RI Bergabung dalam Jajaran Pameran Sarung Tangan Karet Internasional Terbesar Pernah Digelar di Kuala Lumpur
Kuala Lumpur, katakabar.com - Konferensi dan Pameran Sarung Tangan Karet Internasional ke 12 ( 12th IRGCE 2026 ) usung tema “Mensinergikan Inovasi: Mendefinisikan Kembali Masa Depan Ekosistem Sarung Tangan” telah mencapai tonggak sejarah. Total 600 stan telah ditempati peserta pameran dari 15 wilayah termasuk Thailand, Indonesia, Vietnam, Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, Arab Saudi, Inggris Raya, dan lainnya, menjadikannya IRGCE terbesar yang pernah diselenggarakan sejak pertama kali diadakan pada tahun 2002. Acara ini diperkirakan akan menarik lebih dari 1.000 delegasi konferensi dan lebih dari 10.000 pengunjung dari lebih dari 70 negara. Digelar oleh Asosiasi Produsen Sarung Tangan Karet Malaysia (MARGMA), dengan Dewan Karet Malaysia (MRC) sebagai penyelenggara bersama, IRGCE ke 12 tahun 2026 bakal dihelat pada 8 hingga 10 September 2026 di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Kuala Lumpur, Malaysia. Salah satu tambahan unik pada konferensi tahun ini, yakni: INNOVATE@IRGCETalk, sebuah panggung pengetahuan khusus yang akan menyoroti inovasi-inovasi terobosan dan kemajuan global dalam material generasi berikutnya, manufaktur cerdas, dan produksi berkelanjutan. Konferensi yang lebih besar akan menampilkan enam pembicara pleno lokal dan internasional, termasuk Dr. Robert G. Hamilton, Profesor Kedokteran dan Patologi di Universitas Johns Hopkins, AS, bersama dengan 36 pembicara lainnya yang membahas berbagai macam subjek di seluruh ekosistem sarung tangan karet. Peluncuran awal dan upacara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan para sponsor baru-baru ini diresmikan oleh Dato' Dr. Zairossani Mohd Nor, Direktur Jenderal Dewan Karet Malaysia (MRB), mewakili YB Datuk Seri Dr. Noraini Ahmad, Menteri Perkebunan dan Komoditas. Dukungan Menteri tersebut menggarisbawahi komitmen berkelanjutan Kementerian terhadap kemajuan industri sarung tangan karet Malaysia. Sektor sarung tangan karet Malaysia tetap menjadi kontributor utama pendapatan ekspor produk karet negara dan terus bergerak naik dalam rantai nilai, didukung oleh penelitian dan pengembangan yang lebih kuat, otomatisasi, pengembangan talenta, manufaktur berkelanjutan, dan integrasi yang lebih erat antara segmen hulu dan hilir. Daya saing industri sarung tangan karet di masa depan harus dibangun di atas kualitas, inovasi, produktivitas, keberlanjutan, dan kepercayaan. Acara tersebut menyoroti pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara industri, lembaga, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat ekosistem pendukung yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jangka panjang. MARGMA, MRC, dan Dewan Karet Malaysia (MRB) telah mendorong inisiatif yang berwawasan ke depan seperti inisiatif Sarung Tangan Buatan Malaysia dan upaya keberlanjutan yang lebih luas yang bertujuan untuk memperkuat kredibilitas industri, ketahanan, dan kepercayaan pasar internasional. Dengan semakin pentingnya ketertelusuran rantai pasokan, transparansi yang lebih besar dan tata kelola yang lebih kuat di seluruh industri sarung tangan karet sangatlah penting. Dalam hal ini, perizinan yang relevan oleh Badan Karet Malaysia untuk produsen sarung tangan karet tetap penting dalam menegakkan standar internasional dan menjaga integritas, kredibilitas, dan daya saing industri sarung tangan karet Malaysia. Presiden MARGMA, Oon Kim Hung, mengatakan lingkungan operasional global telah menjadi lebih menantang, dengan industri menghadapi persaingan yang lebih ketat, meningkatnya ekspektasi kepatuhan, kompleksitas regulasi, dan pengawasan global yang lebih ketat terkait kualitas, ketertelusuran, standar tenaga kerja, dan keberlanjutan. “Industri