Reli

Sorotan terbaru dari Tag # Reli

Saham AI Mulai Terkoreksi, Investor Uji Kekuatan Reli Teknologi AS Teknologi
Teknologi
Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:10 WIB

Saham AI Mulai Terkoreksi, Investor Uji Kekuatan Reli Teknologi AS

Jakarta, katakabar.com - Pasar saham Amerika Serikat mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan tekanan di zona merah setelah mengalami reli panjang yang sebelumnya didorong oleh penguatan sektor teknologi dan semikonduktor. Pergerakan pasar kali ini mencerminkan perubahan sentimen investor yang mulai mengambil langkah hati-hati dengan melakukan aksi ambil untung (profit taking) terhadap sejumlah saham yang telah mencatatkan kenaikan signifikan. Tekanan terbesar terlihat pada saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar berkat optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Investor mulai mengamankan keuntungan di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai valuasi yang tinggi, tekanan inflasi, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sepanjang sesi perdagangan, indeks utama Wall Street bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup melemah. Sektor teknologi, industri, dan energi menjadi kontributor utama penurunan, sementara sektor defensif seperti kesehatan dan properti mencatatkan penguatan namun belum mampu mengimbangi tekanan pasar secara keseluruhan. Secara mingguan, kinerja indeks menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Dow Jones Industrial Average masih mencatatkan kenaikan tipis sekitar 0,60%, sementara S&P 500 terkoreksi 1,95%. Tekanan terbesar terjadi pada Nasdaq Composite yang turun hingga 4,60%, menunjukkan bahwa saham berbasis pertumbuhan dan teknologi menjadi sektor yang paling terdampak oleh aksi jual investor. Sektor semikonduktor menjadi pusat perhatian setelah saham-saham chip mengalami penurunan tajam. Indeks saham chip turun sekitar 5,3% dalam satu sesi perdagangan dan mencatat pelemahan mingguan hingga 7,7%, menjadi penurunan terbesar sejak Maret 2025. Koreksi tersebut menjadi sinyal valuasi perusahaan teknologi mulai kembali diuji setelah sebelumnya mengalami lonjakan akibat ekspektasi besar terhadap pertumbuhan industri AI. Kekhawatiran investor juga meningkat setelah langkah Apple menaikkan harga sejumlah produknya. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran mengenai potensi tekanan inflasi struktural, terutama di tengah meningkatnya biaya pengembangan teknologi AI dan keterbatasan pasokan komponen semikonduktor global. Dampak koreksi sektor teknologi tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi turut menyebar ke pasar global. Bursa saham Eropa mengalami penurunan sekitar 0,7%, dengan sektor teknologi menjadi salah satu sektor yang mengalami tekanan terbesar. Di Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga mengalami koreksi hampir 3%, sementara pasar Korea Selatan mengalami tekanan signifikan dengan indeks KOSPI turun hingga 5,8% akibat tingginya eksposur terhadap industri teknologi. Sedang, pasar komoditas memberikan pergerakan berbeda. Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi mulai mereda. Peningkatan aktivitas pengiriman kapal tanker dari kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu indikator bahwa distribusi energi global mulai kembali stabil. Selain itu, kembalinya aktivitas ekspor perusahaan energi besar Saudi Aramco dari terminal Ras Tanura turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak. Kondisi tersebut membuat harga minyak Brent turun sekitar 4,34% ke kisaran US$72 per barel dan ikut menekan kinerja saham sektor energi. Dari sisi ekonomi makro, investor masih mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat melalui indikator Personal Consumption Expenditures (PCE). Data terbaru menunjukkan kenaikan inflasi bulanan sebesar 0,4%, sementara inflasi tahunan mencapai 4,1%. Selain itu, indikator inflasi inti atau supercore inflation tercatat sebesar 3,9%, menjadi salah satu perhatian utama bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga. Meski tekanan inflasi masih menjadi perhatian, penurunan harga minyak memberikan ruang bagi The Fed untuk mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap kebijakan moneter. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga juga mulai menurun, dengan peluang kenaikan pada pertemuan Juli diperkirakan melemah. Investor kini lebih fokus mencermati arah kebijakan hingga akhir tahun dan potensi perubahan strategi bank sentral. Dengan kombinasi antara koreksi saham teknologi, tekanan inflasi, dan perubahan harga komoditas, pasar global saat ini berada dalam fase yang penuh tantangan. Investor perlu lebih selektif dalam menentukan strategi, terutama dengan meningkatnya volatilitas di berbagai kelas aset. Bagi investor Indonesia yang ingin memantau perkembangan pasar global, pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital dapat diakses melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memungkinkan investor untuk mengikuti dinamika pasar dan mengeksplorasi berbagai instrumen investasi global dalam satu aplikasi. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman bagi investor Indonesia. Aplikasi ini telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, aset pengguna juga mendapatkan perlindungan dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Bagi investor yang ingin mulai berinvestasi di saham AS maupun aset kripto, Nanovest menyediakan akses yang praktis melalui aplikasi yang tersedia di Play Store dan App Store. Informasi lebih lanjut mengenai layanan Nanovest dapat diakses melalui www.nanovest.io. Di tengah kondisi pasar yang bergerak dinamis, kemampuan memahami perubahan sentimen global dan mengelola risiko menjadi faktor penting bagi investor dalam menghadapi peluang maupun tantangan investasi ke depan.

