Kedubes India
Sorotan terbaru dari Tag # Kedubes India
IndCham dan Kedubes India Dorong Kepemimpinan Perempuan di Indonesia
Jakarta, katakabar.com - IndCham bekerja sama dengan Kedutaan Besar India di Jakarta gelar forum diskusi Hari Kartini 2026 di Wayang Auditorium, Kedutaan Besar India, Jakarta, Senin (20/4) lalu. Angkat tema “Celebrating Women Thought Leaders”, acara ini menghadirkan sejumlah tokoh perempuan lintas sektor untuk membahas kepemimpinan, kesetaraan, dan masa depan perempuan di tengah perubahan global. Forum ini tidak hanya menjadi ruang refleksi atas warisan R.A. Kartini, tetapi menegaskan peran perempuan sebagai penggerak utama dalam pembangunan ekonomi, kesehatan, hingga teknologi di Indonesia. Acara dibuka oleh Joint Secretary IndCham, Bipin Mishra, yang menekankan perempuan saat ini tidak lagi sekedar menjadi bagian dari kemajuan, tetapi telah berada di garis depan sebagai pemimpin perubahan. “Hari ini adalah tentang perempuan yang bukan hanya menjadi bagian dari kemajuan, tetapi juga memimpin kemajuan itu sendiri,” ujarnya. Sambutan resmi kemudian disampaikan Malvika Priyadarshani dari Kedutaan Besar India di Jakarta yang mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan Kartini, terutama dalam hal pendidikan dan kesetaraan. Ia menegaskan pemikiran Kartini tetap relevan hingga saat ini. “Di jantung perjuangan Kartini adalah keyakinan sederhana namun kuat bahwa perempuan berhak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi,” jelasnya. Malvika juga mengingatkan perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai dan membutuhkan keberanian untuk terus mempertanyakan norma serta bertindak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Panel pertama menghadirkan Gita Sabharwal sebagai United Nations Resident Coordinator Indonesia dan Leona A. Karnali sebagai CEO Primaya Hospital, yang dimoderatori oleh Aasthaa Maheshwari. Pada diskusi tersebut, Gita menekankan kehadiran perempuan dalam ruang pengambilan keputusan membawa perspektif yang berbeda dan berdampak nyata terhadap keberlanjutan kebijakan. “Ketika perempuan dilibatkan dalam proses penyelesaian konflik, hasilnya cenderung lebih bertahan dan tidak mudah runtuh,” ucapnya. Ia menyoroti Indonesia telah mengalami kemajuan signifikan dalam pemberdayaan perempuan, namun masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam hal keterwakilan di posisi strategis. “Ini bukan soal kurangnya talenta, karena talenta perempuan di Indonesia sangat banyak. Tantangannya ada pada faktor sistemik yang masih menjadi hambatan,” kupasnya. Sementara, Leona menekankan pentingnya kolaborasi lintas gender dalam membangun sistem kesehatan yang lebih baik dan inklusif. “Kita semua bekerja untuk satu tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas layanan kesehatan,” tuturnya. Ia juga membagikan prinsip kepemimpinan yang ia pegang dalam membangun tim. “Cintai diri sendiri, cintai tim, dan cintai pekerjaan,” imbuhnya. Peran Laki-laki Dorong Kesetaraan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menyoroti aspek yang sering luput dalam diskusi kesetaraan gender, yakni peran laki-laki sebagai bagian dari solusi. Ia menegaskan perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada perempuan. “Kalau kondisi perempuan ingin menjadi lebih baik, maka laki-laki juga harus berubah dan menciptakan ruang serta peluang,” ulasnya. Ia juga berbagi refleksi personal sebagai seorang ayah dari dua anak perempuan yang menghadapi tantangan di dunia kerja. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka pemahamannya terhadap realitas yang dihadapi perempuan di lingkungan profesional. Ia lantas mengangkat contoh sejarah dari India, yakni sosok reformis sosial Maharshi Karve, yang berani menentang norma sosial pada masanya untuk memperjuangkan pendidikan dan hak perempuan. “Perubahan nyata terjadi ketika ada keberanian untuk bertindak, bahkan ketika harus menghadapi tekanan sosial,” sebutnya, merujuk pada perjuangan tokoh tersebut. Lalu Sandeep menegaskan kesetaraan gender membutuhkan perubahan pola pikir yang lebih luas di masyarakat. “Kesetaraan tidak akan tercapai jika hanya perempuan yang bergerak. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk laki-laki dalam posisi kepemimpinan,” terangnya. Perempuan dalam Media, Teknologi dan Ekonomi Kreatif Panel kedua menghadirkan Svida Alisjahbana, CEO GCM Group sekaligus Chair Jakarta Fashion Week, serta Catherine Hindra Sutjahyo sebagai Commissioner GoTo Group, dengan moderator Aparna Saxena. Diskusi ini menyoroti perjalanan karier, kepemimpinan, serta tantangan perempuan dalam sektor yang terus berkembang, khususnya media dan teknologi. Catherine menekankan pentingnya keberanian untuk terus berkembang di tengah perubahan yang cepat, terutama dengan hadirnya teknologi baru. “Ketika kita mulai merasa nyaman, mungkin justru itu saatnya untuk menaikkan standar dan keluar dari zona nyaman,” katanya. Ia menekankan kesetaraan tidak berarti menyeragamkan peran antara laki-laki dan perempuan. “Setara tidak berarti harus sama, justru perbedaan itu yang menjadi kekuatan dalam kepemimpinan,” ujarnya lagi. Sementara, Svita menyoroti pentingnya kesiapan menangkap peluang sebagai kunci kesuksesan. “Keberuntungan itu terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan,” imbuhnya. Ia juga menekankan perempuan perlu terus membangun ekosistem yang saling mendukung agar dapat berkembang secara berkelanjutan di berbagai sektor. Diskusi sepanjang acara menegaskan semangat Kartini tetap relevan dalam konteks modern, terutama dalam mendorong perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan di berbagai bidang. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, forum ini menyoroti bahwa perjalanan menuju kesetaraan masih panjang dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan
Jakarta, katakabar.com - Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono di Jakarta, Kamis (16/4) lalu. Pertemuan tersebut dilakukan demi mendorong kerja sama impor pupuk urea dari Indonesia guna mengamankan pasokan pupuk bagi musim tanam India mendatang melalui skema antar pemerintah di tengah dinamika global rantai pasok pertanian. Langkah ini menegaskan pendekatan aktif India dalam memperluas sumber pasokan pupuk strategis, sekaligus mencerminkan meningkatnya peran Indonesia sebagai mitra potensial dalam menjaga stabilitas pangan kawasan dan global. Dorongan dari pihak Kedutaan India juga memperlihatkan bahwa isu pupuk kini tidak lagi sekadar persoalan teknis pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari diplomasi ekonomi dan ketahanan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga energi global, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik telah mempengaruhi ketersediaan pupuk di berbagai negara, termasuk India yang memiliki kebutuhan sangat besar untuk menopang sektor pertaniannya. Kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian nasional. Fokus pembahasan tidak hanya terbatas pada perdagangan pupuk, tetapi juga mencakup isu yang lebih luas seperti ketahanan pangan dan ketersediaan sarana produksi. “Diskusi yang komprehensif dan produktif bersama Pak Sudaryono mengenai kerja sama pertanian bilateral termasuk ketahanan pangan dan ketersediaan input (sarana produksi),” ujar Dubes Sandeep. Ia menegaskan India melihat Indonesia sebagai mitra yang kredibel dalam menjawab kebutuhan pupuk, khususnya urea, yang menjadi komponen penting dalam mendukung produktivitas pertanian. “Pak Sudaryono telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah,” jelasnya. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan India tidak hanya mencari pemasok, tetapi juga mengedepankan model kerja sama yang stabil, terukur, dan berbasis kesepahaman antar pemerintah. Skema seperti ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko volatilitas pasar global yang sering kali berdampak pada harga dan ketersediaan pupuk. Indonesia Buka Peluang Tetap Prioritaskan Domestik Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyambut positif minat tersebut, dengan tetap menegaskan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan ekspor. Sudaryono menyampaikan bahwa pembahasan ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi tanpa mengorbankan kebutuhan nasional. “Hari ini kami mendiskusikan salah satu topik utamanya adalah bagaimana India itu kemudian bisa mengamankan kebutuhan pasokan ureanya yang salah satu sumbernya adalah berasal dari Indonesia,” kata Sudaryono. Indonesia saat ini memiliki potensi surplus produksi urea sekitar 1,5 juta ton. Tetapi, ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi secara optimal guna menjaga stabilitas produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional. Pendekatan ini mencerminkan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara peluang ekonomi dari ekspor dan tanggung jawab menjaga pasokan domestik. Pada konteks ini, pupuk menjadi komoditas strategis yang tidak bisa diperlakukan semata-mata sebagai barang dagangan biasa. Kerja sama ini juga diperkuat oleh faktor teknis yang menguntungkan kedua negara, yakni perbedaan siklus musim tanam. India memasuki periode tanam utama pada Juli hingga September, sementara Indonesia berada dalam fase aktivitas yang relatif lebih rendah. Perbedaan ini memberikan fleksibilitas dalam pengaturan distribusi pupuk, sehingga Indonesia dapat mengalokasikan sebagian produksinya untuk ekspor tanpa mengganggu kebutuhan petani dalam negeri. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kerja sama ini dinilai realistis untuk direalisasikan dalam waktu dekat. Selain itu, momentum ini juga memperlihatkan bagaimana koordinasi lintas negara dalam sektor pertanian dapat menghasilkan solusi yang saling menguntungkan, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Industri Pupuk Nasional Siap Tetapi Selektif Kesiapan Indonesia turut didukung oleh kapasitas produksi yang kuat. Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company, Rahmad Pribadi, menegaskan ekspor akan tetap dilakukan secara terukur dan mengikuti siklus pertanian nasional. “Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” ulas Rahmad. Ia memastikan stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman. “Saat ini (stok pupuk) 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK. Jadi sangat cukup,” imbuhnya. Dengan kapasitas produksi yang mencapai puluhan juta ton per tahun, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memainkan peran lebih besar di pasar global. Tetapi, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama agar tidak terjadi gangguan pada distribusi dalam negeri. Diplomasi Pertanian dan Peran Global Indonesia Dorongan dari Kedutaan India ini mencerminkan penguatan diplomasi berbasis pangan di tengah tekanan global terhadap rantai pasok pupuk. Kebutuhan pupuk yang tinggi, ditambah dengan ketidakpastian pasokan global, membuat negara-negara mulai mencari mitra yang stabil dan dapat diandalkan. Bagi India, Indonesia menawarkan kombinasi antara kapasitas produksi, kedekatan geografis, dan hubungan bilateral yang kuat. Sedang, bagi Indonesia, kerja sama ini membuka peluang untuk memperluas pengaruhnya dalam isu ketahanan pangan global. Lebih jauh, langkah ini juga memperlihatkan transformasi peran Indonesia dari sekadar produsen domestik menjadi aktor strategis dalam ekosistem pangan dunia. Dengan pengelolaan yang tepat, kerja sama seperti ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi internasional berbasis sektor riil.
Mahkamah Agung Menangkan Kasasi, Penundaan PBG Kedubes India Dicabut
Jakarta, katakabar.com - Mahkamah Agung atau MA kabulkan permohonan kasasi Kedutaan Besar India di Jakarta atas sengketa penundaan Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG untuk proyek renovasi dan perluasan kompleks kedutaan. Keputusan ini membatalkan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN, dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara atau PTTUN.Jakarta yang sebelumnya memenangkan pihak penggugat. Kuasa hukum Kedubes India, Dr. Syaiful Ma'arif sampaikan apresiasi terhadap putusan tersebut, yang dinilai selaras dengan hukum nasional dan ketentuan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik. Ia menekankan, konvensi tersebut menjamin kekebalan diplomatik dan perlindungan penuh terhadap properti misi diplomatik di negara penerima. “Bangunan misi diplomatik tidak dapat menjadi objek gugatan pidana, perdata, maupun administrasi di negara tuan rumah, karena memiliki imunitas,” ujar Syaiful di Surabaya. Menurutnya, proyek Kedubes India telah memenuhi semua prosedur, termasuk perolehan PBG, analisis dampak lingkungan atau AMDAL, izin lingkungan, sosialisasi, dan dukungan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI. Ia juga menilai pertimbangan hukum dalam putusan PTUN Nomor 93/G/2024/PTUN.JKT dan PTTUN Nomor 455/B/2024/PT.TUN.JKT kurang tepat, terutama karena merujuk pada Undang-Undang Ibu Kota Negara atau IKN.yang implementasinya masih belum pasti. “Pasal 21 Undang Undang IKN menyebutkan pemindahan kantor perwakilan negara asing dilakukan secara bertahap mengikuti Rencana Induk, menyesuaikan kemampuan masing-masing, dan diatur melalui Peraturan Presiden. Sampai hari ini, rencana tersebut belum memiliki kejelasan,” jelasnya. Di putusan Nomor 332 K/TUN/2025 yang ditetapkan pada 11 Agustus 2025, MA menyatakan menerima kasasi, membatalkan putusan pengadilan sebelumnya, dan menolak gugatan terhadap Kedubes India. Amar putusan tersebut secara otomatis menghapus penetapan penundaan PBG.
Kedubes India dan India News Desk Luncurkan Program “Voices of Tomorrow” JMI
• Gender Reporting • Strategic Studies • TV Journalism • Environment Reporting • Political Reporting • Business Case Study Session: Analisis kasus nyata dunia bisnis dan media. • Leaders Speak: Wawancara langsung dengan pemimpin bisnis dan media. Pembicara dan Mentor Terkemuka: Program ini menghadirkan lebih dari 21 tokoh jurnalisme dan diplomasi dari kedua negara, termasuk: