Motor Penggerak

Sorotan terbaru dari Tag # Motor Penggerak

Motor Penggerak Roda Ekonomi dan Ketapang Bernama Greenhouse PKK Air Jamban Ekonomi
Ekonomi
3 jam yang lalu

Motor Penggerak Roda Ekonomi dan Ketapang Bernama Greenhouse PKK Air Jamban

Bengkalis, katakabar.com - Sinar matahari menyengat tusuk pori-pori Kelurahan Air Jamban, sebuah bangunan kokoh dengan pelindung khusus tahan panas dan jaring pengaman berdiri anggun. Adalah Greenhouse baru diresmikan di pekan keempat April 2026 lalu, bukan sekadar seremoni pemotongan pita, melainkan simbol runtuhnya keterbatasan lahan yang selama ini membatasi ruang gerak ibu-ibu PKK berinovasi. Bagi Dian Afri Jayanti 42 tahun, Ketua PKK Air Jamban, kehadiran greenhouse ini jawaban atas keresahan yang telah lama ia rasakan. Sebagai penggerak aktif pemberdayaan perempuan, Dian saksikan langsung semangat anggota PKK yang tinggi, tetapi kerap terhambat oleh keterbatasan pekarangan, serta kondisi cuaca yang tidak menentu. “Dulu kami sudah menanam tanaman obat keluarga (TOGA) dan sayuran, tapi masih sangat terbatas. Lahan sempit dan metode konvensional membuat tanaman sering rusak akibat hujan atau panas ekstrem. Hasilnya pun jauh dari optimal,” kenangnya. Sebelum adanya intervensi program, hasil panen kelompok ini hanya berkisar 10–35 ikat sayur per siklus, jumlah yang belum mampu memberikan dampak signifikan, baik untuk konsumsi keluarga maupun nilai ekonomi. Melalui Program Puteri Proklim Melayu Lestari, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) hadir memberikan dukungan komprehensif berupa 1 paket greenhouse berukuran 8 x 12 meter yang dilengkapi sistem pengairan, bibit tanaman hidroponik, serta 1.000 lubang tanam hidroponik. Tetapi, lebih dari sekadar bantuan fisik, transformasi justru terjadi pada pola pikir dan cara kerja kelompok. Dian bersama 30 anggota PKK Air Jamban mulai menerapkan sistem kerja yang terstruktur, membagi peran secara jelas, serta mempelajari teknik hidroponik dari tahap penyemaian hingga perawatan. “Lahan kami memang terbatas, tapi sekarang kami punya harapan yang lebih luas. Greenhouse ini bukan hanya tempat menanam, tapi tempat kami belajar untuk maju bersama,” ujarnya. Lurah Air Jamban, Rifky Ellyaningsih, yang turut hadir di peresmian tersebut, memberikan apresiasi atas kolaborasi antara masyarakat dan PHR. Ia menilai inisiatif ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah padat penduduk. “Kami sangat mengapresiasi dukungan dari PHR Zona Rokan yang telah membantu mewujudkan greenhouse Program Puteri Proklim Melayu Lestari ini. Ini bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan upaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya. Dampak dari program ini mulai menunjukkan potensi yang menjanjikan. Dengan penerapan metode hidroponik di dalam greenhouse, kapasitas produksi diproyeksikan meningkat signifikan, dari sebelumnya 10–35 ikat sayur per siklus menjadi sekitar 100–150 ikat per siklus. Seiring dengan peningkatan tersebut, peluang ekonomi baru pun mulai terbuka, dengan estimasi potensi pendapatan yang dapat mencapai 4 juta rupiah per bulan. Ke depan, greenhouse ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat produksi sayur-mayur, tetapi berkembang sebagai simbol kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Di tengah keterbatasan ruang, para perempuan PKK Air Jamban menunjukkan bahwa inovasi dan kolaborasi dapat menjadi fondasi menuju kesejahteraan yang berkelanjutan. Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menyampaikan kebanggaannya atas capaian kelompok tersebut. Menurutnya, program ini bukan sekadar pembangunan fasilitas, melainkan investasi sosial yang mendorong perubahan berkelanjutan. “Melihat ibu-ibu di sini mampu menaklukkan keterbatasan lahan dan beralih ke teknologi greenhouse adalah sebuah kebanggaan. Kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga mendorong lahirnya kemandirian dan kepercayaan diri masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan 1.000 lubang tanam secara mandiri menjadi bukti nyata transformasi yang terjadi. “Ketika masyarakat mampu mengelola inovasi secara mandiri dan merasakan langsung manfaat ekonominya, di situlah esensi pemberdayaan yang berkelanjutan benar-benar terwujud. Dukungan masyarakat dan para pemangku kepentingan terhadap kelancaran operasional perusahaan juga menjadi kunci dalam menjaga keandalan dan ketahanan energi nasional, di mana PHR berperan sebagai salah satu tulang punggung ketahanan energi sektor migas,” imbuhnya. Kini, bagi Dian dan 30 perempuan tangguh di Air Jamban, greenhouse tersebut bukanlah garis akhir, melainkan titik awal menuju masa depan yang lebih hijau, mandiri, dan sejahtera. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah  Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

