakan tersebar di delapan kecamatan. Habinsaran mendapat alokasi 14,5 hektare, Balige lima hektare, Lumban Julu empat hektare, Borbor empat hektare, Porsea 2,5 hektare, Ajibata dua hektare, Silaen dua hektare, dan Tampahan dua hektare.

“Dengan keberhasilan yang 31 kelompok dan luasan 36 ha, menjadi contoh untuk petani lainnya bersedia mengembangkan bawang putih di kabupaten Toba, karena syarat tumbuh dengan ketinggian 900 mdpl,” kata Lena Pardede. 

Lena menambahkan, Kementerian Pertanian memberikan perhatian terhadap pengembangan bawang putih di Toba, termasuk melalui rencana penurunan tim ahli untuk mendukung aspek budidaya. Namun, pengembangan komoditas ini juga membutuhkan infrastruktur penunjang.


Karena itu, Dinas Pertanian Toba berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kementerian Pertanian membantu pembangunan saluran irigasi, jalan usaha tani, serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Dukungan tersebut dibutuhkan agar petani tidak hanya mampu menanam, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan usaha. Selain pendampingan teknis, kepastian pasar dan penyerapan hasil panen menjadi faktor penting untuk memberi kepastian ekonomi bagi petani.