Safe Haven Kembali Diminati, Harga Emas Berpotensi Lanjut Reli Internasional
Internasional
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:10 WIB

Safe Haven Kembali Diminati, Harga Emas Berpotensi Lanjut Reli

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan pada perdagangan awal pekan Juli 2026. Menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan kondisi pasar mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah tekanan jual yang sempat mendominasi beberapa waktu terakhir mulai berkurang. Dari sisi teknikal maupun fundamental, peluang kenaikan emas dinilai masih cukup terbuka selama tidak muncul sentimen baru yang mengubah arah pasar secara signifikan. Geraldo menjelaskan pada grafik H4, harga emas berhasil mempertahankan posisinya di atas area support penting yang terbentuk dalam beberapa sesi terakhir. Kemampuan harga bertahan di level tersebut menjadi tanda bahwa minat beli mulai kembali meningkat. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa tekanan dari pihak penjual tidak lagi sebesar sebelumnya sehingga membuka peluang bagi emas untuk bergerak lebih tinggi. Selain bertahan di area support, pergerakan harga juga membentuk pola swing low yang valid. Dalam analisis teknikal, pola tersebut sering kali menjadi sinyal awal bahwa tren naik mulai terbentuk setelah fase pelemahan. Munculnya pola ini menunjukkan bahwa pembeli mulai mengambil alih kendali pasar dan berusaha mempertahankan harga di atas level support yang ada. "Selama support tetap terjaga, peluang penguatan emas masih cukup besar. Struktur pergerakan harga saat ini masih mendukung skenario kenaikan dalam jangka pendek," kata Geraldo dari hasil analisisnya. Berdasarkan proyeksi teknikal, target kenaikan terdekat berada di area resistance 4.095. Jika level tersebut berhasil ditembus dengan volume transaksi yang kuat, harga emas diperkirakan memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan menuju resistance berikutnya di kisaran 4.144. Sementara, indikator Stochastic masih bergerak di area overbought atau jenuh beli. Walaupun kondisi tersebut biasanya menjadi tanda bahwa harga sudah naik cukup tinggi, hingga kini belum terlihat adanya sinyal yang menunjukkan pelemahan momentum maupun pembalikan arah. Selama tekanan beli masih mendominasi, pergerakan naik diperkirakan masih dapat berlanjut. Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek ketika harga mendekati area resistance. Tidak menutup kemungkinan sebagian pelaku pasar akan melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Koreksi seperti ini umumnya bersifat sementara sebelum pasar kembali menentukan arah pergerakan berikutnya. Selain didukung oleh faktor teknikal, prospek kenaikan harga emas juga mendapat dorongan dari sejumlah sentimen fundamental. Salah satunya adalah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, ketegangan geopolitik, serta tingginya volatilitas pasar membuat investor cenderung mencari aset yang dinilai lebih aman. Dalam situasi seperti ini, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih sebagai aset safe haven. Ketika tingkat ketidakpastian meningkat, permintaan terhadap logam mulia biasanya ikut naik sehingga mampu memberikan dorongan positif terhadap harga. Faktor lain yang berpotensi menopang kenaikan emas adalah pelemahan dolar Amerika Serikat. Ketika nilai tukar dolar menurun, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut biasanya mendorong peningkatan permintaan sehingga harga emas memiliki peluang untuk bergerak lebih tinggi. Selain itu, pasar juga mulai mencermati kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Jika ekspektasi terhadap penurunan suku bunga kembali menguat, maka tekanan terhadap dolar AS diperkirakan akan berkurang. Situasi ini umumnya memberikan dampak positif bagi emas karena investor mulai beralih ke aset yang dianggap mampu menjaga nilai investasi. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield) juga menjadi faktor yang mendukung prospek emas. Ketika imbal hasil obligasi turun, biaya peluang untuk memiliki emas menjadi lebih rendah sehingga logam mulia kembali menarik bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio. Tetapi, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data inflasi, tenaga kerja, hingga aktivitas sektor manufaktur masih menjadi indikator penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve sekaligus menentukan pergerakan dolar AS dan harga emas. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai peluang penguatan emas masih lebih dominan dibandingkan potensi pelemahannya dalam jangka pendek. Dari sisi teknikal, terbentuknya support yang kuat, munculnya valid swing low, serta masih kuatnya momentum beli memberikan sinyal positif bagi pergerakan harga.

Investor Dorong Reli Emas Ditengah Prospek Pelonggaran Kebijakan Moneter Fed Internasional
Internasional
Selasa, 11 November 2025 | 18:31 WIB

Investor Dorong Reli Emas Ditengah Prospek Pelonggaran Kebijakan Moneter Fed

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) lanjutkan penguatan tajam di awal pekan ini, mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat. Kenaikan yang mencapai lebih dari 2 persen Senin (10/11) kemarin, menunjukkan para pelaku pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve dapat menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember. Pandangan ini turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, terutama ketika data ekonomi AS mulai menunjukkan tanda perlambatan. Selama sesi Asia Selasa (11/11), harga emas bergerak stabil di dekat $4.120, tetap berada di zona positif setelah mencetak level tertinggi dua minggu pada sesi sebelumnya. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, pola teknikal yang terbentuk saat ini memperlihatkan bahwa dorongan bullish pada emas masih cukup kuat. “Melihat struktur candlestick serta posisi harga terhadap garis Moving Average, momentum kenaikan masih terjaga. Pasar sedang berada dalam fase risk-on terhadap emas,” jelas Andy. Lonjakan harga emas tersebut tidak terlepas dari prospek penurunan suku bunga oleh The Fed. Pasar saat ini memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai sekitar 67 persen, dan peluang tersebut diperkirakan meningkat menjadi 80 persen pada Januari mendatang, mengacu pada perangkat CME FedWatch. Ekspektasi ini muncul setelah rilis data ketenagakerjaan swasta dan indikator konsumsi pekan lalu menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi, yang membuka ruang bagi The Fed untuk mengambil langkah stimulus. “Dalam kondisi suku bunga yang berpotensi lebih rendah, daya tarik emas akan semakin menguat karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih kecil,” tambah Andy. Bila tekanan beli berlanjut, emas memiliki peluang untuk menguji level resistance di sekitar $4.158. Namun, jika tekanan koreksi muncul, maka area $4.104 menjadi level penopang penting yang perlu dicermati. Faktor fundamental lainnya juga memberikan dinamika tambahan. Kabar mengenai kemungkinan berakhirnya penutupan pemerintahan AS memberi sedikit tekanan bagi emas sebagai aset safe haven. Reuters melaporkan bahwa Senat AS telah melanjutkan pembahasan langkah pembukaan kembali pemerintahan federal. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan dukungan terhadap kesepakatan bipartisan yang memungkinkan aktivitas pemerintah kembali berjalan normal dalam waktu dekat. Jika proses ini berjalan lancar, permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas dapat mengalami penyesuaian jangka pendek. Dari sisi pasar mata uang dan obligasi, Indeks Dolar AS (DXY) menguat tipis ke level 99,67, sedangkan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun stabil di sekitar 4,115 persen. Imbal hasil riil AS yang naik ringan juga menjadi variabel yang perlu diperhatikan karena memiliki korelasi terbalik dengan pergerakan harga emas. Andy Nugraha menekankan pergerakan emas dalam jangka pendek masih akan sensitif terhadap data ekonomi AS berikutnya, khususnya laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis hari ini.

Dogecoin Diramal Meroket: Analis Klaim Peluang Reli 100 Persen, Ini Alasannya! Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 29 Maret 2025 | 19:05 WIB

Dogecoin Diramal Meroket: Analis Klaim Peluang Reli 100 Persen, Ini Alasannya!

Dogecoin berhasil melewati level ini, maka akan membuka peluang menuju reli parabolik penuh, mirip dengan apa yang terjadi di tahun 2021 ketika DOGE melonjak tajam karena dorongan komunitas dan sentimen pasar. Analis percaya momentum saat ini bisa memicu efek bola salju. Dengan pemulihan harga, dukungan teknikal, dan optimisme komunitas, Dogecoin memiliki potensi besar untuk memulai reli besar berikutnya. Apakah Saat Ini Waktu yang Tepat untuk Melirik DOGE? Dengan semua indikator yang mengarah ke arah positif, banyak investor mulai melirik kembali Dogecoin sebagai aset yang menjanjikan. Meski kripto tetap penuh risiko, pola-pola teknikal seperti ini sering kali jadi acuan kuat bagi para trader. Jika sejarah kembali terulang, Dogecoin bisa jadi salah satu bintang utama di siklus bullish berikutnya. Tentu saja, selalu penting untuk mengelola risiko dan tidak hanya mengandalkan euforia pasar.