Inflasi
Sorotan terbaru dari Tag # Inflasi
Wall Street Mulai Konsolidasi, Pasar Hati-hati Cerna Risiko Inflasi
Jakarta, katakabar.com - Wall Street tutup perdagangan akhir pekan dengan nada yang jauh lebih hati-hati setelah reli panjang yang sempat membawa indeks utama Amerika Serikat mencetak rekor tertinggi mulai kehilangan momentum. Indeks S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi cukup tajam, menandai perubahan sentimen pasar yang berlangsung cepat dari optimisme menuju fase defensif. Sebelumnya, pasar saham AS menikmati dorongan besar dari euforia sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saham-saham teknologi raksasa menjadi motor utama kenaikan indeks selama beberapa pekan terakhir. Namun kini, investor mulai dihadapkan kembali pada realitas makroekonomi yang lebih kompleks dan penuh tekanan. Aksi ambil untung atau profit taking menjadi salah satu pemicu utama pelemahan pasar. Setelah dua sesi penguatan signifikan, banyak investor memilih mengamankan keuntungan mereka. Tetapi, tekanan pasar tidak hanya berasal dari faktor teknikal semata. Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali memunculkan kekhawatiran mengenai inflasi global yang sebelumnya sempat mereda. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi memperpanjang tekanan inflasi, terutama di tengah kondisi geopolitik yang semakin memanas. Situasi ini membuat investor kembali mengevaluasi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Pasar yang sebelumnya berharap adanya pelonggaran kebijakan moneter kini justru mulai mengantisipasi kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Di sisi lain, kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury yield semakin memperburuk tekanan terhadap pasar saham. Yield Treasury tenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak Mei 2025. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa investor obligasi mulai memperhitungkan risiko inflasi yang lebih persisten. Kenaikan yield memberikan dampak besar terhadap valuasi saham, khususnya sektor teknologi yang selama ini dihargai tinggi berdasarkan ekspektasi pertumbuhan masa depan. Ketika yield naik, instrumen obligasi menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dengan risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan saham. Kondisi tersebut membuat saham-saham teknologi yang sebelumnya memimpin reli pasar mulai kehilangan tenaga. Nasdaq yang selama beberapa minggu menjadi indeks dengan performa terbaik akhirnya mengakhiri tren positif enam pekan berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa investor mulai melakukan rotasi aset ke instrumen yang dianggap lebih aman. Selain faktor ekonomi, geopolitik kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah munculnya pernyataan keras dari Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Situasi tersebut memicu lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran gangguan distribusi energi global. Fokus pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Ketidakstabilan di kawasan tersebut meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak global, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga energi lebih lanjut. Jika kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap inflasi global diperkirakan akan semakin besar. Meski demikian, tidak semua indikator pasar menunjukkan sinyal negatif. Secara mingguan, indeks S&P 500 masih berhasil mencatat kenaikan untuk minggu ketujuh berturut-turut. Pencapaian ini menunjukkan bahwa tren bullish jangka menengah belum sepenuhnya hilang, meskipun volatilitas pasar meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Dinamika global juga dipengaruhi oleh hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, yaitu Amerika Serikat dan China. Pertemuan antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping belum menghasilkan terobosan signifikan terkait hubungan dagang maupun geopolitik. Kondisi ini menambah ketidakpastian di pasar global dan berpotensi menjadi beban jangka panjang bagi sentimen investor. Perubahan besar juga terjadi di pucuk pimpinan bank sentral Amerika Serikat. Hari Jumat menjadi penutup era Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Posisi tersebut kini resmi dipegang oleh Kevin Warsh, yang langsung menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan inflasi, konflik geopolitik, dan perlambatan pertumbuhan global. Pasar kini mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed di bawah kepemimpinan baru. Probabilitas kenaikan suku bunga kembali meningkat signifikan, mencerminkan kekhawatiran bahwa inflasi tidak lagi bersifat sementara. Jika tekanan harga terus meningkat, The Fed diperkirakan akan mempertahankan sikap hawkish dalam beberapa waktu ke depan. Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, investor dituntut untuk lebih cermat dalam memantau pergerakan aset global. Pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memberikan kemudahan bagi investor Indonesia untuk mengakses berbagai instrumen investasi global hanya melalui satu aplikasi. Bagi masyarakat yang tertarik memulai investasi di saham Amerika Serikat maupun aset digital lainnya, Nanovest dapat menjadi pilihan yang praktis dan terpercaya. Selain menyediakan akses ke saham AS, aplikasi ini juga memungkinkan pengguna untuk mengeksplorasi berbagai aset kripto yang saat ini semakin diminati investor global. Dari sisi keamanan, Nanovest memberikan perlindungan tambahan terhadap risiko cybercrime melalui dukungan Asuransi Sinarmas. Hal ini menjadi nilai tambah penting, terutama bagi investor pemula yang ingin berinvestasi dengan rasa aman. Nanovest juga telah terdaftar dan memiliki lisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Legalitas tersebut menunjukkan bahwa platform ini telah memenuhi standar regulasi yang berlaku di Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai layanan dan fitur investasi dapat diakses melalui situs resmi www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest sendiri sudah tersedia di Play Store maupun App Store sehingga dapat digunakan dengan mudah oleh para investor di Indonesia. Ke depan, arah pergerakan Wall Street diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan inflasi, kebijakan suku bunga, serta tensi geopolitik global. Kombinasi kenaikan yield, lonjakan harga minyak, dan ketidakpastian ekonomi membuat pasar memasuki fase yang lebih sensitif. Dalam situasi seperti ini, strategi investasi yang disiplin dan berbasis manajemen risiko menjadi semakin penting bagi para pelaku pasar.
Pasar Global Mixed: Inflasi, AI dan Geopolitik Tekan Wall Street
Jakarta, katakabar.com - Pasar keuangan global menunjukkan tanda-tanda kehilangan arah seiring investor dihadapkan pada kombinasi tiga risiko besar sekaligus, yakni inflasi membandel, disrupsi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), dan eskalasi konflik geopolitik. Itu mulai berdampak, di mana Wall Street menutup pekan perdagangan dengan kinerja beragam, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar dalam menyikapi prospek ekonomi global. Indeks Dow Jones Industrial Average masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sepanjang Februari, memperpanjang tren positif hingga sembilan bulan berturut-turut. Tetapi, tekanan signifikan terlihat pada Nasdaq Composite, sementara S&P 500 juga mengalami koreksi moderat. Perbedaan kinerja ini indikasikan rotasi risiko yang semakin jelas, terutama keluarnya dana dari saham teknologi dan pertumbuhan menuju sektor yang dianggap lebih defensif. Dari sisi makro ekonomi, lonjakan indeks harga produsen (PPI) Januari baik headline maupun inti perkuat kekhawatiran tekanan inflasi di level hulu belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini persempit ruang bagi Federal Reserve untuk segera melonggarkan kebijakan moneter. Narasi suku bunga “higher for longer” kembali menguat, menekan valuasi saham berisiko dan meningkatkan volatilitas di pasar obligasi serta ekuitas. Tekanan tidak hanya datang dari faktor makro, tetapi juga dari disrupsi struktural sektor teknologi. Pernyataan Jack Dorsey terkait pemangkasan besar tenaga kerja di Block Inc. akibat peningkatan efisiensi berbasis AI menjadi sinyal bahwa adopsi teknologi kini membawa dampak ganda. Di satu sisi, AI menjanjikan produktivitas dan margin yang lebih tinggi, namun di sisi lain meningkatkan risiko terhadap model bisnis lama dan stabilitas pasar tenaga kerja. Kekhawatiran investor juga merambah sektor kredit swasta, yang selama ini menjadi alternatif pembiayaan di tengah pengetatan perbankan. Sensitivitas pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi meningkat, mendorong pergeseran aset menuju instrumen yang dianggap lebih aman. Sementara, episentrum volatilitas global bergeser ke Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran picu respons militer balasan dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas. Pasar energi bereaksi cepat, dengan harga minyak Brent melonjak mendekati level tertinggi tujuh bulan. Kekhawatiran utama tertuju pada potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Meski OPEC+ mengisyaratkan peningkatan produksi, keputusan akhir tetap sangat bergantung pada stabilitas kawasan. Pada konteks pasar yang berada di rezim volatilitas tinggi, investor dituntut lebih disiplin dalam mengelola risiko dan melakukan diversifikasi aset. Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini dapat dipantau melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memungkinkan investor Indonesia untuk mengakses saham AS dan aset kripto dalam satu aplikasi yang aman dan terpercaya, dengan perlindungan aset dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Nanovest juga telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjadikannya salah satu opsi bagi investor yang ingin memantau dinamika pasar global di tengah ketidakpastian yang meningkat.
