Sejarah
Sorotan terbaru dari Tag # Sejarah
India dan Indonesia: Hubungan Kuno Terjalin Melalui Sejarah, Budaya dan Kehidupan Sehari-hari
Oleh: Dr. Manish Shrivastava* Jakarta, katakabar.com - Jauh sebelum ada kedutaan besar, kunjungan kenegaraan, atau perjanjian diplomatik, hubungan India dan Indonesia telah dimulai dari laut. Para pedagang, biksu, cendekiawan, perajin, pendongeng, dan peziarah tidak hanya membawa barang dagangan melintasi samudra. Mereka juga membawa bahasa, aksara, kepercayaan, kisah-kisah, tradisi kuliner, serta cara pandang terhadap kehidupan. Di tengah lalu lintas manusia dan gagasan itu, sosok Resi Agastya turut memasuki imajinasi masyarakat Nusantara. Di Pulau Jawa, ia dikenang sebagai guru yang membawa ajaran Hindu, disiplin, dan nilai-nilai spiritual. Kehadirannya dalam tradisi candi, termasuk di Prambanan, menunjukkan betapa dalamnya pengaruh pemikiran India yang kemudian bertransformasi menjadi bagian dari identitas Indonesia sendiri. Kerajaan-kerajaan kuno semakin mempererat hubungan tersebut. Sriwijaya di Sumatra berkembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang memiliki hubungan erat dengan Universitas Nalanda di India. Di Jawa dan Bali, kisah Ramayana dan Mahabharata menemukan kehidupan baru melalui tari, teater, seni pahat, penamaan, hingga berbagai ritual budaya. Bagi seorang India yang berdiri di hadapan Candi Borobudur atau Prambanan, sering kali muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Kisah-kisahnya terasa akrab, tetapi cara masyarakat Indonesia menghidupkannya benar-benar memiliki karakter yang khas. Barangkali penyair besar India, Rabindranath Tagore, juga merasakan hal serupa ketika mengunjungi Jawa dan Bali pada tahun 1927. Sebagai seorang penyair, ia mampu melihat hal-hal yang sering luput dari perhatian para pelancong. Ia menyaksikan candi, tari, musik, ritual, dan kehidupan masyarakat desa. Namun yang paling membekas baginya adalah bagaimana keindahan begitu menyatu secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Tagore menemukan gema India di Indonesia, tetapi setiap gema itu telah memperoleh suaranya sendiri. Kisah-kisah epik tetap hidup, namun bergerak dengan kelembutan budaya Jawa. Pemikiran Hindu tetap bertahan, tetapi di Bali berkembang melalui upacara adat, sesajen, kehidupan komunal, dan penghormatan terhadap alam. Musik gamelan memiliki kesabarannya sendiri. Tarian berbicara melalui keheningan. Gerak tubuh berlangsung perlahan, ekspresi tetap tenang, tetapi pesannya mampu menyentuh hati. Saya sendiri berkali-kali merasakan pengalaman serupa. Di Indonesia, masa lalu jarang hadir secara mencolok. Ia hidup tenang di balik nama-nama orang, upacara adat, candi, tradisi keluarga, bahkan dalam cara masyarakat memaknai waktu. Perjuangan kemerdekaan kemudian memberikan makna emosional yang lebih dalam bagi kedekatan kedua bangsa. India dan Indonesia sama-sama pernah merasakan pahitnya penjajahan. Masyarakat di kedua negara memahami bagaimana rasanya ketika tanah, perdagangan, pendidikan, bahkan martabat bangsa berada di bawah kendali pihak asing. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 dan harus berjuang panjang memperoleh pengakuan internasional. India menyusul meraih kemerdekaan dua tahun kemudian. Saat itu, berbagai bangsa di Asia sedang merebut kembali suara dan identitas mereka setelah berabad-abad hidup di bawah kolonialisme. Dukungan India terhadap Indonesia bukan semata-mata lahir dari kepentingan diplomatik. Dukungan itu juga tumbuh dari kesamaan pengalaman sejarah, dari rasa hormat satu peradaban tua terhadap peradaban tua lainnya yang sedang berusaha kembali menemukan tempatnya di dunia. Laut memang memisahkan kedua negara. Bahasa dan pengalaman kolonial pun berbeda. Namun makna kebebasan yang dirasakan masyarakat keduanya sangatlah serupa. Setelah sama-sama merdeka, hubungan India dan Indonesia memperoleh bentuk resmi melalui berbagai kerja sama antarnegara. Namun bagi mereka yang pernah hidup di kedua negeri ini, hubungan tersebut selalu terasa melalui hal-hal sederhana. Saya menemukannya dalam nama-nama seperti Dewi, Putri, Indra, Wisnu, dan Surya. Saya melihatnya dalam pertunjukan Ramayana di Jawa, ketika cerita berasal dari India, tetapi gerak tari, irama musik, dan suasananya sepenuhnya milik Indonesia. Saya juga menemukannya di Bali. Seorang pengunjung dari India mungkin mendengar mantra-mantra yang familiar, tetapi akan menyaksikan cara beribadah, sesajen, kehidupan