Pilar

Sorotan terbaru dari Tag # Pilar

Perkuat Pilar Sosial ESG, Pelindo Multi Terminal Tempatkan SDM Pusat Perubahan Sumut
Sumut
6 jam yang lalu

Perkuat Pilar Sosial ESG, Pelindo Multi Terminal Tempatkan SDM Pusat Perubahan

Medan, katakabar.com - Sejalan dengan komitmen perusahaan implementasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), PT Pelindo Multi Terminal, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang operasional terminal nonpetikemas, terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari pilar sosial (Social) dalam roadmap keberlanjutan perusahaan. Penguatan kapasitas, ketangguhan, dan kemampuan adaptasi insan perusahaan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan industri yang berlangsung semakin cepat. Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam gelaran BREATH (Balancing, Resilience, Energy, and Health) Session Series 33 yang mengangkat tema “People at the Center of Change: Resilience, Adaptability, and Continuity”, yang digelar Kamis (18/6) di Grha Pelindo Medan, serta diikuti secara daring oleh insan perusahaan. Direktur SDM Pelindo Multi Terminal, Edi Priyanto, menegaskan keberlanjutan perusahaan di tengah perubahan industri yang berlangsung cepat tidak hanya ditentukan oleh sistem, teknologi, maupun fasilitas, melainkan terutama oleh kesiapan manusia di dalam organisasi. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem yang ada atau fasilitas yang terus kita perbaiki. Yang paling menentukan adalah manusianya. Karena itu, SDM harus dipersiapkan dengan baik agar mampu menjaga keberlanjutan perusahaan dan menjadi penggerak utama transformasi yang sedang berlangsung,” ujar Edi. Ia menambahkan industri kepelabuhanan dan logistik saat ini bergerak sangat dinamis, ditandai oleh perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan pelanggan, serta tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Kondisi tersebut menuntut insan perusahaan untuk memiliki resilience, adaptability, dan continuity dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya. “Kunci utama menghadapi perubahan sesungguhnya berada di tangan kita sendiri. Dengan ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan semangat untuk terus berkembang, kita yakin insan Pelindo Multi Terminal mampu menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan perusahaan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” tuturnya. Sementara, Komisaris Pelindo Multi Terminal, Gugun Gumilar, pada sesi paparan menekankan perubahan berkelanjutan selalu berangkat dari manusia sebagai pusat transformasi organisasi. Ia menyampaikan dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, faktor penentu keberhasilan organisasi bukan semata teknologi atau sistem, melainkan kualitas manusia yang ada di dalamnya. “Perubahan yang berkelanjutan selalu dimulai dari cara berpikir manusia. Ketika berbicara tentang transformasi perusahaan, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan adalah bagaimana membangun manusia yang tangguh, adaptif, dan memiliki karakter yang kuat,” timpalnya. Gugun menerangkan resilience bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan untuk bangkit dan menjadikan tantangan sebagai energi untuk tumbuh. Sementara adaptability mencerminkan kesiapan menerima perubahan, dan continuity memastikan nilai, budaya, serta tujuan perusahaan tetap terjaga di tengah transformasi. “Perubahan besar tidak terjadi secara instan. Semuanya berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika setiap insan perusahaan memiliki komitmen untuk terus belajar dan memberikan kontribusi positif, perubahan tersebut akan membawa dampak nyata bagi kemajuan perusahaan,” bebernya. Pada kegiatan yang sama, perusahaan juga memberikan apresiasi kepada para inovator yang berkompetisi dalam program pengembangan inovasi di lingkungan Pelindo Group, yakni Pelindo IDEA dalam mewakili Pelindo Multi Terminal. Selain itu, perusahaan juga memberikan penghormatan kepada pekerja yang telah memasuki masa purnabakti atas dedikasi dan kontribusinya selama menjadi bagian dari perjalanan perusahaan.

2nd IPORICE 2026, Direktur PAPSI: Sawit Komoditas Statrgis Nasional Pilar Ekonomi Hijau Sawit
Sawit
Sabtu, 04 Oktober 2025 | 16:00 WIB

2nd IPORICE 2026, Direktur PAPSI: Sawit Komoditas Statrgis Nasional Pilar Ekonomi Hijau

Jakarta, katakabar.com - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menegaskan kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan. "Kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan," tegas Tungkot di sesi diskusi 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Sabtu (4/10). Menurut Tungkot, konsep ekonomi hijau dan keberlanjutan memiliki perbedaan tipis tapi keduanya saling melengkapi. Pada praktiknya, produksi perkebunan sawit tidak hanya berorientasi aspek ekonomi tetapi kelestarian lingkungan. “Paradigma baru green economy sebenarnya lahir dari sektor pertanian termasuk perkebunan. Sawit kita kenal saat ini bukan hanya soal minyak, tetapi biomassa dengan produktivitas mencapai 16 ton per hektare per tahun. Selama ini kita baru memanfaatkan minyaknya saja, dan itu sudah menjadikan Indonesia sebagai raja sawit dunia. Bayangkan, jika biomassa ini kita kelola optimal,” ujarnya. Sejak 1980 lampau, FAO telah memperkenalkan konsep multifunctionality dalam sawit. Artinya, sawit tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi mencakup aspek sosial, lingkungan, dan keanekaragaman hayati. Dari sisi sosial, perkebunan kelapa.sawit telah menciptakan jutaan lapangan kerja baik di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran 'emas hijau' ini terbukti menurunkan tingkat kemiskinan di daerah sentra produksi dan membentuk pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan. Sementara, dari aspek lingkungan sawit justru memiliki kemampuan penyerapan karbon dioksida lebih baik dibanding hutan, serta tingkat kehilangan biodiversitas yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain. Diterangkan Tungkot, tantangan ke depan memperbesar peran sawit dalam ekonomi hijau melalui inovasi dan teknologi. Penurunan emisi, peningkatan produktivitas, serta model ekspansi yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci. “Ke depan ekspansi kelapa.sawit masih ada tetapi tidak dengan cara lama. Kita menambah sawit sekaligus menambah hutan melalui konsep reforestasi. Inilah wajah baru green economy Indonesia,” bebernya. Selain itu, hilirisasi menjadi langkah strategis memperluas peran kelapa sawit. Substitusi energi fosil dan material berbasis sawit dinilai dapat menjadi motor penggerak baru bagi green economy lintas sektor. Dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dimiliki, Tungkot optimistis kelapa sawit terus menjadi komoditas unggulan sekaligus solusi global dalam transisi menuju ekonomi hijau.