Pemicu

Sorotan terbaru dari Tag # Pemicu

Emas Berpotensi Melonjak ke 4.740, Ini Pemicunya Internasional
Internasional
4 jam yang lalu

Emas Berpotensi Melonjak ke 4.740, Ini Pemicunya

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia di perdagangan Rabu (6/5) diperkirakan memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan, didorong oleh kombinasi sinyal teknikal yang semakin solid serta dukungan dari faktor fundamental global.  Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai pergerakan XAU/USD pada timeframe harian mulai memperlihatkan tanda-tanda pembalikan arah setelah sebelumnya mengalami tekanan. Secara teknikal, ujarnya, harga emas berhasil membentuk titik terendah baru atau swing low yang valid di area support kuat di level 4.523. Level ini menjadi area penting yang menahan penurunan harga dan menandai berakhirnya tekanan bearish dalam jangka pendek. "Ketika harga mampu bertahan di atas level tersebut, hal ini sering diartikan sebagai sinyal awal perubahan arah tren dari turun menjadi naik," ucapnya. Menurut Kofit, penguatan sinyal tersebut juga terlihat dari terbentuknya candlestick bullish marubozu. Pola ini menunjukkan dominasi pembeli yang cukup kuat dalam satu periode perdagangan, di mana harga bergerak naik tanpa tekanan jual yang signifikan. Kondisi ini mengindikasikan minat beli mulai meningkat dan berpotensi mendorong harga lebih tinggi. Selain itu, tutur Kofit, pola double bottom yang terbentuk semakin memperkuat indikasi pembalikan tren. Pola ini merupakan salah satu formasi teknikal yang sering digunakan untuk mengidentifikasi potensi kenaikan setelah fase penurunan. Dengan adanya pola ini, peluang bagi harga emas untuk melanjutkan kenaikan menjadi semakin besar. "Dari sisi indikator, stochastic juga memberikan konfirmasi tambahan. Pergerakan indikator yang mulai naik setelah keluar dari area oversold menunjukkan bahwa tekanan jual telah mereda dan momentum kenaikan mulai terbentuk. Hal ini memperkuat pandangan bahwa harga emas memiliki potensi untuk bergerak lebih tinggi dalam waktu dekat," ulasnya. Berdasarkan kondisi tersebut, lanjut Kofit, harga emas diperkirakan akan bergerak menuju area resistance terdekat di level 4.660. Jika momentum penguatan tetap terjaga, maka peluang kenaikan lanjutan menuju level 4.740 semakin terbuka. Level tersebut menjadi target berikutnya yang akan diuji oleh pasar dalam jangka menengah. "Pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan harga di area resistance. Kenaikan yang terjadi tetap memerlukan dukungan volume dan sentimen pasar agar dapat berlanjut secara konsisten," tegasnya. Dari sisi fundamental, imbuhnya, prospek penguatan emas juga didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Ketidakpastian ekonomi global, mulai dari risiko perlambatan pertumbuhan hingga ketegangan geopolitik, membuat investor cenderung mencari instrumen yang lebih aman, seperti emas. Selain itu, kupasnya lagi, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve yang mulai mengarah ke arah yang lebih longgar turut menjadi faktor penting. Pelaku pasar mulai memperkirakan adanya kemungkinan pelonggaran kebijakan atau bahkan penurunan suku bunga dalam jangka menengah. Kondisi ini biasanya memberikan dorongan bagi harga emas. "Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung lebih menarik ketika suku bunga riil menurun. Dalam situasi tersebut, selisih keuntungan antara emas dan instrumen berbasis bunga menjadi lebih kecil, sehingga meningkatkan minat investor," terangnya. Faktor lain yang turut mendukung adalah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cenderung stabil atau menurun. Ketika yield tidak mengalami kenaikan, biaya peluang dalam memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga mendorong permintaan. Secara keseluruhan, kombinasi antara sinyal teknikal yang kuat dan dukungan faktor fundamental memberikan gambaran bahwa harga emas masih memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan. Selama harga mampu bertahan di atas area support penting, peluang menuju level 4.660 hingga 4.740 tetap terbuka. Ia mengingatka pelaku pasar tetap disarankan untuk memperhatikan dinamika global yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga. Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi.

Simak! Ini Pemicu Harga TBS Kelapa Sawit Melonjak Tinggi Sawit
Sawit
Minggu, 05 April 2026 | 21:11 WIB

Simak! Ini Pemicu Harga TBS Kelapa Sawit Melonjak Tinggi

Pekanbaru, katakabar.com - Saat ini, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah daerah Indonesia tengah mengalami lonjakan signifikan, bahkan tembus kisaran Rp4.000 per kilogram. Banyak indikator dinilai menjadi penyebab meroketnya harga sawit nasional ini, salah satunya yakni pengaruh cuaca ekstrim dan ketegangan politik global. Pengamat Ekonomi Universitas Riau (Unri), Dahlan Tampubolon, mengatakan faktor cuaca yang enggak menentu bikin produksi di beberapa sentra kelapa sawit enggak sebanyak biasanya. Begitu barang di pasar tidak sebanyak permintaan, otomatis hukum ekonomi jalan yakni harga melambung tinggi. "Jadi, meskibaru libur Idulfitri, kalau buah di pohon masih malu-malu keluar, ya harganya makin pedas di timbangan," ujarnya dilanwir dari laman elaeis.co, Minggu (5/4) sore. Dahlan yang tengah sumringah dengan kehadiran putri kecilnya tersebut, menuturkan kalau dikaitkan dengan minyak mentah dunia, poin patennya adalah kelapa sawit merupakan bahan baku utama Biodiesel (B35/B40). Begitu Selat Hormuz diblokade dan harga minyak mentah (crude oil) dunia melonjak gara-gara perang atau ketegangan geopolitik, pasar dunia langsung pusing. Mereka kemudian mulai cari alternatif energi yang lebih murah. Di situlah sawit (CPO) jadi primadona. Harga minyak bumi naik, permintaan biofuel naik, ujung-ujungnya harga TBS di kebun orang tu la yang ikut terkerek naik. "Dikaitkan dengan efek substitusi minyak nabati di pasar dunia. Kelapa sawit bersaing dengan minyak kedelai dari Amerika atau minyak bunga matahari dari Ukraina. Karena kondisi global lagi kacau, pasokan minyak nabati lain itu tersendat atau harganya selangit. Alhasil, pabrik-pabrik di India dan China balik lagi mengejar sawit, karena stoknya paling siap. Jadi, kenaikan harga di Sumbar atau Riau itu sebenarnya efek dari rebutan orang luar negeri sama hasil bumi kita ini," bebernya. Tidak sampai situ, urusan kapal di laut juga dinilai ikut mempengaruhi harga timbangan RAM di pinggir jalan. Karena Selat Hormuz disumbat, rute kapal tanker dunia jadi mutar jauh dan asuransi pengiriman naik berkali-kali lipat. Biaya angkut CPO keluar negeri jadi mahal. Tetapi, lantaran permintaan dunia lagi haus-hausnya dengan minyak nabati, para pembeli global tetap berani bayar mahal. Ini yang bikin harga patokan CPO di bursa Malaysia dan Rotterdam tetap perkasa di papan atas. Data menunjukkan stok minyak sawit di negara importir utama seperti China sedang tidak banyak. Mau gak mau kondisi ini membuat China harus restocking atau isi gudang lagi buat kebutuhan industri mereka pasca-lebaran. "Begitu mereka masuk ke pasar serentak, ya harganya langsung terbakar. Makanya, harga Rp4.000 itu bukan angka gaib, itu angka hasil rebutan pembeli besar yang takut nggak kebagian barang," terangnya. "Pemerintah kita juga lagi main cantik. Kalau kebijakan Domestic Market Obligasi (DMO) diperketat untuk amankan stok minyak goreng dalam negeri, ekspor jadi agak tertahan. Tapi kalau harga dunia sudah terlalu tinggi dibanding harga lokal, tekanan untuk ekspor makin kuat. Selisih harga inilah yang seringkali bikin harga TBS di tingkat petani ikut menyesuaikan secara agresif karena pabrik kelapa sawit (PKS) berebut amankan pasokan buah untuk diolah," sebutnya. Kendati demikian, kondisi harga yang tinggi itu juga dinilai cukup beresiko. Harga sawit sangat bergantung dengan berita perang dan kebijakan ekspor-impor negara besar. Begitu Selat Hormuz dibuka lagi atau ketegangan dunia mereda, harga minyak mentah dunia bisa anjlok. Kalau itu terjadi, daya tarik sawit sebagai bahan bakar alternatif bakal turun, dan harga TBS bisa terjun juga dalam sekejap. "Harga tinggi sekarang ini sebagian besar dipicu oleh rasa takut (fear) pasar dunia akan kekurangan pasokan energi dan pangan. Kalau rasa takut ini hilang, pasar bakal melakukan koreksi harga. Jadi untuk orang itu yang punya kebun, jangan langsung foya-foya beli barang mewah dulu. Gunakan momen Rp4.000 ini buat pupuk kebun yang bagus atau tabungan, karena nggak tau kita kapan angin pasar berubah arah," terangnya. Intinya kupas Dahlan, kenaikan ini adalah perpaduan berkah dari kacaunya geopolitik dunia dan tipisnya stok nabati global. Selama Selat Hormuz masih tegang dan minyak bumi masih mahal, sawit bakal tetap jadi emas hijau yang diburu. Meski begitu, tamba Dahlan, pasar komoditas tidak abadi di puncak. Petani dan pengusaha kelapa sawit harus siap siaga dengan kondisi yang ada.