pura, dan kedisiplinan masyarakat yang berbeda namun tetap terasa dekat. Saya merasakannya pula di Jakarta, tempat makanan India, film Bollywood, yoga, Ayurveda, dunia usaha, pendidikan, dan komunitas India hidup berdampingan secara harmonis dengan keramahan masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia, tata krama, dan budaya lokal. Kunjungan resmi dari India ke Indonesia pada bulan Juli ini menjadi bagian dari tradisi panjang tersebut. Bagi saya pribadi, kunjungan ini menyentuh sesuatu yang telah saya alami dalam kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun. Saya datang ke Indonesia sebagai seorang profesional biasa dari India. Hal pertama yang ditantang negeri ini bukanlah kemampuan saya bekerja, melainkan cara saya memandang waktu. Saya datang dengan kebiasaan khas India: ingin bertanya cepat, mengambil keputusan cepat, menindaklanjuti pekerjaan dengan cepat, dan menganggap bahwa jika sesuatu sudah jelas bagi saya, maka tentu akan segera jelas pula bagi orang lain. Indonesia tidak pernah memperdebatkan kebiasaan itu. Indonesia hanya membuat saya belajar menunggu. Sebuah percakapan sering kali dimulai dengan secangkir teh. Sebuah keputusan lahir setelah banyak percakapan kecil. Bahkan sebuah kata "ya" pun membutuhkan waktunya sendiri. Kata nanti dapat memiliki begitu banyak makna. Pada awalnya saya merasa gelisah. Namun perlahan saya memahami bahwa masyarakat Indonesia bukan sedang menguji efisiensi saya. Mereka hanya ingin mengetahui apakah saya dapat dipercaya, apakah saya mampu mendengarkan, dan apakah saya tetap tenang ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai jadwal yang saya buat. Saat Idul Fitri pertama saya di Indonesia, saya mendengar ucapan, "Mohon maaf lahir dan batin." Ucapan itu langsung mengingatkan saya pada tradisi Jain di India yang mengenal ungkapan Micchāmi Dukkaḍaṃ, yaitu permohonan maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, baik disengaja maupun tidak. Bahasanya berbeda. Tradisi agamanya pun berbeda. Namun maknanya terasa sangat akrab. Saya melihat keluarga saling mengunjungi, membawa makanan, meminta maaf, berbicara dengan lembut, serta menempatkan hubungan antarmanusia di atas ego pribadi. Nilai-nilai serupa juga saya temukan dalam keluarga-keluarga di India, terkadang saat perayaan, setelah terjadi perselisihan keluarga, atau melalui penghormatan yang diberikan kepada orang tua tanpa perlu dijelaskan alasannya. Pengalaman-pengalaman kecil inilah yang kemudian menjadi benih lahirnya buku saya, Sabar, Sambal & Survival. Kini, setiap kali memikirkan hubungan India dan Indonesia, yang terlintas justru momen-momen sederhana tersebut. Seorang warga India yang belajar berbahasa Indonesia sebelum bertamu ke rumah orang Indonesia. Seorang sahabat Indonesia yang dengan sabar menjelaskan adat setempat tanpa membuat orang asing merasa canggung. Sebuah meja makan tempat sambal berdampingan dengan masakan India, dan keduanya terasa sama-sama pantas berada di sana. Atau ucapan selamat hari raya yang membawa semangat saling memaafkan, meski diucapkan dalam bahasa yang berbeda. Indonesia mengajarkan saya cara baru memahami manusia, tata krama, penghormatan, humor, makanan, agama, keluarga, bahasa, dan rasa memiliki. Di India, saya sering mendengar pepatah, "Sabr ka phal meetha hota hai" yang berarti "buah kesabaran itu manis." Tetapi setelah tinggal di Indonesia, saya memahami maknanya secara berbeda. Di sini, kesabaran tidak pernah diajarkan melalui nasihat. Kesabaran hadir melalui proses menunggu, secangkir teh, keheningan, keluarga, makanan, senyuman, dan terkadang sedikit sambal di sampingnya. Ketika akhirnya kita benar-benar memahaminya, kesabaran bukan lagi sekadar terasa manis. Ia memiliki rasa. *Dr. Manish Shrivastava adalah penulis dan profesional asal India yang berbasis di Jakarta. Ia telah tinggal dan bekerja di Indonesia sejak 2008 serta memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang layanan kesehatan berbasis Ayurveda, termasuk lebih dari sepuluh tahun memimpin bisnis Himalaya di Indonesia dan memperkenalkan produk-produk kesehatan berbasis Ayurveda kepada masyarakat Indonesia. Ia telah menulis 14 buku, termasuk seri sepuluh buku berjudul Krantidoot yang mengangkat kisah para pejuang kemerdekaan India yang kurang dikenal. Buku terbarunya, Sabar, Sambal & Survival, merefleksikan pengalaman hidupnya di Indonesia sekaligus kedekatan budaya antara India dan Indonesia.