Sidak Pasar Baru Stabat, Pastikan Harga Sembako Stabil dan Terkendali
Langkat, Katakabar.com Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1447 H, Bupati Langkat H. Syah Afandin, SH bersama Wakil Bupati Langkat Tiorita Br Surbakti, SH melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Baru Stabat, Kecamatan Stabat, Rabu (2/3/2026).
Soal Dampak Inflasi Amerika Serikat dan Kebijakan Tarif Trump, Ini Penjelasan Bittime
Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi yang cukup menegangkan setelah sempat mengalami pemulihan singkat di awal tahun. Bersamaan dengan ini Bittime tegaskan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang. Sebelumnya, mayoritas aset utama seperti Bitcoin ($BTC) dan Ethereum ($ETH) cenderung bergerak mendatar namun stabil di atas level $3.100 per hari ini. Meskipun pergerakan harga tercatat stabil, dominasi pelaku pasar sedang bersiap menghadapi serangkaian peristiwa penting di Amerika Serikat. Di mana, ketegangan pasar meningkat menjelang penjadwalan Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk memberikan keputusan terkait legalitas kebijakan tarif yang diusulkan oleh Presiden Trump. Kebijakan perdagangan ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu sentimen penghindaran risiko secara luas jika keputusan tersebut memicu ketidakpastian ekonomi global. Isu tarif ini sering kali dianggap sebagai pemicu perubahan sentimen pasar dari optimis menjadi waspada, yang secara langsung dapat mempengaruhi aliran modal keluar dari aset digital seperti aset kripto menuju aset aman seperti dolar AS. Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti ini, Bitcoin dan altcoin lainnya sering kali mengalami fluktuasi tajam yang dipicu oleh berita-berita mendadak sebelum akhirnya menemukan titik keseimbangan baru. Bersamaan dengan ini, Bittime menegaskan pentingnya meningkatkan literasi agar mampu memilah informasi secara bijak di tengah sinyal pasar yang beragam. Diharapkan dengan literasi yang baik, para investor aset kripto dapat mengelola portofolio mereka secara lebih strategis dan tetap tenang dalam menghadapi dinamika pasar yang sering kali tidak terduga. Salah satu solusi yang kini banyak dilirik oleh investor lokal adalah memanfaatkan fitur Flexible Staking. Fitur yang tersedia di platform Bittime ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan aset kripto mereka dan mendapatkan imbal hasil atau bunga harian secara otomatis, namun tetap memberikan kebebasan penuh untuk menarik aset tersebut kapan saja tanpa adanya periode penguncian. Diketahui, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya, salah satunya komunitas Bittime.