sarung tangan karet beroperasi dalam lingkungan yang sangat berbeda saat ini. Kesuksesan masa lalu saja tidak cukup. Malaysia harus terus membedakan dirinya melalui kualitas, keandalan, kepatuhan, dan kredibilitas,” kata Oon. Dia menambahkan IRGCE telah berkembang menjadi titik pertemuan global untuk seluruh ekosistem sarung tangan dan tetap menjadi platform penting bagi para pelaku industri untuk bertukar pengetahuan, membangun kemitraan, dan membentuk masa depan industri. MARGMA juga menegaskan kembali pentingnya membangun jalur pengembangan talenta masa depan industri. Sejalan dengan hal ini, MARGMA secara aktif mendukung hubungan yang lebih kuat antara industri dan akademisi, termasuk kolaborasi terbarunya dengan Universitas Monash Malaysia untuk memperkenalkan program Magister khusus di bidang Teknologi Koloid dan Lateks. Inisiatif ini mencerminkan upaya yang disengaja untuk membangun kemampuan ilmiah dan teknis yang lebih mendalam di dalam industri guna mendukung fase daya saing selanjutnya dalam ilmu material, optimasi proses, inovasi produk, dan kinerja keberlanjutan. Ke depannya, MARGMA telah menguraikan empat pilar strategis untuk mempertahankan ketahanan dan kepemimpinan global industri sarung tangan karet Malaysia: • Diferensiasi Global: Memperkuat reputasi Malaysia sebagai sumber sarung tangan berkualitas tinggi yang premium dan tepercaya dengan memprioritaskan keandalan, kredibilitas, dan kepatuhan yang ketat dibandingkan alternatif berbiaya rendah. • Kemajuan Teknologi: Membangun keunggulan teknis yang lebih tajam melalui investasi berkelanjutan dalam otomatisasi, ilmu material, efisiensi proses, dan solusi manufaktur berkelanjutan. • Jalur Pengembangan Bakat & Ekosistem Pengetahuan: Menjembatani kesenjangan antara industri dan akademisi untuk membangun kemampuan penelitian yang kuat dan mengamankan tenaga kerja yang sangat terampil untuk masa depan. • ESG & Praktik Berkelanjutan: Secara proaktif meningkatkan standar industri dalam tata kelola tenaga kerja, pengadaan yang bertanggung jawab, dan transparansi rantai pasokan untuk memenuhi harapan pembeli yang terus berkembang dan persyaratan akses pasar. Respons positif terhadap upacara penandatanganan sponsor semakin mencerminkan kepercayaan industri terhadap IRGCE 2026 dan peran berkelanjutan Malaysia di pusat ekosistem sarung tangan global. MARGMA juga menyampaikan apresiasi tulusnya kepada semua sponsor atas dukungan berharga mereka terhadap IRGCE ke-12 tahun 2026. Para Sponsor Emas adalah: • Hartalega NGC Sdn Bhd • Kossan Lateks Industri Sdn Bhd • Reebow Intelligent Equipment (M) Sdn Bhd • Pabrikan Sarung Tangan Supermax Sdn Bhd • Tiong Tat Printing Industries Sdn Bhd • Top Glove Sdn Bhd Para Sponsor Perak adalah: • CCM Polymers Sdn Bhd • Koon Seng Sdn Bhd Para Sponsor Perunggu adalah: • Anhui INTCO Medical Products Co., Ltd. • Gas Malaysia Energy and Services Sdn Bhd • Lexis Chemical Sdn Bhd • Sri Trang Gloves (Thailand) Perusahaan Publik Terbatas. Upacara penandatanganan MoU antara MARGMA dan MRC mencerminkan semangat kemitraan yang berkelanjutan dan komitmen bersama dalam memajukan IRGCE 2026 dan memperkuat posisi Malaysia di industri sarung tangan karet global. Mitra pendukung acara ini meliputi Dewan Karet Malaysia (MRB), Kementerian Investasi, Perdagangan dan Industri (MITI), Perusahaan Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Malaysia (MATRADE), Biro Konvensi dan Pameran Malaysia (MyCEB), dan Institut Plastik & Karet Malaysia (PRIM). Dengan partisipasi industri yang kuat, kolaborasi strategis, dan dukungan institusional yang berkelanjutan, IRGCE 2026 ke-12 siap menjadi edisi acara yang paling berdampak hingga saat ini, memperkuat posisi Malaysia sebagai pemimpin yang serius, kredibel, dan siap menghadapi masa depan dalam ekosistem sarung tangan karet global.
RI dan India: Membangun Motor Baru Pertumbuhan Asia
dunia yang memiliki potensi sebesar ini. Karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi seharusnya tidak hanya dikenang sebagai sebuah kunjungan kenegaraan. Kunjungan tersebut semestinya menjadi titik awal ketika dua peradaban besar memutuskan untuk membangun masa depan bersama, yang tidak hanya bertumpu pada sejarah, tetapi juga pada inovasi, kemitraan, dan kesejahteraan bersama.
Transaksi Kripto RI Hampir Rp100 Triliun, Pelaku Industri Mulai Profit
Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto Indonesia terus memperlihatkan perkembangan positif, baik dari sisi transaksi perdagangan dan jumlah investor. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aktivitas transaksi kripto di pasar spot telah mencapai Rp99,01 triliun secara year-to-date hingga April 2026, mendekati ambang Rp100 triliun hanya dalam periode empat bulan. Pertumbuhan tersebut turut ditopang oleh peningkatan jumlah pengguna aset keuangan digital dan aset kripto di Indonesia. Hal ini menunjukkan minat masyarakat terhadap instrumen aset digital masih tetap kuat, meski kondisi pasar global masih bergerak fluktuatif. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyampaikan nilai transaksi aset kripto pada April 2026 tercatat sebesar Rp22,98 triliun. Realisasi tersebut lebih tinggi 2,86 persen dibandingkan Maret 2026 yang berada di level Rp22,34 triliun. Dengan tambahan transaksi pada April, akumulasi transaksi kripto nasional sejak awal tahun telah mencapai Rp99,01 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia masih cukup solid di tengah dinamika pasar. “Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto di Indonesia tercatat masih terjaga dengan baik,” ujar Adi Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Mei 2026, Juma (5/6). Jumlah Konsumen Terus Bertumbuh Selain dari sisi transaksi, OJK juga mencatat adanya kenaikan jumlah akun konsumen aset keuangan digital dan aset kripto. Pada April 2026, jumlah akun konsumen mencapai 21,70 juta, meningkat dari 21,37 juta akun pada Maret 2026. Kenaikan sebesar 1,57 persen secara bulanan tersebut menjadi sinyal bahwa adopsi aset kripto di Indonesia masih berlanjut. Bertambahnya jumlah akun konsumen juga memperlihatkan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap pemanfaatan aset digital sebagai bagian dari aktivitas keuangan mereka. Kondisi ini sekaligus memperkuat pandangan ekosistem aset kripto nasional mulai memasuki tahap perkembangan yang lebih matang, tidak hanya dari sisi jumlah pengguna, tetapi juga dari sisi aktivitas transaksi dan kesiapan pelaku usaha. PAKD Mulai Tunjukkan Kinerja Positif Perkembangan industri juga terlihat dari kinerja Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD). OJK menyampaikan bahwa seluruh PAKD telah menyerahkan laporan keuangan untuk tahun buku 2025. Dari laporan tersebut, sebagian pelaku usaha telah berhasil mencatatkan kinerja yang positif. Di sisi lain, masih terdapat pelaku usaha yang berada dalam tahap konsolidasi dan investasi. Fase tersebut terutama berkaitan dengan kebutuhan pengembangan teknologi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian terhadap kerangka pengawasan OJK. Salah satu PAKD yang mencatatkan performa positif adalah Tokocrypto. Perusahaan berhasil membukukan profitabilitas selama dua tahun berturut-turut. Capaian ini mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam memperkuat model bisnis, menjaga efisiensi operasional, serta meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap platform. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa industri kripto di Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang sehat apabila dijalankan dengan tata kelola yang baik, inovasi berkelanjutan, dan komitmen terhadap perlindungan konsumen. “Capaian profitabilitas Tokocrypto dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa industri aset kripto dapat berkembang secara lebih sehat dan berkelanjutan. Bagi kami, pertumbuhan bisnis harus berjalan seimbang dengan penguatan produk, peningkatan kualitas layanan, keamanan sistem, serta kepatuhan terhadap regulasi,” ulas Calvin. Produk Kripto Semakin Beragam Calvin menjelaskan, Tokocrypto terus mengembangkan produk dan layanan untuk menjawab kebutuhan pengguna yang semakin beragam. Penguatan layanan ini dilakukan untuk menciptakan pengalaman transaksi yang lebih mudah, aman, dan relevan dengan kondisi pasar. Saat ini, sejumlah produk yang paling banyak diminati pengguna Tokocrypto mencakup perdagangan spot, staking, serta fitur Dollar Cost Averaging (DCA) atau pembelian berkala. Ketiga layanan tersebut dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi pengguna dengan kebutuhan dan strategi yang berbeda. Perdagangan spot masih menjadi pilihan utama karena memberikan akses langsung bagi pengguna untuk melakukan jual beli aset kripto. Sementara itu, staking menjadi alternatif bagi pengguna yang ingin mengoptimalkan aset kripto yang dimiliki. Di sisi lain, DCA semakin diminati karena membantu pengguna melakukan pembelian secara bertahap dalam periode tertentu. “Dalam situasi pasar yang masih bergerak dinamis, pengguna membutuhkan layanan yang tidak hanya mudah digunakan, tetapi juga membantu mereka mengambil keputusan secara lebih terencana. Spot trading tetap menjadi produk utama, sementara staking dan DCA semakin relevan bagi pengguna yang ingin menghadapi volatilitas pasar dengan pendekatan yang lebih disiplin,” jelas Calvin. Ketahanan Industri Jadi Perhatian Utama OJK menegaskan penilaian terhadap industri aset keuangan digital dan aset kripto tidak hanya bertumpu pada aspek profitabilitas. Regulator juga memperhatikan kecukupan modal, kualitas tata kelola, keandalan teknologi, keamanan siber, serta kemampuan pelaku usaha dalam melindungi aset dan dana konsumen. “Yang paling penting adalah industri memiliki ketahanan, tata kelola yang baik, dan mampu menjalankan kewajibannya kepada konsumen secara kredibel,” ujar Adi. OJK juga menyoroti profitabilitas industri masih memiliki tantangan. Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain beban biaya transaksi serta aspek perpajakan. Oleh karena itu, regulator bersama pemangku kepentingan terkait terus melakukan kajian untuk mendorong ekosistem aset keuangan digital yang lebih sehat dan kompetitif. Ekosistem Kripto Nasional Terus Diperkuat Dengan nilai transaksi yang hampir menyentuh Rp100 triliun hingga April 2026, pertumbuhan jumlah konsumen, serta mulai membaiknya kinerja sejumlah PAKD, industri kripto Indonesia dinilai berada pada jalur pertumbuhan yang lebih kuat. Calvin menilai momentum ini perlu dijaga melalui kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat. Penguatan edukasi, peningkatan standar layanan, inovasi produk, serta penerapan tata kelola yang baik menjadi faktor penting untuk membangun ekosistem aset kripto yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Ke depan, industri aset kripto nasional diharapkan tidak hanya tumbuh dari sisi transaksi, tetapi juga mampu memperkuat kepercayaan publik melalui layanan yang kredibel, transparan, dan sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.
Pusat Industri RI Bergeser, Subang Jadi Arah Baru Pertumbuhan
Subang, katakabar.com - Secara nasional, kawasan industri di Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh. Kementerian Perindustrian mencatat tingkat okupansi kawasan industri hingga awal tahun ini berada pada level 58,19 persen. Tetapi, pertumbuhan yang terkonsentrasi di wilayah tertentu seperti Bekasi dan Karawang membuat kawasan tersebut semakin padat, sehingga mendorong pelaku industri untuk mulai mencari lokasi baru di luar koridor Bekasi - Karawang. Ketimpangan distribusi ini mulai memengaruhi arah ekspansi industri. Di satu sisi, kawasan existing menghadapi keterbatasan land bank dan meningkatnya tekanan biaya, sementara di sisi lain, kebutuhan industri terus berkembang, tidak lagi sekadar membutuhkan lahan, tetapi juga ekosistem yang mampu mendukung efisiensi rantai pasok dan konektivitas global. Laporan Colliers International menunjukkan bahwa keterbatasan pasokan lahan di kawasan industri yang telah matang, seperti Bekasi dan Karawang, mendorong pergeseran ekspansi ke wilayah baru, termasuk Purwakarta hingga Subang. Pergeseran ini mencerminkan pola perkembangan kawasan industri yang mengikuti ketersediaan lahan dan dukungan infrastruktur yang lengkap; jalan tol, pelabuhan dan bandar udara. Perubahan kebutuhan ini juga sejalan dengan berkembangnya sektor industri baru seperti kendaraan listrik, elektronik, hingga pusat data, yang menuntut kesiapan infrastruktur dan integrasi kawasan sejak awal. Dalam konteks tersebut, wilayah Subang mulai muncul sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru. Didukung oleh kehadiran Pelabuhan Patimban serta akses ke jaringan Tol Trans-Jawa, kawasan ini menawarkan struktur biaya operasional yang