SMPN 2 Ujungbatu Torehkan Sejarah Wujudkan Visi Budaya di Tengah Gempuran Teknologi
Ujungbatu, katakabar.com - Di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi perlahan mengikis nilai-nilai leluhur, SMP Negeri 2 Ujungbatu, Kabupaten Rokan Hulu, hadir sebagai benteng pertahanan budaya. Di bawah komando dan kepemimpinan visioner Kepala Sekolah, Dra. Hj. Yeni Irmayati, M.Pd, sekolah ini sukses gelar sebuah acara megah yang bukan sekadar perpisahan biasa, melainkan sebuah deklarasi cinta tanah air dan budaya Melayu. Usung tema megah dan penuh makna, "Takkan Hilang Melayu di Bumi", seluruh jajaran sekolah, guru, siswa, hingga orang tua bahu-membahu menyajikan pesta budaya yang memukau. Acara ini menjadi bukti nyata bahwa di tangan pemimpin yang tepat, pendidikan tidak hanya soal angka dan ijazah, tetapi juga soal jati diri dan karakter. Kepemimpinan Yeni Irmayati: Lahirkan Inovasi Diapresiasi Pemkab Keberhasilan penyelenggaraan Pentas Seni dan Bazar Masakan Khas Melayu ini tidak lepas dari tangan dingin Dra. Hj. Yeni Irmayati, M.Pd. Di bawah naungan kepemimpinannya, SMPN 2 Ujungbatu berhasil menerjemahkan visi pendidikan menjadi aksi nyata yang menyentuh hati masyarakat. Bahkan, keberhasilan ini mendapat apresiasi setinggi-tingginya langsung dari Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Rokan Hulu, Al Reza Ahyu, yang hadir langsung memantau dan membuka acara tersebut. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Rokan Hulu, Al Reza Ahyu, menegaskan inisiatif yang dilakukan oleh SMPN 2 Ujungbatu ini sangat sejalan dengan program nasional maupun daerah. "Hari ini ada program dari Kemendikdasmen, Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Karakter. Acara tersebut memperkenalkan kearifan lokal di wilayah Rokan Hulu. Guna membentuk karakter generasi muda melalui budaya Melayu," tegas Reza Ahyu di hadapan ratusan tamu undangan. Lebih jauh, Reza mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerbitkan silabus khusus tentang budaya Melayu Riau. Dan SMPN 2 Ujungbatu menjadi salah satu pelopor yang berhasil mengimplementasikannya di lapangan dengan sangat luar biasa. "Kita sudah menerbitkan silabus tentang budaya Melayu Riau. Dan inilah yang sedang dilakukan oleh SMPN 2 Ujungbatu, mempraktikkannya langsung agar anak-anak tidak hanya tahu teori, tapi merasakan dan menghayati budayanya sendiri," ujarnya bangga. Perpisahan Bermakna, Tanpa Beban Orang Tua Satu hal yang menjadi sorotan utama dan kebanggaan besar bagi Ibu Kepala Sekolah adalah konsep acara yang diusung. Berdasarkan Surat Edaran Bupati Nomor 6 Tahun 2026, acara perpisahan tidak dilarang, namun wajib dilaksanakan secara sederhana, di lingkungan sekolah, dan yang terpenting tidak memberatkan orang tua. Prinsip ini dijalankan dengan sangat baik oleh