Kehilangan

Sorotan terbaru dari Tag # Kehilangan

ETF Bitcoin Kehilangan Miliaran Dolar: BI Naikkan Suku Bunga dan Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar Ekonomi
Ekonomi
4 jam yang lalu

ETF Bitcoin Kehilangan Miliaran Dolar: BI Naikkan Suku Bunga dan Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset digital dan pasar keuangan global memasuki periode volatilitas lebih tinggi di pekan kedua Juni 2026. Tekanan berasal dari keluarnya arus dana besar dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat, pelemahan harga Bitcoin dan Ethereum, serta meningkatnya kehati-hatian investor akibat dinamika ekonomi global dan domestik. Market Outlook FLOQ di minggu kedua bulan Juni 2026, mencatat arus keluar dana dari ETF Bitcoin menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Sejak pertengahan Mei, ETF Bitcoin AS tercatat mengalami outflow sekitar US$4,4 miliar atau setara lebih dari 59.000 BTC dalam periode 13 hari perdagangan berturut-turut. Kondisi tersebut turut menekan harga Bitcoin yang sempat bergerak di bawah level psikologis US$60.000 sebelum kembali menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Harga BTC per hari ini berada di kisaran US$66.000 dengan kapitalisasi pasar (market cap) sekitar US$1,3 triliun. Sementara, Ethereum juga mengalami koreksi meskipun aktivitas fundamental di dalam ekosistemnya masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. "Pasar saat ini sedang berada dalam fase yang sangat dipengaruhi oleh sentimen makro dan arus dana institusi. Namun menariknya, di tengah tekanan harga, indikator fundamental seperti pertumbuhan staking Ethereum dan aktivitas akumulasi institusi masih menunjukkan tren yang positif," ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ. Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah langkah perusahaan Strategy yang sempat menjual 32 BTC pada awal Juni. Meski jumlah tersebut relatif kecil dibanding total kepemilikan mereka, pasar sempat merespons negatif karena dianggap bertentangan dengan strategi akumulasi jangka panjang yang selama ini identik dengan perusahaan tersebut. Tetapi sentimen tersebut berbalik setelah Strategy kembali melakukan pembelian sekitar 1.550 BTC senilai lebih dari US$100 juta hanya beberapa hari kemudian. "Aksi Strategy menunjukkan bahwa investor institusi masih aktif memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi. Ini menjadi pengingat bahwa pergerakan jangka pendek sering kali dipengaruhi oleh headline, sementara keputusan investasi institusi umumnya tetap berorientasi jangka panjang," jelasnya. Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar. Langkah Bank Indonesia memberikan dampak langsung terhadap sentimen pasar domestik. Setelah sempat mengalami tekanan tajam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan terbatas pasca pengumuman kenaikan suku bunga. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah investasi ke depan, termasuk perkembangan geopolitik global, arah kebijakan moneter negara-negara besar, serta pergerakan arus modal internasional. Para investor perlu memperhatikan bahwa pergerakan aset digital saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan industri blockchain, tetapi juga oleh faktor ekonomi makro yang lebih luas seperti inflasi, suku bunga, dan aliran modal global. Bagi investor pemula, pendekatan akumulasi bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dinilai tetap relevan dalam menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif. Sementara bagi trader, disiplin manajemen risiko menjadi faktor penting mengingat pasar masih bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan berita dan sentimen. Di sisi lain, investor jangka panjang dinilai masih dapat melihat perkembangan positif dari sisi fundamental industri. Pertumbuhan staking Ethereum yang mencapai rekor baru serta aktivitas akumulasi oleh sejumlah institusi besar menunjukkan bahwa adopsi aset digital dan teknologi blockchain terus berkembang meskipun pasar sedang mengalami fase konsolidasi. "Volatilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pasar. Yang terpenting bagi investor adalah memahami risiko, menjaga disiplin strategi, dan tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang," terang Yudho.

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:49 WIB

Ketika Aset Jadi Solusi: Cara Anyar Hadapi Kebutuhan Dana Tanpa Kehilangan Kepemilikan