Rilis Inflasi AS Kelar, Emas Diprediksi Masih Menguat
Jakarta, katakabar.com - Selesai rilis data inflasi Amerika Serikat, pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Tetapi, emas sempat mengalami koreksi terbatas pada sesi sebelumnya. XAU/USD tercatat diperdagangkan di level USD 4.590 atau melemah sekitar 0,15 persen Selasa (13/1), setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di kisaran USD 4.634. Penurunan tipis tersebut dipicu oleh data inflasi AS yang menunjukkan stabilitas tekanan harga. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menyampaikan pelemahan harga emas yang terjadi masih berada dalam batas wajar dan belum mengubah arah tren utama. Berdasarkan kajian teknikal yang menggabungkan pola candlestick dan indikator Moving Average, pergerakan emas masih berada dalam tren naik. Formasi harga yang terbentuk mengindikasikan dominasi minat beli, sejalan dengan sentimen global yang terus mendukung emas sebagai aset lindung nilai. Andy Nugraha menambahkan, selama harga mampu bertahan di atas level support terdekat, peluang penguatan lanjutan masih terbuka. Ia memproyeksikan jika dorongan bullish tetap terjaga, XAU/USD berpotensi bergerak naik hingga mendekati area USD 4.650. Level tersebut dinilai sebagai target kenaikan jangka pendek yang cukup signifikan secara teknikal. Jika harga gagal mempertahankan momentum dan muncul tekanan jual, koreksi jangka pendek berpeluang membawa emas turun ke sekitar level USD 4.565. Dari sisi fundamental, harga emas kembali memperoleh sentimen positif pada awal sesi Asia Rabu dengan pergerakan naik ke kisaran USD 4.600. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga AS, menyusul data inflasi yang dirilis di bawah perkiraan. Laporan Indeks Harga Konsumen AS menunjukkan inflasi inti hanya meningkat 0,2 persen secara bulanan, lebih rendah dari estimasi 0,3 persen, serta stabil secara tahunan di level 2,6 persen. Situasi tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter tahun ini. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah cenderung mengurangi opportunity cost dalam memegang emas, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, meningkatnya ketidakpastian geopolitik global juga turut menopang permintaan emas sebagai aset aman. Namun demikian, penguatan dolar AS masih menjadi faktor pembatas bagi kenaikan harga emas dalam jangka pendek. Indeks Dolar AS tercatat menguat ke level 99,15, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru mengalami penurunan ke sekitar 4,17 persen. Pelaku pasar kini menantikan rilis data Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen AS sebagai acuan tambahan terkait arah kebijakan suku bunga. Secara keseluruhan, Andy Nugraha menilai prospek pergerakan emas hari ini masih cenderung positif dengan peluang mempertahankan tren bullish.
IHK Kabupaten Bengkalis Naik di Rakor Pengendalian Inflasi Minggu Kedua April 2025
Kabupaten Bengkalis, katakabar.com - Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Bengkalis melalui Asisten I Bupati Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Andris Wasono didampingi Pelaksana Tugas atau Plt Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, H. Khairi Fahrizal ikuti rapat koordinasi pengendalian inflasi dari ruang rapat Hang Jebat kantor Bupati Bengkalis, Senin (14/4). Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri atau Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir, yang pimpin rapat secara zoom meeting. Pada paparannya, penyumbang utama Indeks Perkembangan Harga atau IPH menurut wilayah, yakni Pulau Jawa cabe rawit, bawang merah, dan daging sedang di luar Pulau Jawa cabe merah, cabe rawit, dan beras. Lalu, ada 25 provinsi yang mengalami IPH tertinggi salah satunya Provinsi Riau, adapun penyumbang utama kenaikan IPH dimasing-masing daerah tersebut cabe merah, dan bawang merah. Selain itu, Ada tiga bahan pokok makanan yang mengalami harga tidak aman yang harus diwaspadai pada minggu kedua April 2025, yakni cabe rawit merah, daging sapi dan minyak goreng atau minyak kita.