manajemen SMPN 2 Ujungbatu bersama Komite Sekolah. Acara berjalan sangat meriah, megah, dan penuh warna, namun seluruh biaya operasional didukung penuh oleh sponsor dan kerja sama strategis, tanpa memungut biaya sepeser pun dari wali murid. "Kami cukup berbangga hati. Para komite dan orang tua mensponsori acara ini, tidak menetapkan target sumbangan. Ini yang kami harapkan. Ini adalah wujud nyata Catur Warga, kolaborasi sekolah, keluarga, masyarakat, dan media," imbuh Reza. Kerja sama yang solid ini juga diperkuat dengan dukungan dari Bank BPR Rokan Hulu, yang turut serta mensukseskan acara ini, di mana diwakili Kepala Kantor Kas Ujungbatu, Reki Herawati, turut hadir memeriahkan suasana. Tarian dan Busana Melayu Pukau Hadirin Hari itu, halaman SMPN 2 Ujungbatu bagaikan sebuah kerajaan Melayu kecil yang hidup kembali. Para siswa tampil anggun mengenakan pakaian adat lengkap dengan aksesorisnya. Senyum cerah mereka menghiasi setiap sudut arena, menampilkan tarian-tarian tradisional yang memukau mata dan hati. Hadir di acara tersebut Anggota DPRD Rokan Hulu dari Komisi III, Kepala Desa Ngaso, serta para Datuk Adat dan Tokoh Masyarakat. Kehadiran mereka menandakan acara ini bukan hanya acara sekolah, tapi telah menjadi acara besar yang diakui oleh seluruh elemen masyarakat. Melihat antusiasme dan persiapan yang matang, pihak dinas pun tak sungkan memuji. "Mungkin selama saya menjadi dinas pendidikan ini yang pertama kali melihat acara sekeren ini. Saya yakin banyak yang tidak tidur mempersiapkan pakaian, menyewa baju, merias diri. Semuanya tampil maksimal hari ini," tuturnya terharu. Melawan Lupa, Menanam Karakter Sejak Dini Di balik kemeriahan panggung dan warna-warni busana, terselip pesan mendalam yang diusung oleh Ibu Yeni Irmayati dan tim. Bahwa budaya Melayu saat ini sedang terancam terdegradasi oleh kehadiran gadget, handphone, dan budaya asing. Lantaran itu, melalui acara ini, SMPN 2 Ujungbatu ingin memastikan "Budaya di daerah kita tidak boleh hilang, tidak boleh tidak diketahui oleh anak-anak kita." Mereka ingin memastikan generasi penerus tahu bagaimana makan adat, cara berpakaian adat, hingga memainkan alat musik tradisional, sebelum mereka terlalu asyik dengan dunianya sendiri di dunia maya. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, acara yang penuh makna sejarah ini resmi dibuka. Suasana haru, bangga, dan bahagia menyelimuti seluruh hadirin. Selamat dan sukses untuk Dra. Hj. Yeni Irmayati, M.Pd, beserta seluruh jajaran guru dan staf SMPN 2 Ujungbatu. Telah lahir sebuah karya besar yang menjadi contoh teladan bagi sekolah-sekolah lain di Rokan Hulu dan Riau pada umumnya. Semoga niat baik ini diridhoi Allah SWT dan menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya dalam mencerdaskan dan membudayakan bangsa.
Tren Permintaan Emas Cetak Sejarah, Kapasitas Produksi Nasional Perlu Ditingkatkan
Jakarta, katakabar.com - Permintaan emas terus meningkat secara global. Melihat tren ini, pebisnis pertambangan nasional perlu memperkuat kemandirian ekosistem industri emas nasional melalui peningkatan kapasitas pengolahan logam mulia dalam negeri. Menurut data World Gold Council, total permintaan emas kuartal I, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton. Kenaikan volume dipandang sangat solid ini, di tengah lonjakan harga emas yang signifikan, mendorong nilai permintaan kuartalan melonjak 74% menjadi rekor US$193 miliar. Permintaan emas batangan dan koin mencapai 474 ton atau naik 42%, menjadi kuartal tertinggi kedua sepanjang sejarah. Investor Asia menjadi pendorong utama dengan memborong berbagai produk investasi emas secara agresif. Pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengatakan tren peningkatan permintaan emas yang signifikan ini memberikan dua alasan bagi Indonesia khususnya melalui perusahaan tambang emas Negara untuk proaktif dalam meningkatkan produksinya. Pertama, BUMN pertambangan bisa mengambil peluang peningkatan profit dari lonjakan ini. Kedua, peningkatan produksi turut meringankan neraca perdagangan emas yang defisit. Terlebih sejak 2021, Indonesia mengalami defisit dan telah menjadi net importer. Kondisi tersebut disebabkan oleh impor yang lebih besar guna memenuhi kebutuhan dalam negeri dibandingkan dengan ekspor. “Di saat demand terhadap emas tinggi, tentu sudah jadi sentimen positif bagi BUMN tambang emas. Kondisi seperti itu akan mendorong kenaikan harga. Karena itu, peningkatan produksi menjadi sangat penting,” terang Herry. Seiring dengan itu, anak usaha holding pertambangan MIND ID melalui PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) telah berupaya meningkatkan produksi melalui pembangunan pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik. Antam telah memulai pembangunan pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik dengan kapasitas hingga 30 ton per tahun. Fasilitas ini akan menambah kapasitas produksi kepingan emas yang telah dimiliki Antam di Pulogadung, Jakarta, dengan kapasitas produksi 40 ton per tahun. Dalam rantai pasok ini, pasokan emas batangan berasal dari dua sumber utama, yakni tambang emas Antam di Jawa Barat sekitar 1 ton per tahun, serta Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sekitar 50–60 ton per tahun. Dengan rantai pasok industri terintegrasi ini, Pemerintah melalui Grup MIND ID memperkuat ekosistem bullion Indonesia untuk memenuhi permintaan emas logam mulia nasional diperkirakan mencapai sekitar 70 ton per tahun dan terus meningkat.
Wuih! Pertama dalam Sejarah PLN Operasikan BioCNG dari Limbah Sawit
Sumatera Utara, katakabar.com - Kali perdana dalam sejarah, PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) operasikan co-firing Bio Compressed Natural Gas atau BioCNG berbahan baku limbah kelapa sawit di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap atau PLTGU Belawan, Sumatera Utara. Inovasi energi bersih ini sekaligus jadi kado spesial pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke 80 Republik Indonesia. Penggunaan perdana energi terbarukan ini menjadi tonggak penting diversifikasi sumber energi ramah lingkungan, sekaligus memperkuat komitmen PLN menuju Net Zero Emissions atau NZE pada 2060 atau lebih cepat. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi atau EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, Eniya Listiani Dewi hadir di peresmian itu memberikan apresiasi langkah PLN menghadirkan inovasi BioCNG pertama di Indonesia. “Saya sangat mengapresiasi co-firing BioCNG pertama di Indonesia ini sebagai upaya membangun energi baru terbarukan atau EBT di sektor pembangkitan. Ini bakal menambah bauran EBT khususnya yang berada di Sumatera Utara,” kata Eniya Kamis kemarin, dilansir dari laman manodopost.id, Jumat (12/9). Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan PLN akan terus mengoptimalkan potensi lokal untuk menghadirkan solusi energi bersih. “Melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan ini, kami tidak hanya menghadirkan listrik yang ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi dan di saat yang bersamaan menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja baru, dan membantu mengentaskan kemiskinan,” ucap Darmawan.
Selamat Hari Jadi ke 68 Riau, Penggerak GSM: Ini Momentum Perjalanan Sejarah
Kepulauan Meranti, katakabar.com - Seorang pemuda Kepulauan Meranti yang aktif menggerakkan kegiatan sosial di tengah masyarakat, Khairul Sholeh Spd, "Penggerak Gerakan Sosial Masyarakat atau GSM Kabupaten Kepulauan Meranti" ucapkan Selamat Hari Jadi ke 68 Provinsi Riau 9 Agustus 2025. Khairul Sholeh memandang Hari Jadi ke 68 Provinsi Riau sebagai momentum penting untuk merefleksi,kan perjalanan sejarah, menjaga jati diri, dan menumbuhkan semangat kebersamaan. "Enam puluh Delapan Tahun silam, para Pendahulu kita merintis jalan panjang untuk membangun Riau hingga seperti sekarang Ini," ujar Khairul. Menurutnya, provinsi yang kaya sumber daya, berbudaya nelayu yang luhur, dan memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Semangat juang dan Pengorbanan Mereka Menjadi Inspuras bagi generasi eaat ini untuk terus berkarya dan berkontribusi yang byata. Peringatan ini tidak hanya sekadar mengenang masa-masa lalu, tapi juga menjadi ajakan menatap masa depan. Dengan semangat Riau unggul dan berdaya saing, mari kita satukan langkah, perkuat gotong royong, dan wujudkan pembangunan yang adil, berkelanjutan, serta sejahterakan seluruh lapisan masyarakat. Sebagai pemuda Kepulauan Meranti yang peduli terhadap kemajuan daerah, Khairul Sholeh mengajak seluruh generasi muda untuk terlibat aktif menjaga nilai-nilai adat, pemperkuat persatuan, dan menjadi pelopor perubahan positif.