Jakarta, katakabar.com - Pembiayaan berbasis aset bukan berarti tanpa risiko, tetapi dapat menjadi alternatif lebih terukur dibandingkan dengan menjual aset secara terburu-buru atau mengambil pinjaman dengan beban jangka panjang. Di tengah dinamika ekonomi yang semakin tidak menentu, kebutuhan akan likuiditas kerap datang di saat tidak terduga. Tidak sedikit masyarakat yang menghadapi dilema klasik, membutuhkan dana cepat, tetapi tidak ingin kehilangan aset yang telah dimiliki bertahun-tahun. Situasi ini sering kali berujung pada keputusan menjual barang berharga, sebuah langkah yang dalam banyak kasus justru menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Hal tersebut dialami R, seorang profesional di Jakarta yang sempat berada dalam tekanan keuangan akibat kebutuhan mendesak. Di tengah keterbatasan waktu dan pilihan, ia mengaku sempat mempertimbangkan untuk menjual jam tangan mewah yang selama ini menjadi bagian dari koleksinya. “Waktu itu saya hanya melihat dua opsi, jual atau pinjam. Dan jujur saja, dua-duanya terasa berat,” ujarnya. Tetapi, keputusan tersebut tidak jadi diambil setelah ia menemukan alternatif lain yang sebelumnya tidak pernah ia pertimbangkan. Alih-alih menjual aset, R memilih untuk memanfaatkan nilai dari barang yang dimilikinya tanpa harus kehilangan kepemilikan. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai pembiayaan berbasis aset, kini mulai mendapat perhatian sebagai solusi keuangan jangka pendek yang lebih fleksibel. Dalam praktiknya, skema ini memungkinkan seseorang untuk memperoleh dana tunai dengan menjaminkan aset bernilai, mulai dari jam tangan mewah, tas branded, hingga kendaraan seperti mobil dan motor. Berbeda dengan penjualan, kepemilikan atas aset tersebut tetap berada pada pemiliknya, dengan opsi untuk menebus kembali dalam jangka waktu tertentu. Fenomena ini sejalan dengan perubahan cara pandang masyarakat terhadap aset. Jika sebelumnya aset lebih banyak dipandang sebagai simbol atau barang konsumsi, kini semakin banyak yang melihatnya sebagai instrumen finansial yang dapat dioptimalkan. Dalam konteks ini, jam tangan mewah misalnya, tidak lagi sekadar aksesori, tetapi juga memiliki nilai likuiditas yang dapat dimanfaatkan saat dibutuhkan. Hal serupa juga terjadi pada tas branded. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar barang mewah menunjukkan tren yang relatif stabil, bahkan untuk beberapa merek tertentu cenderung mengalami peningkatan nilai. Kondisi ini menjadikan tas sebagai salah satu aset yang dapat diandalkan dalam situasi tertentu, tanpa harus dilepas secara permanen. Sementara, kendaraan pribadi seperti mobil dan motor juga menjadi bagian penting dalam skema pembiayaan berbasis aset. Dengan nilai yang cukup signifikan, kendaraan dapat menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan dana dalam jumlah besar, tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari secara drastis. Di Indonesia, layanan seperti yang ditawarkan oleh deGadai mulai hadir dengan pendekatan yang lebih modern dan terstruktur. Perusahaan ini menyediakan fasilitas pembiayaan dengan jaminan aset bernilai, dengan proses yang dirancang untuk memberikan kenyamanan dan transparansi bagi nasabah. Melalui platformnya, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai layanan gadai untuk berbagai jenis aset, termasuk jam tangan, tas, hingga kendaraan. Sebagai contoh, untuk aset berupa tas branded, layanan dapat diakses melalui https://degadai.com/gadaitas, sementara untuk jam tangan mewah tersedia di https://degadai.com/gadaijamtangan. Adapun kendaraan seperti mobil juga dapat dimanfaatkan melalui skema serupa di https://degadai.com/gadaimobil. Seluruh proses dirancang untuk memberikan alternatif likuiditas tanpa harus mengorbankan kepemilikan aset. Pengamat keuangan menilai tren ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pengelolaan keuangan pribadi. “Masyarakat mulai memahami bahwa aset tidak hanya untuk dimiliki, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara strategis. Ini merupakan langkah positif dalam meningkatkan literasi finansial,” ujar salah satu analis keuangan yang enggan disebutkan namanya. Ia mengingatkan setiap keputusan finansial tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pembiayaan berbasis aset bukan berarti tanpa risiko, tetapi dapat menjadi alternatif yang lebih terukur dibandingkan dengan menjual aset secara terburu-buru atau mengambil pinjaman dengan beban jangka panjang. Bagi R, keputusan untuk tidak menjual asetnya menjadi titik balik dalam cara ia mengelola keuangan. “Yang berubah bukan hanya solusi yang saya pilih, tapi cara saya melihat aset itu sendiri. Sekarang saya tahu, aset itu bukan hanya untuk disimpan, tapi juga bisa membantu di saat dibutuhkan,” ucapnya. Di tengah berbagai pilihan yang tersedia, kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan aset secara tepat menjadi semakin penting.

Selamat Jalan, Susi Opini
Opini
Minggu, 28 Januari 2024 | 15:31 WIB

Selamat Jalan, Susi

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - 'Dunia jurnalistik kota Duri kehilangan wartawati terbaiknya'. Berat menulis obituari tentang seorang sahabat yang mendadak pergi, dan tak kembali. Kabar meninggalnya Kak Susi, di RSUD Mandau mengagetkan, pada Sabtu (27/1). Saya mendapat kabar, dari ucapan bela sungkawa rekan-rekan di facebook. Tak menyangka. Percaya dan tidak percaya. Meski tidak duduk bersama, terakhir jumpa di Kafe Kopitiam, Jalan Kayangan, Duri. Masih segar dalam ingatan, dulu sekali, di mana ada Susi, di situ ada Faisal, sama-sama dari harian Riau Mandiri, milik Basko. Dua wartawan yang getol menaikkan berita perjuangan "Mandau Kabupaten". Narasumber andalannya, Darna, anggota DPRD Bengkalis, pasca reformasi. Lika-liku memburu berita dengan fasilitas terbatas, menulis dengan tangan, masih pakai faksimile, lalu era warnet. Sering nongkrong di Piaman Laweh, seberang toko buku Parker. Tak hanya Susi, dulu ada Sukri, Faisal, Ely, Kenny. Saya hanya penggembira yang suka dunia media. Meski saya biasa mensuplai informasi strategis, langsung ke Amerika. Setelah Susi aktif di media online Riau Lantang, sejak tahun 2014, saya sudah kehilangan kontak. Jejak bersama di RM Piaman Laweh, warnet jalan karet, kantin belakang kantor camat, Ajobirin, kini tinggal kenangan. Di navigate site riaulantang.com, namanya masih ada sebagai pemimpin redaksi. Tapi, tak ada satupun saya baca berita atau ucapan dukacita di sana. Susi Yanti, anggota PWI pemilik generasi adagium, "pena lebih tajam dari pedang itu" telah pergi ke haribaan. Kembali ke pangkuan-Nya dengan tenang. 'Selamat jalan, Susi'. Kota Duri mengenangmu sebagai wartawati sejati.