Ekologi

Sorotan terbaru dari Tag # Ekologi

Dari Lubang Tambang Jadi Kawasan Hijau: Reklamasi Jadi Instrumen Pemulihan Ekologi Lingkungan
Lingkungan
13 jam yang lalu

Dari Lubang Tambang Jadi Kawasan Hijau: Reklamasi Jadi Instrumen Pemulihan Ekologi

Jakarta, katakabar.com - Reklamasi dan pemulihan lingkungan kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari praktik pertambangan berkelanjutan. Bagi perusahaan-perusahaan anggota Grup MIND ID, reklamasi tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif setelah kegiatan tambang berakhir, melainkan sebagai upaya memulihkan fungsi ekologis kawasan sekaligus menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Melalui berbagai program restorasi lahan, rehabilitasi ekosistem, konservasi biodiversitas, hingga pengembangan tanaman energi, perusahaan-perusahaan tambang anggota Grup MIND ID berupaya menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan. Di ANTAM, reklamasi diposisikan sebagai instrumen pemulihan fungsi ekologis jangka panjang. Perusahaan menjalankan program reklamasi dan rehabilitasi secara sistematis dengan tujuan mengembalikan fungsi lingkungan pada area pascatambang agar tetap aman, stabil, dan produktif. Kegiatan tersebut meliputi penataan lahan, pengendalian erosi dan sedimentasi, revegetasi menggunakan spesies lokal, hingga pemantauan kualitas lingkungan secara berkala. ANTAM juga mengintegrasikan program konservasi biodiversitas melalui pemantauan flora dan fauna, rehabilitasi ekosistem sungai, serta perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi di sekitar wilayah operasional. Pada 2025, ANTAM telah menanam lebih dari 195 ribu pohon di area pascatambang maupun kawasan rehabilitasi lainnya. Selanjutny, Bukit Asam atau PTBA mengembangkan inovasi melalui pemanfaatan tanaman kaliandra merah di lahan reklamasi. Tanaman energi tersebut dikembangkan sebagai bahan baku wood pellet untuk program co-firing pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Program ini tidak hanya mempercepat penghijauan lahan pascatambang, tetapi juga mendukung pengurangan emisi karbon melalui substitusi sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa. Hingga 2025, PTBA bersama mitra akademik telah melakukan penanaman kaliandra merah di lahan seluas 26,47 hektare dengan lebih dari 240 ribu batang tanaman. Di samping itu, Freeport Indonesia menjadikan pengelolaan biodiversitas sebagai salah satu fokus utama strategi keberlanjutannya. Perusahaan menerapkan berbagai sistem pengelolaan lingkungan yang bertujuan meminimalkan dampak operasional terhadap ekosistem, termasuk pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dan pengelolaan tailing sesuai standar yang telah diverifikasi secara internasional. Selain itu, Freeport melakukan penilaian kondisi alam melalui pendekatan empat tahap, mulai dari identifikasi lokasi, evaluasi, asesmen, hingga penyiapan langkah mitigasi guna memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati di wilayah operasionalnya. Sementara, PT Timah menempatkan reklamasi dan restorasi lanskap pascatambang sebagai bagian penting dari strategi keberlanjutan perusahaan. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui revegetasi lahan bekas tambang, tetapi juga rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut. Program yang dijalankan mencakup pembangunan terumbu karang buatan, penanaman mangrove, hingga restocking kepiting sebagai bagian dari pemulihan ekosistem perairan yang terdampak aktivitas pertambangan. Pada 2025, perusahaan mencatat realisasi 100 persen target perawatan reklamasi dan rehabilitasi lingkungan yang telah ditetapkan. Adapun PT Vale Indonesia menempatkan reklamasi dan rehabilitasi kawasan tambang sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan sumber daya alam jangka panjang. Perusahaan menjalankan pemulihan lahan melalui revegetasi, pengelolaan keanekaragaman hayati, dan rehabilitasi kawasan terdampak operasi tambang untuk memastikan kawasan yang telah ditambang dapat kembali memiliki fungsi ekologis yang mendukung keseimbangan lingkungan di sekitar wilayah operasi. Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa paradigma industri pertambangan terus berubah. Reklamasi tidak lagi berhenti pada penanaman kembali vegetasi, melainkan berkembang menjadi upaya pemulihan ekosistem yang lebih komprehensif dari konservasi biodiversitas, rehabilitasi kawasan darat dan perairan, hingga pengembangan tanaman energi yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan-perusahaan anggota Grup MIND ID membuktikan bahwa kegiatan pertambangan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

ENSIA 2025: Dorong Inovasi untuk Harmoni Sosial, Ekonomi dan Ekologi Default
Default
Minggu, 21 September 2025 | 20:34 WIB