PT RPN, Anak Usaha Holding PTPN Motor Penggerak Riset Internasional Industri Karet Default
Default
Kamis, 13 November 2025 | 12:32 WIB

PT RPN, Anak Usaha Holding PTPN Motor Penggerak Riset Internasional Industri Karet

Palembang, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), melalui Pusat Penelitian Karet menegaskan perannya sebagai motor penggerak riset perkebunan nasional di kancah internasional. Bersama International Rubber Research and Development Board (IRRDB), PT RPN menjadi tuan rumah Workshop IRRDB 2025 di Palembang. Forum internasional ini memperkuat sinergi antarnegara produsen karet dunia dalam mendorong inovasi riset, peningkatan produktivitas, dan kesejahteraan petani. Selama tiga hari pelaksanaan, lebih dari seratus peserta dari India, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Thailand membahas solusi komprehensif bagi industri karet alam. Sebanyak 24 makalah ilmiah dipresentasikan, mencakup topik perbaikan tanaman, pengendalian penyakit, hingga strategi pemberdayaan petani. Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Abdul Aziz, S.A., menekankan pentingnya menempatkan petani sebagai pusat perhatian dalam kebijakan industri karet. "Petani adalah tulang punggung industri, namun sering kali dikesampingkan dari diskusi kebijakan. Kita perlu kolaborasi yang lebih menyeluruh," tegasnya. Prof. Dr. Ahmad Ibrahim dari UCSI University aminkan Dr. Abdul. Ia menilai industri karet tengah menghadapi periode tersulit. "Kita butuh kerja sama yang lebih kuat, kompensasi yang adil untuk petani, dan riset yang melihat jauh ke depan," ujarnya. Ia mendorong negara produsen untuk terlibat dengan International Rubber Study Group (IRSG), agar suara produsen karet semakin terdengar di level global. Pakar Ekonomi Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), Dr. Lekshmi Nair, menggeser paradigma industri dengan menyoroti pentingnya efisiensi biaya. "Jangan hanya mengejar harga tinggi, tapi juga cari cara menurunkan biaya produksi," ungkapnya. Ia menambahkan, penyelarasan strategi industri dengan tujuan net-zero emmission dan peluang kredit karbon akan memperkuat pemberdayaan petani serta ketahanan rantai pasokan global. Sementara, Prof (Ris). Ir. Didiek Hadjar Goenadi, IRRDB Fellow, mendorong perhatian pemerintah terhadap sektor karet setara dengan komoditas seperti kelapa sawit. "Kita butuh inovasi dan nilai tambah. Sektor karet juga penting untuk ekonomi," tegasnya. Workshop ini juga menghasilkan sejumlah inisiatif konkret untuk memperkuat industri karet di masa depan. Kepala Pusat Penelitian Karet PT RPN, Dr. Suroso Rahutomo, mengumumkan rencana peluncuran klon IRRI baru yang toleran terhadap penyakit Pestalotiopsis, sebagai bentuk komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan industri. Selain itu, negara-negara anggota IRRDB sepakat melanjutkan Program Pertukaran Klon guna mempercepat pemuliaan tanaman di berbagai wilayah tropis. Forum juga sepakati perlunya kerja sama antarnegara produsen untuk memastikan harga karet yang adil dan berkelanjutan, didukung oleh data biaya produksi yang transparan. Peserta menekankan pemerintah memiliki peran penting dalam meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri, seperti melalui penerapan aspal berkaret dan bantalan seismik, guna memperkuat permintaan domestik dan menjaga stabilitas harga bagi petani. “Workshop ini menandai babak baru kolaborasi antara lembaga riset, universitas, dan pelaku industri. Saya optimistis kita dapat membawa industri karet menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan menyejahterakan, terutama bagi para petani,” tutur Abdul Aziz.