memfasilitasi kelangsungan industri manufaktur jangka panjang. Sinergi antara konektivitas infrastruktur yang efisien, ketersediaan kawasan industri, hingga tenaga kerja yang kompetitif memberikan alternatif biaya produksi yang berdaya saing tinggi di samping koridor industri mapan seperti Bekasi dan Karawang. Kawasan ini dinilai memiliki fondasi yang lebih relevan untuk mendukung fase baru industrialisasi di Indonesia. “Kalau sebelumnya industri cukup mencari lahan, sekarang mereka mencari ekosistem yang siap pakai, mulai dari logistik, tenaga kerja, hingga konektivitas global. Kebutuhan ini semakin sulit dipenuhi di kawasan yang sudah padat,” ujar Binawati Dewi, GM Sales & Tenant Relations Suryacipta. Ia menambahkan, pergeseran ini bukan sekadar ekspansi geografis, melainkan perubahan dalam cara industri menentukan lokasi investasi. “Ini bukan hanya soal perkembangan industri, tetapi tentang bagaimana industri beradaptasi dengan kebutuhan baru. Kawasan yang sejak awal dirancang untuk terintegrasi akan menjadi pilihan utama,” ucapnya. Seiring dengan tren tersebut, Subang Smartpolitan yang dikembangkan oleh PT Suryacipta Swadaya (Suryacipta) - anak usaha dari PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), telah diposisikan sebagai kawasan yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri masa kini. Kawasan ini tidak hanya dikembangkan sebagai area industri, tetapi juga mengusung konsep kota terintegrasi yang menggabungkan fungsi industri, komersial, dan hunian dalam satu ekosistem. Dengan kombinasi kebutuhan industri yang semakin kompleks, distribusi kawasan industri yang tidak merata, serta dukungan infrastruktur nasional, Subang kini mulai dipandang sebagai salah satu arah baru dalam peta pertumbuhan industri Indonesia. Jika tren ini berlanjut, pergeseran pusat pertumbuhan industri ke wilayah baru diperkirakan akan semakin menguat dalam beberapa tahun ke depan.
Transaksi Kripto RI Turun 24,5 Persen, Tokocrypto Dorong Likuiditas lewat Deposit BCA
Jakarta, katakabar.com - Aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia mengalami perlambatan menjelang akhir tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto pada November 2025 mencapai Rp37,20 triliun, turun 24,53 persen dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar Rp49,29 triliun. Meski demikian, secara kumulatif sepanjang tahun 2025 (year to date/ytd), total nilai transaksi aset kripto masih tercatat signifikan, yakni mencapai Rp446,77 triliun. Di tengah dinamika pasar tersebut, Tokocrypto mencatatkan kinerja yang tetap solid. Hingga November 2025, total nilai transaksi di Tokocrypto telah mendekati Rp150 triliun, mencerminkan tingginya minat dan partisipasi pengguna meskipun pasar global tengah berada dalam fase koreksi. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan penurunan transaksi secara umum sejalan dengan pergerakan harga Bitcoin yang diperkirakan mencatatkan bulan terburuk kedua sepanjang 2025. Pada November, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 17 persen akibat kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, melemahnya permintaan institusional, serta meningkatnya tekanan jual dari investor jangka pendek. “Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global. Volatilitas berlanjut hingga November dan diperparah oleh penutupan pemerintahan AS yang memecahkan rekor, sehingga memperketat likuiditas di pasar keuangan tradisional,” jelas Calvin. Selain faktor makroekonomi, kata Calvin, arus dana institusional juga menunjukkan pelemahan. Data SoSo Value mencatat ETF Bitcoin di Amerika Serikat mengalami arus keluar dana sebesar US$3,48 miliar sepanjang November, menjadi arus keluar bulanan terbesar kedua sejak produk tersebut diluncurkan pada 2024. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen investor domestik, yang cenderung mengambil posisi wait and see menjelang musim liburan akhir tahun dan perayaan Natal. Menurut Calvin, koreksi pasar merupakan bagian dari siklus industri kripto yang perlu disikapi secara bijak. “Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripto tetap kuat,” jelasnya. Akselerasi Volume Transaksi Kripto Menanggapi kondisi tersebut, Tokocrypto mengambil langkah strategis untuk mendorong kembali aktivitas transaksi kripto di Indonesia dengan menghadirkan kanal deposit baru melalui Bank Central Asia (BCA). Menjawab tingginya permintaan pengguna, Tokocrypto kini resmi membuka fitur deposit melalui Virtual