KAI Daop 4 Semarang Ajak Komunitas Napak Tilas Telusuri Jejak Sejarah Perkeretaapian di Kota Kudus
Semarang, katakabar.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang bersama komunitas pecinta kereta api Indonesian Railways Preservation Society atau IRPS,, Kereta Anak Bangsa atau KAB, Komunitas Cerita Kudus Kota, dan Lelana Walking Tour melaksanakan kegiatan usung tema "Telusuri Jejak Kereta Api di Kudus", Minggu (22/6). Kegiatan ini diikuti lebih dari 60 peserta dari berbagai kalangan yang antusias menelusuri sisa-sisa sejarah kejayaan perkeretaapian di Kota Kudus, Jawa Tengah. Pada napak tilas ini, para peserta menyusuri rute sejauh 2 kilometer dari kawasan eks Stasiun Kliwon (stasiun kereta api pertama di Kudus) menuju eks Stasiun Kudus di kawasan Wergu. Sepanjang perjalanan, peserta diajak saksikan langsung sisa-sisa peninggalan bersejarah seperti jalur rel lama, bangunan-bangunan bekas operasional kereta api, perangkat persinyalan, serta jembatan besi peninggalan masa kolonial yang hingga kini masih berdiri kokoh. Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo mengungkapkan, kegiatan ini bagian dari komitmen KAI untuk menggali, melestarikan, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai sejarah panjang perkeretaapian di Tanah Air, khususnya di Kota Kudus. "Banyak generasi muda maupun warga Kudus sendiri yang belum mengetahui bahwa daerah ini dulu memiliki jaringan kereta api trem yang cukup maju dan bahkan memiliki stasiun besar yang menjadi denyut transportasi dan perekonomian wilayah ini. Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka kembali ingatan sejarah itu agar tidak hilang ditelan zaman," ujar Franoto. Mengenal Sekilas Sejarah Perkeretaapian di Kudus Jejak perkeretaapian di Kudus tak lepas dari kehadiran perusahaan trem swasta Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij atau SJS yang mengembangkan jaringan trem di wilayah ini sejak akhir abad ke 19. Jalur pertama dibangun dari Semarang menuju Joana, melintasi Demak, Kudus, dan Pati, sepanjang total 87,2 kilometer. Stasiun Kudus diresmikan bersamaan dengan pembukaan lintas Demak-Kudus pada 15 Maret 1884 lampau. Menariknya, stasiun pertama di Kudus, dikenal sebagai Stasiun Kliwon yang dibangun dari kayu sederhana, berdekatan dengan Alun-Alun, dan Pabrik Gula Rendeng sebagai bagian dari strategi SJS untuk menghubungkan pusat produksi gula dengan pelabuhan ekspor.
Torehkan Sejarah Baru, 100 Hari Open Network: Pi Network Pacu Adopsi Kripto lewat Serangkaian Inovasi
PiFest yang diadakan bertepatan dengan peringatan Pi Day 2025 menjadi momen penting dalam mendorong pemanfaatan Pi di sektor perdagangan lokal. Selama seminggu pelaksanaan, lebih dari 125.000 merchant mendaftar dan sekitar 58.000 merchant aktif bertransaksi. Penggunaan Map of Pi aplikasi komunitas untuk menemukan merchant menyentuh lebih dari 1,8 juta pengguna, menandakan antusiasme tinggi terhadap Pi di aktivitas ekonomi sehari-hari.
Senggau Torehkan Sejarah Baru, Prototype Mesin Pengolah TBS Sawit Jadi Migor Berhasil Diuji Coba
Sanggau, katakabar.com - Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, torehkan sejarah baru terkait pengolahan kelapa sawit. Era baru itu buah kerja sama Pemerintah Kabupaten Sanggau dan Universitas Muhammadiyah Pontianak sukses bikin prototype mesin pengolah Tandan Buah Segar (TBS) sawit menjadi minyak goreng. Tak tanggung-tanggung, uji coba yang dilakukan terhadap mesin ini memberikan hasil yang memuaskan. Menurut Penjabat (Pj) Bupati Sanggau, Suherman menilai penemuan ini sangat luar biasa.