ENSIA 2025: Dorong Inovasi untuk Harmoni Sosial, Ekonomi dan Ekologi

Jakarta, katakabar.com - PT Sucofindo (Persero), bagian dari holding jasa survey atau PT IDSurvey (Persero)) kembali gelar Environmental dan Social Innovation Awards atau ENSIA.2025, sebuah ajang apresiasi bagi pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat yang menghadirkan inovasi di bidang lingkungan dan sosial. Usung tema “Innovation for Socio-Economic and Ecological Harmony”, ENSIA 2025 menegaskan peran PT Sucofindo (Persero) sebagai penggerak inovasi yang tidak hanya memberi manfaat bisnis, tetapi membawa dampak positif terhadap masyarakat dan ekosistem. Tahun ini, PT Sucofindo (Persero) memberikan apresiasi kepada 178 pelaku usaha serta 56 local hero atas inovasi yang telah mereka hadirkan. ENSIA 2025 diselenggarakan di Jakarta, dihadiri dan dibuka oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, Diaz Hendropriyono dan sangat mengapresiasi atas upaya dunia usaha dan masyarakat menciptakan inovasi berkelanjutan. “Saya menyambut baik event ini karena ENSIA menjadi pelengkap penting bagi Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper) yang kami jalankan. PT Sucofindo (Persero) berperan mendukung penilaian Proper dengan menghadirkan metodologi terintegrasi yang membantu perusahaan memenuhi standar lingkungan secara komprehensif dan terukur. Tema ENSIA 2025 juga sejalan dengan orientasi PROPER yang menempatkan kepentingan ekonomi, ekologi, dan sosial secara setara sebagai pilar-pilar utama keberlanjutan,” kata Diaz Hendropriyono, lewat siaran pers diterima katakabar.com, Sabtu kemerin Menurut Diaz Hendropriyono, antusias partisipan tahun ini menjadi bukti semakin banyak pihak yang peduli terhadap inovasi sosial dan lingkungan. “Inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan masa depan industri untuk pertumbuhan berkelanjutan, karena itu menjadi strategi utama untuk memastikan daya saing dan ketahanan bisnis di masa depan,” jelasnya. Chief Executive Officer PT IDSurvey (Persero), Arisudono Soerono memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan ENSIA yang konsisten dan berkembang setiap tahunnya. “Kami melihat bagaimana dari tahun ke tahun, jumlah peserta ENSIA terus meningkat, baik dari sisi jumlah maupun sektor. Kategori inovasi pun semakin beragam, mulai dari inovasi lingkungan, program sosial berbasis pemberdayaan, Local Hero Inspiratif, hingga Inovasi Khusus. Hal ini mencerminkan semakin kuatnya kesadaran dan komitmen dunia usaha terhadap pembangunan berkelanjutan. Perkembangan ENSIA menjadi motivasi dan refleksi tersendiri bagi IDSurvey untuk terus melakukan hal yang sama, yakni berinovasi, bertransformasi, dan berkontribusi dalam agenda lingkungan dan sosial nasional,” ucapnya. Di kegiatan sama, Direktur Utama PT Sucofindo (Persero), Jobi Triananda mengatakan ENSIA bukan hanya sekadar ajang penghargaan, melainkan gerakan kolektif untuk menginspirasi dunia usaha dan masyarakat menciptakan solusi nyata bagi keberlanjutan. ENSIA telah mengapresiasi sebanyak 543 inovasi lingkungan dan sosial, 7 inovasi khusus, dan 15 local hero inspiratif. Selain itu, untuk kategori Best of the Best diraih oleh PT SMELTING atas inovasinya dalam upaya pengelolaan sampah. “Tahun ini, kami menghadirkan kategori inovasi yang semakin relevan dengan isu-isu strategis nasional seperti ketahanan pangan, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, serta konservasi daerah aliran sungai. Sejalan dengan PROPER yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup. ENSIA hadir untuk mendorong peningkatan capaian PROPER Hijau dan Emas sekaligus memperkuat transparansi dan akuntabilitas kinerja lingkungan dunia usaha,” tutur Jobi. Sementara, Ketua Panitia ENSIA 2025, Dian Indrawaty menegaskan bahwa ENSIA 2025, secara konsisten mengadaptasi konsep Mice Sustainability, dengan menghadirkan penyelenggaraan acara yang ramah lingkungan. "Hal ini diwujudkan melalui pengurangan penggunaan kertas cetak, perhitungan emisi dari transportasi peserta dan konsumsi listrik selama acara, pengolahan kembali sampah yang bekerja sama dengan Waste4Change, serta penggunaan bahan daur ulang untuk plakat penghargaan," terangnya. Di penghujung acara, Dian Indrawaty menambahkan ENSIA 2025 juga menghadirkan Talk Show dengan tema Mendorong Hilirisasi Sampah sebagai Penggerak Ekonomi Sirkular, serta Sharing Inovation berjudul Enabling ESG Through TIC Service Excellence dengan mengundang berbagai narasumber, antara lain Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan