Program Magnifina Antarkan PHR Naik Podium Raih Penghargaan Platinum ENSIA 2026 Nasional
Nasional
Kemarin

Program Magnifina Antarkan PHR Naik Podium Raih Penghargaan Platinum ENSIA 2026

Jakarta, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) meraih Penghargaan Platinum di ajang Environment and Social Innovation Award (ENSIA) 2026 untuk kategori Inovasi Sosial. Prestasi ini diraih berkat program Magnifina (Model Integrasi Inovasi Perikanan Minas Jaya), sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau. Magnifina adalah program intervensi pada kelompok pembudidaya ikan yang tergabung dalam Gapokkan Minas Bahari Serumpun. Sejak 2025, kegiatan intervensi dilakukan bertahap kepada delapan kelompok pembudidaya ikan. Selain itu, program ini juga memberdayakan kelompok rentan. Tidak hanya berupa bantuan sarana dan pelatihan, PHR mendorong setiap kelompok untuk mengembangkan inovasi terintegrasi. Model integrasi ini kemudian membentuk ekosistem perikanan yang tangguh dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya luar karena persoalan pada satu kelompok dapat menjadi solusi bagi kelompok yang lain. Sejumlah masyarakat yang mendapat manfaat dari program ini antara lain kelompok  pembibitan lele mandiri, kelompok pengolah limbah organik menjadi maggot dan mengembangkan probiotik mandiri, serta kelompok produsen azzola (tumbuhan paku air mengapung berukuran kecil) sebagai pakan alternatif. Azzola diketahui memiliki nutrisi yang cukup baik untuk pakan alternatif ikan dan ternak. Hasil intervensi mulai terlihat melalui peningkatan aktivitas ekonomi kelompok. Sejak penjualan dimulai pada Desember 2025 hingga Juli 2026, pendapatan kelompok tercatat meningkat sebesar 55,95 persen. Dari sisi lingkungan budidaya maggot memanfaatkan sekitar 20 kilogram sampah organik per bulan, sementara budidaya maggot, azolla, ikan rucah lokal, dan probiotik mandiri menghasilkan potensi pengurangan emisi kumulatif sekitar 1,84 ton CO₂e per tahun. “Melalui capaian ini, PHR berkomitmen untuk terus mengarahkan program CID pada penciptaan dampak terukur dan berkelanjutan,” ucap Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faizal. Ia menambahkan, dengan penguatan kapasitas masyarakat, serta terbentuknya sumber penghidupan yang mandiri diharapkan dapat membangun sistem yang memberi manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan. Pada ajang yang dihelat PT Sucofindo di Nusa Dua Bali, Kamis (10/9) lalu, ENSIA 2026 menyediakan empat kategori. Diantaranya Inovasi Lingkungan, Inovasi Sosial, Inovasi Khusus, dan Local Hero Inspiratif. Selain itu, sebanyak 954 paper dari 253 perusahaan berbagai sektor bisnis di Indonesia berpartisipasi. Acara penganugerahan turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol, serta Gubernur Bali Wayan Koster. Kehadiran para pemangku kepentingan menegaskan pentingnya peran dunia usaha dalam menjawab tantangan sosial, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Melalui capaian tersebut, PHR menegaskan bahwa program CID akan terus diarahkan pada penciptaan dampak yang terukur, penguatan kapasitas masyarakat, dan terbentuknya sumber penghidupan yang mampu berjalan secara mandiri. PHR juga berkomitmen mengembangkan inovasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan masyarakat hari ini, tetapi membangun sistem yang dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang. "Sebagai program intervensi PHR, Magnifina memberdayakan delapan kelompok pembudidaya ikan, serta kelompok rentan melalui bantuan, pelatihan, dan dorongan inovasi terintegrasi". Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Vokasi Nonmigas PHR: Nyalakan Asa Generasi Muda Riau Lewat Teknisi AC Riau
Riau
Kamis, 03 September 2026 | 13:08 WIB

Vokasi Nonmigas PHR: Nyalakan Asa Generasi Muda Riau Lewat Teknisi AC

Pekanbaru, katakabar com - Almaida Romi, 19 tahun sempat limbung dengan masa depannya selepas tamat sekolah di bangku pondok pesantren, di kampung halamannya, di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Terbesit ingin melanjutkan pendidikan ke bangku perguruan tinggi, tetapi harapan itu pupus karena keterbatasan biaya. Disisi lain, tanpa keterampilan khusus, pemuda ini tidak begitu percaya diri untuk melamar pekerjaan. Beberapa bulan setelah dinyatakan lulus sekolah tahun ajaran 2026, hari-harinya kosong tanpa aktivitas berarti, menganggur, berada dalam bayang-bayang ketidakpastian masa depan. Romi kerap merasa gelisah saat melihat orang tuanya harus berjuang di tengah kesulitan ekonomi keluarga. Terlebih sang ayah yang dulunya menjadi tulang punggung keluarga mengalami sakit usai mengalami kecelakan sepeda motor beberapa tahun silam. Di usianya yang masih muda, ia berharap kesempatan untuk bisa menopang ekonomi keluarganya kembali. "Setelah tamat sekolah saya sempat bingung. Mau kuliah tidak ada biaya, mau kerja belum punya keterampilan. Beruntung, saya dapat informasi pelatihan ini dari media sosial. Begitu dinyatakan lulus seleksi, rasanya seperti diberi jalan terang," cerita Romi mengenang awal perjalanannya. Titik balik itu hadir ketika Romi menemukan sebuah unggahan media sosial tentang Program Vokasi Nonmigas 2026 yang digelar PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Kampar. Romi memberanikan diri mendaftar, mengikuti serangkaian proses seleksi, hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai salah satu peserta Pelatihan Teknisi AC. Kini, Romi tampil lebih percaya diri. Tak sekadar teori, Romi mendapatkan pembekalan komprehensif, praktik perbaikan dan perawatan AC, hingga mengantongi sertifikasi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Tak hanya ilmu, PHR juga membekalinya dengan paket bantuan peralatan teknisi AC yang sangat lengkap, sebagai ‘senjata’ masa depan yang siap ia gunakan untuk langsung terjun membuka usaha mandiri demi membantu perekonomian keluarga. Kisah menarik peserta pelatihan teknisi AC lainnya hadir dari Lisna Sudensari (20). Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia teknisi pendingin, sosok Lisna menyita perhatian. Bagi gadis muda ini, profesi teknisi AC tidak mengenal batasan gender. Sebulan menjalani pelatihan intensif tak sedikit pun menyurutkan langkahnya. Naik turun tangga, memegang mesin steam pembersih bertekanan tinggi, hingga mengukur arus listrik dengan tang ampere telah menjadi ‘makanan’ sehari-hari bagi Lisna saat menguti pelatihan di BLK Bengkalis. Bukannya canggung, ia justru merasa bangga dan tertantang. "Naik turun tangga itu hal biasa. Justru di tengah sedikitnya perempuan yang jadi teknisi AC, ini adalah peluang karir yang besar. Perempuan jadi teknisi AC itu keren!," tutur Lisna. Berbekal sertifikat kompetensi BNSP yang diakui secara nasional, Lisna berencana meniti karir lebih dulu di dunia kerja formal untuk menyerap pengalaman lapangan sebanyak-banyaknya, sebelum kelak mewujudkan mimpinya membangun usaha servis AC milik sendiri. Kisah Romi dan Lisna bagian dari dampak nyata Program Vokasi Nonmigas 2026 yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas teknis dan kemandirian ekonomi masyarakat yang berada di desa-desa Ring 1 wilayah operasional perusahaan. Program ini awalnya di inisiasi tahun 2025 di 1 Kabupaten dengan 19 peserta, lalu diperluas hingga sebanyak 31 peserta terpilih dari 4 Kabupaten: Rokan Hulu, Kampar, Siak, dan Bengkalis telah melalui rangkaian pembekalan intensif. Dimulai dari tahap seleksi bersama BLK di masing-masing kabupaten, pelatihan dasar dan praktik perbaikan, hingga pelaksanaan Uji Kompetensi BNSP. Pengakuan resmi inilah yang menjadi modal berharga bagi para pemuda Riau untuk bersaing secara profesional di dunia kerja maupun menciptakan lapangan kerja baru. Melalui program Community Involvement & Development (CID) ini, PHR tidak hanya menyalurkan energi untuk negeri melalui produksi migas, tetapi juga menyalakan energi kehidupan dan harapan masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda di sekitar wilayah operasinya. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Riau, Roni Rakhmat, menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) atas inisiatif dan inovasinya dalam menyelenggarakan pelatihan vokasi teknisi AC ini. “Kegiatan seperti inilah yang sangat kita butuhkan, karena tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga secara langsung membuka peluang lapangan kerja bagi putra-putri Riau,” ucapnya. Roni berharap agar para peserta yang telah menyelesaikan pelatihan ini dapat mandiri, mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, serta merangkul rekan-rekan lainnya untuk tumbuh bersama. “Ilmu, peralatan, hingga sertifikasi kompetensi resmi kini sudah di tangan Anda. Saat ini, status Anda telah setara dengan para teknisi terlatih berkat sertifikasi. Tinggal bagaimana kemauan dan eksekusi di lapangan akan menjadi kerugian besar jika fasilitas dan keterampilan yang sudah ada  saat ini tidak dimanfaatkan dengan maksimal,” pesannya. Program Pelatihan  Vokasi Nonmigas ditutup dengan talkshow yang mempertemukan perspektif pelaku teknisi AC, dunia industri, pemerintah, dan PHR sebagai penyelenggara program, pada Senin, 31 Agustus 2026 di Pekanbaru.  Melalui gelar wicara ini, peserta diharapkan memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai perjalanan setelah pelatihan, kebutuhan kompetensi di dunia kerja, strategi mengakses peluang kerja maupun usaha, serta langkah yang perlu dilakukan untuk mengubah keterampilan menjadi peluang dan penghasilan. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Program Magang Batch 9 Diluncurkan PHR Perkuat Kapasitas Nasional Riau
Riau
Rabu, 02 September 2026 | 21:35 WIB

Program Magang Batch 9 Diluncurkan PHR Perkuat Kapasitas Nasional

Pekanbaru, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kembali tegaskan komitmen penyerapan talenta lokal melalui Program Magang Kerja Batch 9 yang dihelat di Rumbai Country Club (RCC), Rabu (2/9). Mewakili manajemen PHR, Manager HC Operation & Services, Rizka Kurniawan, secara resmi membuka program pembinaan kompetensi yang dirancang khusus untuk mempercepat kesiapan kerja para lulusan baru (fresh graduate) tersebut. Tingkat antusiasme pelamar terhadap program ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Melalui proses seleksi ketat yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026, PHR menetapkan 122 peserta terbaik. Para peserta ini akan menjalani penugasan mulai 2 September 2026 hingga 28 Februari 2027, dengan sebaran penempatan 98 personel di wilayah operasi Zona Rokan (Riau) dan 24 personel di Kantor Pusat Jakarta. Dalam arahannya, Rizka Kurniawan, menekankan inisiatif ini implementasi langsung dari kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan serta perwujudan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PHR. "Program ini menyediakan kuota khusus bagi putra-putri daerah Riau sebagai bentuk partisipasi aktif perusahaan dalam mendukung target Pembangunan Kapasitas Nasional yang diamanatkan oleh SKK Migas melalui konsep link & match antara dunia pendidikan dan industri," jelasnya. Manajemen PHR turut menginstruksikan penerapan disiplin tingkat tinggi, serta kepatuhan mutlak terhadap aspek keselamatan (HSE) dan prinsip Respectful Workplace. Menyambung komitmen tersebut, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau, Heru Prayitno, SE, M.Si., yang hadir beserta jajaran, menyampaikan apresiasi penuh atas langkah antisipatif PHR. Menghadapi tantangan ketenagakerjaan dengan angka pengangguran yang menyentuh 137.000 jiwa di Riau, program ini dinilai sebagai jembatan kompetensi yang esensial menuju peluang dunia kerja. Heru soroti rekam jejak yang solid selama magang kerap membuka peluang rekrutmen lanjutan, baik di lingkungan PHR maupun perusahaan kontraktor. "Untuk itu, para peserta dituntut untuk senantiasa proaktif, inovatif, dan menempatkan keselamatan kerja sebagai prioritas utama," ucapnya. Agenda peluncuran ini mencerminkan sinergi lintas sektoral yang kuat. Selain perwakilan Disnakertrans Riau, acara ini turut dihadiri Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru, Iwan Simatupang, Koordinator Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, Kunto Purbono, beserta jajaran serta Manager Digital Analytic & Optimization PHR, Hanny Anggaraini selaku perwakilan mentor. Dukungan ekosistem akademis diwakili pimpinan perguruan tinggi di Riau, di antaranya Rektor Unilak - Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., Ph.D, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNRI - Prof. Dr. Hermandra, S.Pd., M.A., Wakil Rektor III UIR - Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Deddy Purnomo Retno, S.T., M.T., GP., A-Utama, Direktur Politeknik Negeri Bengkalis - Ir. Johny Custer, ST, MT dan Direktur Politeknik Caltex Riau yang diwakili oleh Dr. Dadang Syarif Sihabudin Sahid, S.Si., M.Sc. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Fasilitas EPF Libo GS Dioperasikan: PHR Perkuat Keandalan Operasi dan Produksi Migas Riau
Riau
Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:00 WIB

Fasilitas EPF Libo GS Dioperasikan: PHR Perkuat Keandalan Operasi dan Produksi Migas

Kandis, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan resmi mengoperasikan fasilitas penunjang produksi baru berupa Early Production Facility (EPF) di Libo Gathering Station (GS). Langkah strategis ini diresmikan melalui momentum apresiasi usung tema "New Chapter, Greater Production, Brighter Future Libo Operation" yang digelar di area Libo GS, Kabupaten Siak, Senin (24/8) lalu. Peresmian fasilitas ini menjadi solusi konkret perusahaan memaksimalkan produksi minyak serta peningkatan kapasitas penampungan dan pengolahan (facility constraint). Beroperasinya EPF Libo GS ini sekaligus memperkuat keandalan operasional dalam mengalirkan hasil produksi migas dari lapangan Libo secara lebih optimal. General Manager (GM) Zona Rokan, Andre Wijanarko, menegaskan pencapaian ini merupakan wujud nyata komitmen seluruh insan Pertamina dalam menjaga stabilitas produksi energi nasional. "Keberhasilan pengoperasian fasilitas EPF di Libo GS ini adalah bukti nyata sinergi dan kontribusi kita bersama. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kapasitas dan keandalan operasional di Libo, tetapi juga menjadi bagian penting dari komitmen bersama untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ucapnya. Selain peresmian EPF, kata Wijanarko, momentum ini menjadi ajang penghargaan atas keberhasilan penyelesaian serangkaian proyek strategis lainnya di area Libo, seperti penggantian cerobong pembakaran gas serta pengerjaan Integrated Fire Alarm System (IFAS) serta Public Address & General Alarm (PAGA) Libo. "Seluruh proyek tersebut berhasil diselesaikan dengan aman, selamat, serta tepat sasaran sesuai indikator kinerja utama (KPI) fungsi Project & Technical Engineering," jelasnya. Menurutnya, pencapaian ini buah dari kolaborasi erat lintas fungsi di lingkungan PHR, seperti fungsi PTE, Operations, Maintenance, hingga Operations Support & Facilities (OSF), serta dukungan dari para mitra kerja seperti PT PSI dan PT WKS. Keberhasilan berbagai proyek di Libo ini menjadi pondasi kokoh untuk membuka babak baru bagi operasional Libo Operation menuju sistem kerja yang semakin andal, aman, efektif, dan produktif demi mendukung pencapaian produksi migas WK Rokan yang lebih gemilang di masa depan. “Saya mengajak seluruh Perwira dan mitra kerja untuk tidak berhenti di sini, mari terus berkolaborasi, menjaga keselamatan kerja, dan memberikan kontribusi terbaik bagi negeri," tuturnya. Pengoperasian EPF Libo GS ini melengkapi rekam jejak keberhasilan teknis dan pencapaian efisiensi tinggi PHR di Lapangan Libo. Sebelumnya, PHR sukses menuntaskan proyek Libo Substation Upgrade dengan meningkatkan kapasitas Gardu Induk Libo dari 10,5 MVA menjadi 24,5 MVA dua bulan lebih cepat dari target Work Program & Budget (WP&B). Penguatan infrastruktur kelistrikan ini menjadi tulang punggung vital untuk menyokong keandalan pasokan listrik fasilitas produksi seperti Electrical Submersible Pump (ESP) dan Water Injection Pump (WIP), yang terbukti berhasil mendorong performa uji produksi sumur Libo SE #86 hingga mencatatkan angka spektakuler mencapai 1.274 BOPD tanpa kandungan air (0% Water Cut). Keberhasilan berkelanjutan di Lapangan Libo ini tak lepas dari penerapan teknologi hulu migas mutakhir dan kepatuhan tinggi terhadap aspek Health, Safety, and Environment (HSE). Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Sucofindo Perkuat Penerapan Sistem Manajemen Terintegrasi Pertamina Hulu Rokan Nasional
Nasional
Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:07 WIB