Rakor Pengendalian Inflasi, Wabup Bengkalis: IPH Bengkalis Masih Diangka Stabil
Bengkalis, katakabar.com - Wakil Bupati Bengkalis, H. Bagus Santoso pantau dan ikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama Mendagri, Tito Karnavian secara zoom zeeting, dari ruang rapat Hang Jebat Kantor Bupati Bengkalis, Senin (24/3) kemarin. Rakor tersebut diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai inflasi. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Wini menjabarkan, ada beberapa kota yang inflasinya relatif tinggi salah satunya yaitu kota Medan yang mengalami inflasi sebesar 0.73 persen dengan penyumbang utamanya ayam ras dan cabe padang. Untuk penyumbang utama Indeks Perkembangan Harga (IPH) menurut wilayah, kata Wini, di Pulau Sumatera yaitu ayam ras dan bawang merah sedangkan di Pulau Jawa yaitu cabe rawit dan bawang merah, sedang wilayah di luar Sumatera dan Jawa yakni cabe rawit dan telor ayam ras yang mengalami kenaikan inflasi sebesar 10.56 persen. Lalu, paparan Kementerian Pertanian menyampaikan ada 60 Kabupaten dengan luas panen padi tertinggi di bulan Maret dan April 2025 yang tempat penyimpanannya sudah overload. Menteri Pertanian menjelaskan, menjelang Idul Fitri diharapkan kepada pihak-pihak terkait untuk melakukan sidak pada beberapa bahan kebutuhan pokok, terutama pada takaran atau ukuran minyak goreng harus diperhatikan, sehingga tidak ada lagi minyak goreng yang oplosan. Begitu pula, untuk kadaluarsa (expired) harus diperhatikan. Sementara data Tim Andil Inflasi Kabupaten Bengkalis menunjukkan, Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Minggu ketiga Maret 2025 masih sama dengan Minggu pertama Maret 2025, ini artinya masih diangka stabil.
Rakor Bersama Mendagri, Pemkab Langkat Dorong Pengendalian Inflasi dan Sertifikasi Halal Ser
angkat, Katakabar.com - Pemerintah Kabupaten Langkat terus berkomitmen dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Bupati Langkat, H. Syah Afandin, SH, melalui Wak...
Harga Kelapa Sawit Melonjak Pengaruhi Inflasi di Beltim
Manggar, katakabar.com - Badan Pusat Statistik atau BPS Kabupaten Belitung Timur atau Beltim, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, resmi rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK)/Inflasi Desember 2024. Di kegiatan ini Pelaksana Tugas atau Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Beltim, Zikril hadir. Kepala BPS Beltim, Dwi Widiyanto menjelaskan, pada Desember 2024 ini Kabupaten Beltim mengalami inflasi disebabkan kenaikan harga sejumlah barang. “Pada Desember 2024 terjadi inflasi tahunan atau year on year (YoY) di Kabupaten Belitung Timur sebesar 1,38 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,40,” ujar Dwi, lewat rilis Diskominfo SP Beltim, dilansir dari laman EMG, Sabtu (4/1). Inflasi YoY di Kabupaten Beltim terjadi, kata Dwi, lantaran terjadi kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya indeks di beberapa kelompok pengeluaran. Misalnya, kelompok pendidikan sebesar 15,31 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,76 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,90 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,78 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,15 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,96 persen.
Kebijakan The Fed Sukses Lawan Inflasi, Pemangkasan Suku Bunga Jadi Opsi
Jakarta, katakabar.com - Komite Pasar Terbuka Federal, atau FOMC, telah gelar rapat di awal November 2024 lalu. Di rapat tersebut diputuskan pemangkasan suku bunga acuan di AS sebesar 25 bps, menjadi 4,75 persen. Kebijakan ini sesuai dengan harapan pelaku pasar yang ingin suku bunga berada di level yang lebih bersahabat sejak kebijakan suku bunga tinggi ini bertahan selama lebih dari 1 tahun. Maka di konferensi pers setelah pertemuan FOMC ini, Jerome Powell menegaskan, jika proses penurunan suku bunga langkah awal yang tepat dan perlu diambil guna mengkalibrasi ulang kebijakan moneter mengingat kondisi ekonomi yang terus berkembang. Artinya komponen makro ekonomi saat ini menunjukan tanda-tanda perbaikan dibandingkan 2 tahun yang lalu ketika kebijakan suku bunga tinggi diambil. The Fed menilai inflasi sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan dan menuju ke angka target inflasi The Fed yakni 2 persen. The Fed menggarisbawahi risiko bakal timbul jika suku bunga ditahan lebih lama. The Fed terlihat ingin menyeimbangkan stabilitas harga, penyerapan dan pertumbuhan gaji tenaga kerja dengan kebijakan moneter AS.