Account BCA. Dengan metode ini, proses deposit Rupiah menjadi lebih mudah, cepat, dan nyaman tanpa biaya tambahan, sehingga pengguna dapat memilih metode transaksi yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Calvin menambahkan, peluncuran fitur deposit BCA menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk meningkatkan kemudahan akses bagi pengguna. “Peluncuran fitur deposit melalui Virtual Account BCA merupakan jawaban atas permintaan banyak pengguna agar proses top up Rupiah bisa lebih cepat dan praktis tanpa biaya tambahan. Kami percaya kemudahan akses menjadi kunci untuk menjaga likuiditas dan mendorong aktivitas transaksi, terutama di periode akhir tahun ketika volume perdagangan biasanya melambat,” ucapnya. Lebih lanjut, Calvin menilai periode akhir tahun tetap menyimpan peluang menarik di pasar kripto, meski volatilitas masih menjadi karakter utama. Secara historis, Bitcoin kerap menunjukkan pola musiman yang dikenal sebagai “Santa Claus rally”, yakni kecenderungan penguatan harga pada pekan menjelang Natal hingga periode setelah Natal. Kurun satu dekade terakhir, Bitcoin tercatat mengalami reli tujuh kali pada periode pra-Natal dan lima kali pada periode pasca-Natal, dengan rentang penguatan pra-Natal sekitar 0,20%–13,19% dan pasca-Natal 0,33%–10,86%. Tetapi, Calvin menekankan pola musiman tersebut tidak selalu terjadi setiap tahun, seperti pada 2017, Bitcoin justru terkoreksi tajam, sehingga strategi dan manajemen risiko tetap krusial. “Di tengah fase koreksi global, data historis menunjukkan akhir tahun sering menjadi periode yang dinamis. Momentum musiman seperti Santa Claus rally kerap memunculkan peluang, tetapi tetap harus disikapi dengan disiplin dan manajemen risiko yang baik. Untuk itu, kami menyiapkan ekosistem yang makin memudahkan pengguna untuk merespons pergerakan pasar secara cepat dan efisien,” imbuh Calvin. Ke depan, ulasnya, kami tetap optimistis terhadap prospek pasar kripto. Tokocrypto akan terus menghadirkan inovasi layanan, memperluas opsi pembayaran, serta memperkuat edukasi agar semakin banyak masyarakat dapat memanfaatkan peluang pasar secara optimal, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko.
RI Tampilkan AI, Sawit Berkelanjutan dan UMKM Go Internasional di CAEXPO 2025
di Paviliun Komoditas Indonesia di Hall D5. Acara dibuka dengan tarian Tak Tong Tong asal Sumatera Barat ini dihadiri Sekjen CAEXPO Qin Webing. Di Paviliun Komoditas, delegasi Indonesia menampilkan 74 booth dengan produk unggulan Indonesia seperti sawit dan turunannya, kerajinan, kopi, cengkeh, buah tropis, furnitur, fashion, serta potensi wisata.
Meski RI Dikenai Tarif 19 Persen AS, Tarif impor Baja Merah Putih ke 'Negeri Paman Sam' Tembus 50 Persen
Jakarta, katakabar com - Harapan pelaku industri baja Indonesia untuk menikmati tarif masuk preferensial 19 persen ke pasar Amerika Serikat atau AS harus terkubur dalam-dalam. Kenyataannya, produk baja nasional justru dihadapkan pada tarif lebih dari 50 persen disebabkan kebijakan proteksionis Washington. Kondisi ini tidak hanya membatasi akses ekspor, tetapi juga memicu ancaman serius bagi pasar domestik. Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang diumumkan pada 22 Juli 2025 lalu, yang seolah menjanjikan tarif 19 persen melalui Executive Order atau EO 14257, ternyata tidak berlaku untuk sektor baja. Dokumen kebijakan tersebut secara eksplisit mengecualikan produk baja dan aluminium, yang tetap tunduk pada rezim tarif khusus Section 232. Menurut ketentuan Section 232, seluruh produk baja Indonesia tanpa terkecuali dikenai tarif dasar sebesar 50 persen. "Ini adalah realita yang harus kita hadapi. Angka 19% itu tidak berlaku untuk baja," kata Widodo Setiadharmaji, pemerhati industri baja dan pertambangan, lewat rilis resmi diterima katakabar.com, Rabu siang. Beban biaya itu, tekan Widodo Setiadharmaji, bahkan menjadi lebih besar untuk produk-produk strategis. Misalkan, untuk baja canai panas atau HRC, pelat, baja tulangan, dan PC Strand, tarif efektifnya bisa meroket hingga 108 persen hingga 122 persen. Angka fantastis ini akumulasi dari tarif dasar 50 persen ditambah dengan bea antidumping (AD) dan bea imbalan (CVD) yang mencapai 58 persen hingga 72 persen. Meski begitu, tutur Widodo Setiadharmaji, secercah peluang tetap ada. Produk baja lapis (coated steel), stainless steel, dan alloy tertentu yang tidak dikenai trade remedies tambahan, tarifnya "hanya" berkisar 50 persen hingga 55 persen.
Baja Lapis RI Tembus Pasar AS, Menperin: Bukti Daya Saing Industri Nasional
Jakarta, katakabar.com - Industri baja nasional terus menunjukkan ketangguhannya di tengah tantangan global. Peluang ekspor semakin terbuka lebar seiring dengan kebijakan pembatasan perdagangan di sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat atau AS yang masih menerapkan tarif tinggi terhadap produk baja berdasarkan Section 232. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, meski tarif impor baja di AS bisa mencapai 50 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata tarif produk lain yang berkisar 19 persen, AS tetap bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan baja lapisnya. “Ini menjadi celah yang berhasil dimanfaatkan oleh industri nasional. Amerika tetap membutuhkan baja lapis, dan Indonesia mampu menyediakannya dengan kualitas tinggi,” kata Menperin di acara Pelepasan Ekspor Produk Baja Lapis PT Tata Metal Lestari ke Amerika Serikat, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/7) lalu. Menperin memberikan apresiasi tinggi kepada PT Tata Metal Lestari atas keberhasilannya menembus pasar ekspor AS di tengah kebijakan proteksionis yang ketat. Keberhasilan ini sebagai wujud ketangguhan industri manufaktur Indonesia dalam menghasilkan produk berstandar global. “Saya bangga, dan mengapresiasi capaian luar biasa ini. Produk baja lapis yang diekspor tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga menunjukkan daya saing industri baja nasional yang terus meningkat,” tegasnya. Di momen itu, PT Tata Metal Lestari mengirimkan ekspor baja lapis ke pasar AS dengan volume sebesar 10.000 ton senilai USD 12,6 juta. Sepanjang tahun 2025, perusahaan menargetkan ekspor mencapai 69.000 ton, naik 133 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 lalu. “Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa ekspor ke Amerika Serikat dan Kanada telah dilakukan secara berkelanjutan sejak Oktober 2024. Ini membuktikan produk baja Indonesia dipercaya dan diterima di pasar global, bahkan di tengah dinamika kebijakan perdagangan yang terus berubah,” ucap Menperin. Lantas Agus soroti pentingnya kolaborasi antara PT Tata Metal Lestari sebagai pelaku industri hilir dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. selaku penyedia bahan baku dari sektor hulu.
Bupati Langkat Dorong Kolaborasi Perangkat Daerah dalam Penyusunan RKPD 2026
Langkat, Katakabar.com - Forum ini merupakan bagian dari amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 86 Tahun 2017 yang mengatur tata cara...
Pakar Ekonomi Ini Minta RI Ubah Narasi Global Minyak Sawit Pasca Menang Sengketa di WTO
Jakarta, katakabar.com - Pakar ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Gigih Prihantono menilai kemenangan gugatan sengketa dagang mengenai diskriminasi UE membuka keran ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia terutama terkait ekspor minyak sawit dan produk turunannya. “Ini momentum penting bagi Indonesia sudah lama berjuang melawan berbagai kebijakan yang tidak adil dari UE. Ini sebuah kemenangan yang luar biasa. Di mana Indonesia menunjukkan pengaruhnya di dunia internasional. Kemenangan dalam sengketa kelapa sawit menjadi simbol penting negara berkembang bisa melawan diskriminasi dagang negara-negara besar," ujar Gigih lewat keterangan pers, dilansir dari laman EMG, Jumat (24/1).