Sucofindo Perkuat Penerapan Sistem Manajemen Terintegrasi Pertamina Hulu Rokan

Jakarta, katakabar.com - PT Sucofindo (Persero) menyerahkan Sertifikat Surveillance ISO Sistem Manajemen Integrasi (SMI) kepada PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Sertifikat tersebut diserahkan sebagai bentuk pengakuan atas kesesuaian penerapan sistem manajemen mutu, manajemen lingkungan, serta manajemen kesehatan dan keselamatan kerja PHR terhadap standar internasional. Sertifikat ini diserahkan langsung oleh Direktur Komersial PT Sucofindo (Persero), Agus Permadi kepada Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan, Muhamad Arifin. Agus Permadi menyampaikan apresiasi atas komitmen PT Pertamina Hulu Rokan menerapkan standar internasional secara konsisten di seluruh kegiatan operasional perusahaan. “Perolehan sertifikat ini menunjukkan komitmen kuat PT Pertamina Hulu Rokan dalam membangun budaya mutu, keberlanjutan lingkungan, serta kesehatan dan keselamatan kerja yang menjadi fondasi penting bagi operasional perusahaan. Sebagai lembaga sertifikasi, Sucofindo bangga dapat mendukung PHR dalam memastikan sistem manajemen yang diterapkan telah memenuhi persyaratan standar internasional dan berjalan secara efektif serta berkelanjutan. Sertifikasi ini tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas kesesuaian sistem yang diterapkan, tetapi juga menjadi landasan untuk mendorong peningkatan kinerja dan perbaikan berkelanjutan di masa mendatang,” jelasnya. Agus Permadi menambahkan, tahun ini PT Sucofindo (Persero) melaksanakan Surveillance Audit 2 terhadap penerapan Sistem Manajemen Integrasi PT Pertamina Hulu Rokan. Audit ini merupakan bagian dari siklus sertifikasi yang sebelumnya mencakup Compliance Audit, Certification Audit, dan Surveillance Audit 1. Melalui audit tersebut, PT Sucofindo (Persero) melakukan verifikasi atas konsistensi penerapan sistem manajemen mutu, lingkungan, serta kesehatan dan keselamatan kerja untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar ISO 9001:2015, ISO 14001:2015, dan ISO 45001:2018. Muhamad Arifin, menyampaikan pencapaian sertifikasi ini merupakan hasil dari komitmen seluruh insan perusahaan dalam menjalankan operasional yang mengedepankan kualitas, keberlanjutan, serta aspek kesehatan dan keselamatan kerja. “Pencapaian sertifikat ini menjadi bukti komitmen PHR dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang mengacu pada standar internasional. Sertifikasi ini bukan sekadar pengakuan atas sistem yang telah kami bangun, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus melakukan continuous improvement, memperkuat budaya keselamatan, meningkatkan kinerja lingkungan, serta memastikan setiap proses bisnis berjalan secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Kami mengapresiasi SUCOFINDO yang telah menjadi mitra strategis dalam proses sertifikasi dan pemastian kesesuaian ini,” jelasnya. Muhamad Arifin juga menambahkan sebagai perusahaan yang bergerak di sektor energi dengan tingkat kompleksitas operasional yang tinggi, PHR terus memperkuat penerapan sistem manajemen yang terintegrasi untuk memastikan proses bisnis berjalan secara konsisten, memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan, memperhatikan aspek lingkungan, serta mengendalikan risiko kesehatan dan keselamatan kerja. Integrasi ketiga standar tersebut menjadi fondasi penting dalam mendukung operational excellence dan keberlanjutan perusahaan. Sebagai perusahaan jasa Testing, Inspection, and Certification (TIC), PT SUCOFINDO (PERSERO) berkomitmen memberikan berbagai layanan yang independen, kredibel, dan berstandar internasional guna mendukung peningkatan kinerja organisasi, penguatan tata kelola, serta penerapan prinsip keberlanjutan di berbagai sektor industri strategis nasional. Layanan tersebut meliputi ISO 9001 Sistem Manajemen Mutu, ISO 14001 Sistem Manajemen Lingkungan, ISO 45001 Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, ISO 50001 Sistem Manajemen Energi, ISO 37001 Sistem Manajemen Anti Penyuapan, ISO 27001 Sistem Manajemen Keamanan Informasi, serta berbagai skema sertifikasi lainnya.

Kolaborasi PHR Nyalakan Desa Wisata Balai Pungut Lewat Festival Pacu Sampan Wisata
Wisata
Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:50 WIB

Kolaborasi PHR Nyalakan Desa Wisata Balai Pungut Lewat Festival Pacu Sampan

Bengkalis, katakabar.com - Sorak-sorai warga padati tepian Desa Wisata Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau, iringi riak air Sungai Batang Mandau bergemuruh. Usung tema “Merdeka Mengayuh, Mandiri Bertumbuh”, puluhan dayung kayu merobek arus sungai dengan gagah pada perhelatan Festival Pacu Sampan Tepian Batang Mandau. Kegiatan ini digelar oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kolaborasi Multi-Stakeholder mulai Pemerintah Bengkalis hingga masyarakat setempat, Rabu (19/8) kemarin sempena memperingati Ulang Tahun ke 81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Desa Balai Pungut bukan sekadar tepian sungai biasa. Secara demografi dan histori, kawasan di Kecamatan Pinggir ini memiliki sejarah  yang menjadi bagian dari jalur kehidupan dan transportasi masyarakat, serta memiliki keterkaitan dengan mobilitas, dan logistik pada masa awal perkembangan kegiatan hulu migas di Blok Rokan. Memadukan kekayaan warisan sejarah dan jejak emas industri migas, Festival Pacu Sampan ini hadir sebagai simpul perekat tradisi dan modernitas. Acara ini rangkaian kegiatan aktivasi program Community Involvement and Development (CID) PHR Zona Rokan yang dilakukan untuk pengembangan pelestarian budaya lokal, memperkuat potensi desa wisata, serta menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat Desa Wisata Balai Pungut, sekaligus momentum memperingati HUT ke 81 Republik Indonesia. Pada 2025 lalu PHR telah melakukan pendampingan dan peningkatan dalam pembentukan Pokdarwis, Perancangan Ripardes, peningkatan kapasitas pokdarwis terkait manajemen pengelolaan wisata serta hospitality hingga sarana dan prasarana penunjang Desa WIsata. Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, menegaskan dukungan perusahaan terhadap pelestarian tradisi lokal merupakan komitmen berkelanjutan PHR untuk tumbuh selaras bersama masyarakat. "Pertamina Hulu Rokan berkomitmen tidak hanya fokus pada keandalan operasi migas, tetapi juga hadir secara aktif menjaga kearifan lokal serta mendorong kemandirian ekonomi warga. Festival Pacu Sampan di Balai Pungut ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus pemantik bangkitnya pariwisata berbasis sejarah dan budaya. Kami berharap momen ini makin memperkuat sinergi yang harmonis antara PHR, Pemerintah Kabupaten Bengkalis, dan masyarakat demi mendukung keberlanjutan operasi PHR di wilayah Rokan," cerita Eviyanti Rofraida. Hadir langsung membuka perhelatan, Bupati Bengkalis, Kasmarni, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian PHR terhadap pelestarian warisan budaya Melayu dan pemberdayaan ekonomi di wilayahnya. "Pemerintah Kabupaten Bengkalis sangat menyambut baik dan mengapresiasi komitmen PT Pertamina Hulu Rokan yang terus konsisten mendampingi masyarakat. Balai Pungut adalah daerah bersejarah, baik dari sisi kebudayaan Melayu maupun jejak sejarah migas kita. Melalui Festival Pacu Sampan ini, PHR tidak hanya menghidupkan kembali tradisi kebanggaan warga di Batang Mandau, tetapi juga menggerakkan ekonomi UMKM dan pariwisata daerah,” ucapnya. Kata Kasmarni, kegiatan ini bukan sekedar perayaan untuk mengangkat potensi wisata daerah, melainkan juga ajang untuk merawat beragam kearifan lokal yang kita miliki. Beliau berpesan, “Sampan tidak akan melaju jika pengayuh bergerak sendiri. Namun, dengan kolaborasi, kekompakan, satu semangat, dan satu tujuan, kita bisa melangkah lebih jauh,” ulas Kasmarni. Melalui festival ini, ia mengajak mari jadikan momentum gotong royong untuk bersama-sama membangun desa dan daerah, sekaligus menumbuhkan kesadaran wisata di tengah masyarakat. Erwin, selaku Ketua Pokdarwis Balai Pungut, menjelaskan kawasan ini dulunya memiliki akar budaya yang sangat kental. Berawal dari gagasan Pemerintah Desa beserta para tokoh masyarakat, tercetuslah ide untuk menjadikan Sungai Mandau sebagai destinasi wisata yang indah, bukan sekadar dikenal sebagai tempat berwisata, tetapi juga dikenang sebagai bagian dari sejarah. Objek wisata ini diharapkan mampu mendorong pembangunan serta kemajuan di Balai Pungut. Pembentukan Pokdarwis ini telah dirintis hingga akhirnya pada tahun 2025 kami mendapatkan pembinaan langsung dari PHR (PT Pertamina Hulu Rokan). Bantuan tersebut memberikan banyak ilmu baru, sehingga manajemen pengelolaan menjadi jauh lebih baik dan terkendali sejak tahun 2025. “Tujuan utama kami adalah menjadikan desa ini dikenal sebagai desa wisata yang lahir dari cerita sejarah Balai Pungut. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PHR atas ilmu, pelatihan, serta dukungan fasilitas untuk mendukung pariwisata ini. Dalam perkembangannya, berkat pendampingan dari PHR, UMKM setempat juga telah berdiri dan berkembang,” terang Erwin. Selain disaksikan riuh ribuan warga, perhelatan ini turut dihadiri pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Bengkalis, jajaran pejabat Pemkab Bengkalis, tokoh masyarakat, pemuda Karang Taruna, Bumdes serta Masyarakat. Melalui kegiatan kolaboratif multi-stakeholder ini, memberikan semangat, serta memperkuat identitas Desa Wisata Balai Pungut sebagai destinasi wisata berbasis Sejarah dan budaya yang memberikan manfaat ekonomi bekelanjutan bagi Masyarakat sekaligus mendukung hubungan harmonis dan keberlanjutan operasi PHR. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Produksi 2.128 BOPD Lewat Sumur MESO#22 di Rohil, PHR Tambah Pasokan Minyak Nasional Jelang HUT RI ke 81 Riau
Riau
Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:10 WIB

Produksi 2.128 BOPD Lewat Sumur MESO#22 di Rohil, PHR Tambah Pasokan Minyak Nasional Jelang HUT RI ke 81

Rokan Hilir, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mencatatkan kinerja positif  untuk ketahanan energi nasional. Melanjutkan kesuksesan sumur MESO#21, PHR sukses membukukan tambahan produksi secara signifikan dari sumur infill directional atau berarah tipe S (S-Type) MESO#22 yang berlokasi di Lapangan Menggala South (Menggala South Field), Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Dari hasil uji sumur (well test), sumur MESO#22 berhasil mencatatkan Initial Production (IP) sebesar 2.128 BOPD (Barrel Oil Per Day), dengan tingkat water cut yang terjaga rendah di kisaran 25%, dari total fluida sebesar 2.853 BFPD (Barrel Fluid Per Day). Tambahan produksi minyak mentah ini menjadi bukti nyata kontribusi program pengeboran PHR dalam menjaga dan meningkatkan produksi migas nasional. Pengeboran sumur MESO#22 yang mencapai kedalaman 3.920 ftMD ini diawali dengan tajak sumur menggunakan Rig GW-336 pada 16 Juli 2026. Seluruh rangkaian operasi pengeboran berhasil diselesaikan hingga rig release pada 29 Juli 2026. Keberhasilan sumur MESO#22 tidak lepas dari kepiawaian Perwira PHR dalam memitigasi berbagai tantangan keteknikan di lapangan. Salah satu tantangan utama adalah perubahan profil trajektori, dari yang sebelumnya menggunakan tipe J (J-Type) menjadi tipe S (S-Type) yang memiliki tingkat kesulitan jauh lebih tinggi. Selain trajektori, tim PHR juga berhadapan dengan potensi sloughing shale (lapisan serpih yang mudah rontok dan tidak stabil). Tantangan ini berhasil diatasi secara efektif melalui strategi penerapan mud weight schedule yang tepat. Guna meminimalisasi risiko washout, tim mengeksekusi strategi control drilling dengan menerapkan parameter rendah (low parameter) serta reologi lumpur yang tinggi (high rheology). Kombinasi strategi ini terbukti ampuh meredam isu washout sehingga proses run casing berjalan lancar hingga mencapai dasar sumur. General Manager (GM) Zona Rokan PHR, Andre Wijanarko, mengapresiasi kerja keras seluruh tim di lapangan yang berhasil menorehkan pencapaian dan mengurai tantangan teknis tersebut. "Alhamdulillah, Keberhasilan MESO#22 memberikan tambahan produksi yang sangat berarti bagi PHR Zona Rokan. Ini merupakan wujud komitmen PHR untuk terus menopang ketahanan energi nasional melalui program pengeboran, namun tetap mempertahankan disiplin biaya yang ketat serta menjunjung tinggi keselamatan operasi," ujar Andre Wijanarko. Pelaksanaan Sumur MESO#22 diselesaikan dalam total waktu aktual 29,04 hari, termasuk perhitungan rig moving, initial completion, dan Non-Productive Time (NPT) dibandingkan dengan rencana awal selama 24,2 hari. Saat ini, produksi minyak dari MESO#22 telah dialirkan menuju Gathering Station (GS) MESO. Seluruh proses pengaliran fluida dan operasional tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja, integritas fasilitas, serta komitmen penuh terhadap aspek keselamatan dan operasi yang andal. "Ke depan, PHR akan terus berkomitmen untuk melakukan berbagai langkah optimasi dan inovasi operasional secara aman, andal, dan efisien. Kami percaya, melalui kolaborasi yang solid serta semangat dedikasi seluruh pekerja dan mitra kerja di lapangan, PHR dapat terus memberikan kontribusi terbaiknya bagi kelancaran pasokan energi nasional," tutup Andre Wijanarko. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

KemenLHK, SKK Migas dan PHR Dorong Pemulihan TTM Komprehensif Berbasis Teknologi dan Berdampak Ekonomi Lingkungan
Lingkungan
Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:50 WIB

KemenLHK, SKK Migas dan PHR Dorong Pemulihan TTM Komprehensif Berbasis Teknologi dan Berdampak Ekonomi

Pekanbaru, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLHK) dan SKK Migas dorong penanganan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi (TTM) di Wilayah Kerja (WK) Rokan secara lebih komprehensif. Upaya tersebut kedepankan penerapan teknologi disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi. Selain memulihkan lingkungan, program ini juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan rantai pasok lokal. Komitmen PHR bersama SKK Migas dan Kementerian Lingkungan Hidup tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pemulihan lingkungan dilakukan secara terukur, sesuai ketentuan yang berlaku, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar area pemulihan. Di mana pendekatan pemulihan dilakukan berdasarkan kajian teknis, kondisi spesifik setiap lokasi, dan persetujuan regulator. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, mengatakan penanganan TTM perlu dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pemulihan fungsi lingkungan, penerapan teknologi yang tepat, hingga manfaat yang dapat dirasakan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Jumhur mengapresiasi pengelolaan WK Rokan pasca alih kelola ke PHR sebagai bagian penting dalam upaya mewujudkan swasembada energi. ”Pastikan kita harus lebih baik karena bekerja di tanah air sendiri yang tentunya ada ikatan batin antara saudara saudara dengan wilayah ini. Selamat bertugas dan mengabdi,” jelasnya saat berkunjung ke lokasi pemulihan di area Zona Rokan, Sabtu (15/8) kemarin. Sejalan dengan hal itu, PHR melaksanakan program pemulihan TTM secara bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing lokasi. Metode pemulihan dapat menggunakan bioremediasi, fitoremediasi, maupun teknologi lain yang telah memperoleh persetujuan KLHK. Pendekatan berbasis teknologi tersebut memungkinkan metode pemulihan disesuaikan dengan kondisi tanah dan karakteristik kontaminasi di setiap lokasi. Hingga pertengahan 2026, total 63 dari total 250 lokasi telah memperoleh persetujuan Rencana Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup (RPFLH) dari Kementerian Lingkungan Hidup. Dari jumlah tersebut, 26 lokasi telah selesai dipulihkan, dengan 17 lokasi di antaranya telah memperoleh Surat Status Penyelesaian Lahan Terkontaminasi (SSPLT). Lokasi lainnya masih berada dalam tahapan persiapan aspek persyaratan teknis dan lokasi sebelum dapat diajukan untuk memperoleh persetujuan RPFLH. Pendekatan teknologi menjadi bagian penting dalam memastikan proses pemulihan berlangsung efektif, aman, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing lokasi. Melalui bioremediasi, proses pemulihan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk membantu menguraikan senyawa hidrokarbon dalam tanah. Sementara, fitoremediasi memanfaatkan kemampuan tanaman tertentu dalam membantu proses pemulihan lingkungan. Kepala Kelompok Kerja K3LL SKK Migas, Ivan Fadlun Azmy, menerangkan pemulihan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan kegiatan hulu migas. Menurutnya, penerapan teknologi dan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan perlu berjalan beriringan untuk memastikan proses pemulihan dilakukan secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. “Kegiatan Pemulihan TTM ini merupakan salah satu bukti industri Hulu Migas dalam pengelolaan lingkungan yang berkesinambungan. Tentunya kolaborasi antara Kementerian LH dengan SKK Migas serta PHR sangat penting untuk kelancaran dan keefektifan Kegiatan pemulihan TTM ini," kata Ivan. Ia menuturkan Ivan, kolaborasi antara regulator, pemerintah, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menjadi penting guna memastikan pengelolaan lingkungan berjalan secara konsisten. Hal tersebut sejalan dengan komitmen SKK Migas dan KKKS di wilayah Sumbagut untuk memperkuat kepatuhan terhadap regulasi lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan operasi hulu migas. Selain pemulihan fungsi lingkungan, program TTM juga diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar wilayah operasi. PHR terus mendorong optimalisasi penggunaan tenaga kerja lokal serta keterlibatan pelaku usaha dan rantai pasok daerah dalam pelaksanaan kegiatan pemulihan. Pelibatan tenaga kerja lokal menunjukkan bahwa kegiatan pemulihan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penciptaan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. Selain didominasi tenaga kerja lokal, pelaksanaan program juga membuka peluang keterlibatan pelaku usaha dan penyedia barang maupun jasa di daerah. Pengadaan dilaksanakan melalui mekanisme yang mengacu pada ketentuan SKK Migas, termasuk Pedoman Tata Kerja (PTK) 007, sehingga pemanfaatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dapat dioptimalkan. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya menciptakan efek berganda (multiplier effect) dari kegiatan pemulihan lingkungan, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi masyarakat dan daerah. Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menekankan kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan SKK Migas menjadi bagian penting dalam memastikan program pemulihan TTM berjalan sesuai dengan ketentuan sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas. “Pemulihan TTM tidak hanya berbicara mengenai bagaimana kita mengembalikan fungsi lingkungan, tetapi juga bagaimana proses tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. Karena itu, kami mendorong penggunaan teknologi yang tepat sesuai karakteristik setiap lokasi, sekaligus mengoptimalkan keterlibatan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal,” ucap Arifin. Menurutnya, setiap lokasi TTM memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penanganannya memerlukan pendekatan yang tepat berdasarkan kajian teknis dan proses persetujuan regulator. Penerapan teknologi menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan pemulihan dilakukan secara terukur dan sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku. “Dengan pendekatan berbasis teknologi dan kajian teknis, setiap lokasi ditangani dengan metode yang tepat. Pada saat yang sama, pelaksanaan kegiatan juga memberikan ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal untuk berpartisipasi. Dengan demikian, pemulihan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan secara beriringan,” sebutnya. Program pemulihan TTM di WK Rokan saat ini merupakan bagian dari peta jalan penyelesaian yang disusun PHR bersama SKK Migas dan Kementerian Lingkungan Hidup hingga 2030 dan dilanjutkan satu tahun untuk kegiatan pasca pemulihan. Program tersebut mencakup lokasi-lokasi yang tersebar di sejumlah wilayah di Provinsi Riau dan dilaksanakan secara bertahap sesuai kesiapan lahan, kajian teknis, serta persetujuan regulator. Kolaborasi PHR, Kementerian Lingkungan Hidup, dan SKK Migas akan terus diarahkan untuk memastikan pelaksanaan pemulihan berlangsung terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang lebih luas. Dengan menggabungkan penerapan teknologi pemulihan lingkungan, penyerapan tenaga kerja lokal, serta pemanfaatan produk dan jasa dalam negeri, program TTM di WK Rokan diharapkan dapat berkontribusi pada pemulihan lingkungan sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Program tersebut juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) secara nyata, sekaligus mendukung keberlanjutan kegiatan operasi hulu migas dan kontribusinya terhadap ketahanan energi nasional. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Sinergi PHR dan Negara Kembalikan Fungsi Lingkungan dan Manfaat Ekonomi Daerah Lingkungan
Lingkungan
Senin, 10 Agustus 2026 | 10:32 WIB

Sinergi PHR dan Negara Kembalikan Fungsi Lingkungan dan Manfaat Ekonomi Daerah

Pekanbaru, katakabar.com -  PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus percepat pelaksanaan program pemulihan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi (TTM) di Wilayah Kerja (WK) Rokan. Di bawah pengawasan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), program ini dijalankan secara bertahap untuk mengembalikan fungsi lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah. Penanganan TTM di area yang tersebar di lima kabupaten dan kota di Provinsi Riau salah satu program pemulihan lingkungan berskala besar yang dilaksanakan secara bertahap sesuai kajian teknis, persetujuan regulator, serta karakteristik masing-masing lokasi. Program ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk memastikan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di WK Rokan.  Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, PHR melibatkan konsorsium pelaksana melalui mekanisme pengadaan yang mengacu pada Pedoman Tata Kerja (PTK) 007 SKK Migas sehingga pemanfaatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dapat terserap secara optimal. Selain mendukung pelaksanaan pekerjaan pemulihan lingkungan, mekanisme tersebut juga mendorong keterlibatan tenaga kerjalokal dan rantai pasok daerah sesuai kebutuhan kegiatan di lapangan. "Selain memastikan pemulihan lingkungan berjalan sesuai standar operasional yang aman (zero accident), mandat dari SKK Migas adalah memastikan proyek ini memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi perekonomian Riau. Kami mengawal agar keterlibatan tenaga kerja lokal dan rantai pasok daerah terakomodasi secara transparan dan berkeadilan melalui mekanisme e-procurement yang akuntabel," ujar Sebastian Julius, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut. Dari sisi pelaksanaan, kata Julius, kolaborasi antara PHR, KLH, dan SKK Migas terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga pertengahan tahun 2026, persetujuan Rencana Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup (RPFLH) telah diterbitkan oleh KLH untuk 63 lokasi pemulihan. "Dari lokasi-lokasi tersebut, 20 lokasi telah selesai dengan 17 lokasi diantaranya telah mendapatkan SSPLT adapun sisanya tengah dalam proses evaluasi keberhasilan maupun pelaksanaan kegiatan fisik pemulihan sesuai tahapan dan persetujuan yang telah diberikan regulator," jelasnya. Sebelum kegiatan fisik pemulihan dapat dilaksanakan di lapangan, ulas Julius, PT PHR perlu mendapatkan persetujuan RPFLH dari KLH. Tahapan persiapan ini diperlukan sebagai langkah awal dalam rangka mengidentifikasi luasan dan volume yang harus dipulihkan, serta merumuskan metode/teknologi pemulihan yang akan digunakan spesifik berdasarkan karakteristik masing-masing lokasi, baik secara bioremediasi, fitoremediasi, atau teknologi lain yang disetujui regulator. Setelah kajian teknis diatas selesai dan akses lahan diperoleh, selanjutnya PT PHR dapat mengajukan usulan RPFLH kepada KLH.  Saat ini sekitar 150 lokasi terus berproses dalam tahap persiapan ini. VP Remediation & Asset Retirement PHR, Ovulandra Wisnu, menegaskan program pemulihan TTM bagian dari komitmen perusahaan dalam membantu Pemerintah mengembalikan kondisi lingkungan yang sejalan dengan praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. "Penyelesaian TTM ini adalah wujud nyata dari dedikasi PHR dalam menjalankan praktik tata kelola perusahaan yang baik dan bisnis berkelanjutan (ESG). Melalui peta jalan strategis hingga 2030 yang dirancang bersama SKK Migas dan KLH, kami optimis tantangan pemulihan lingkungan yang telah teridentifikasi di WK Rokan dapat diselesaikan secara komprehensif, terukur, dan memberikan ruang bagi masyarakat Riau untuk kembali memberdayakan lahan mereka," jelasnya. “Selain memulihkan lingkungan, kegiatan ini diharapkan mendukung ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan peluang usaha bagi masyarakat Riau, mendorong penggunaan produk dan jasa dalam negeri yang menghasilkan efek berganda bagi perekonomian Riau serta berjalan beriringan dengan tugas mendukung ketahanan energi demi terwujudnya asta cipta Presiden RI." Sebut Wisnu.

'Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang': PHR Tanam 700 Mangrove di Kawasan Marine Dumai Lingkungan
Lingkungan
Jumat, 07 Agustus 2026 | 17:31 WIB

'Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang': PHR Tanam 700 Mangrove di Kawasan Marine Dumai

Dumai, katakabar.com - Sebagai wujud komitmen nyata terhadap keberlanjutan lingkungan dan mitigasi perubahan iklim global, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) gelar aksi penanaman 700 pohon mangrove di kawasan Pelabuhan (Marine) Dumai, Kamis (6/8). Kegiatan bertajuk Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 angkat tema “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang” ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Dumai, instansi maritim, serta jajaran pemangku kepentingan di kawasan pesisir. Aksi hijau ini tidak sekadar seremonial, melainkan bagian dari langkah strategis PHR dalam memenuhi dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL), serta mendukung pencapaian target Environmental Excellence dan program efisiensi pengelolaan lingkungan di Zona Rokan. Hutan mangrove diposisikan sebagai benteng alami pesisir Dumai yang rentan terhadap abrasi, gelombang pasang, hingga ancaman erosi laut. Senior Manager HSE Operations Zona Rokan, I Nyoman Widaryantha Naya, mengatakan PHR ingin memastikan bahwa setiap langkah operasional berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan dan memberikan dampak ekologis serta sosial bagi masyarakat sekitar. "Ekosistem mangrove memiliki peran penting sebagai penyerap karbon biru (blue carbon) yang efektif untuk menekan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Lewat penanaman 700 bibit mangrove ini, kami menegaskan komitmen berkelanjutan PHR untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, melindungi keanekaragaman hayati, sekaligus menahan laju abrasi dan nilai tambah ekologi bagi masyarakat sekitarnya," kata I Nyoman. Ia menambahkan, menjaga kelestarian lingkungan merupakan komitmen bersama. Penanaman mangrove ini harus menjadi pemantik semangat untuk terus menumbuhkan budaya peduli lingkungan dalam setiap aktivitas sehari-hari, baik di area operasi maupun di tengah masyarakat. “Saya mengajak seluruh pekerja dan mitra kerja PHR untuk tidak hanya menjadi bagian dari penyedia energi bagi negeri, tetapi juga menjadi penggerak yang aktif merawat benteng pesisir kita. Mari kita jadikan nilai-nilai keberlanjutan (sustainability) sebagai gaya hidup, demi memperkokoh warisan lingkungan yang bersih, aman, dan lestari bagi generasi mendatang,” serunya. Di sisi lain, secara ekologis, dan keberadaan ekosistem mangrove yang subur di kawasan pesisir Dumai akan mendukung rantai makanan laut, meningkatkan populasi hewan laut. Kolaborasi ini juga mempererat harmonisasi hubungan dan program kemasyarakatan antara PHR, pemerintah daerah, dan warga sekitar wilayah operasional. Acara yang berlangsung di Marine Dumai diawali dengan seremoni pembukaan di ICC Room, dilanjutkan dengan penyampaian gambaran umum program lingkungan oleh tim HSE, penyerahan plakat penghargaan antar-instansi, hingga aksi langsung penanaman pohon mangrove secara simbolis oleh para pimpinan instansi. Pemerintah Kota Dumai memberikan apresiasi kepada PHR atas kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir, khususnya melalui program penanaman mangrove. Apresiasi tersebut disampaikan Asisten I bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Dumai, Drs. H. Muhammad Yunus, dalam acara penanaman mangrove di kawasan pesisir Dumai. Ia menekankan ekosistem mangrove memiliki peran vital sebagai benteng alami penahan abrasi serta paru-paru bumi yang berfungsi menyerap karbon. “Pentingnya mangrove untuk benteng alam yang menahan abrasi, apalagi garis pantai Dumai sangat panjang. Pada kesempatan ini, kami sampaikan terima kasih atas kepedulian yang tak hanya pada sektor energi, tetapi juga lingkungan. Kita masih bersama-sama menjaga pantai karena Dumai adalah area pesisir. Mangrove ini sebagai paru-paru yang bisa menyerap karbon, serta berfungsi sebagai sumber kehidupan yang manfaatnya akan diterima oleh generasi kita, warga, serta kelangsungan hidup manusia dan hewan laut. Kami berterima kasih dan mengapresiasi inisiatif ini melalui program yang berjalan,” terangnya. Sinergi penanaman mangrove di wilayah operasional Marine Dumai ini memberikan keuntungan ganda secara strategis. Pemilihan lokasi di dalam batas operasional (boundary) PHR memastikan pemantauan dan perawatan tumbuh kembang tanaman mangrove dapat dilakukan secara berkala dan terukur. Di saat yang sama, pengembangan ekosistem mangrove di kawasan pesisir Dumai juga membuka peluang pemanfaatan potensi berbasis kemasyarakatan, seperti peningkatan ketersediaan komoditas perikanan pantai (ikan dan kepiting) serta potensi pengembangan kawasan ekowisata pesisir yang bernilai ekonomi bagi warga tempatan. Inisiatif ini dirancang melalui serangkaian tahapan terencana yang dimulai sejak Mei 2026. Tahapan tersebut meliputi pemetaan dan survei kelayakan lokasi, koordinasi lintas pemangku kepentingan, hingga pemenuhan perlengkapan keselamatan kerja (HSE) untuk memastikan seluruh proses penanaman berjalan aman dan berdampak optimal. Ke depan, PT Pertamina Hulu Rokan berkomitmen untuk terus mengawal program-program pemeliharaan lingkungan hidup terpadu di seluruh wilayah kerja Zona Rokan. Langkah ini sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta komitmen Pertamina dalam mendukung pencapaian Net Zero Emission melalui pemanfaatan potensi penyerap karbon alami. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah  Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.