Peringati Hari Krida Pertanian, PTPN IV PalmCo Serap 1,34 Juta Ton TBS Petani Sawit
Sawit
2 jam yang lalu

Peringati Hari Krida Pertanian, PTPN IV PalmCo Serap 1,34 Juta Ton TBS Petani

Jakarta, katakabar.com - Sempena momentum Hari Krida Pertanian, PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara mencatat realisasi penyerapan Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan rakyat mencapai 1,34 juta ton hingga Mei 2026.  Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keberlanjutan usaha petani sawit mitra di berbagai wilayah operasional. Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo terus perkuat perannya dalam membangun ekosistem perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan melalui dukungan di sisi hilir maupun hulu, mulai dari penyerapan hasil panen hingga pendampingan peningkatan produktivitas kebun rakyat. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan peringatan Hari Krida Pertanian harus dimaknai sebagai momentum untuk menghadirkan manfaat nyata bagi petani. "Peringatan Hari Krida Pertanian seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pasar yang stabil bagi petani. Kado terbaik bagi mereka bukanlah sebuah perayaan, melainkan kepastian bahwa hasil keringat dari kebun dapat terserap maksimal," ujar Jatmiko. Serapan TBS Terus Meningkat Arus distribusi hasil panen dari kebun rakyat menuju pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, volume penyerapan TBS dari petani swadaya maupun pihak ketiga mencapai 1,34 juta ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar 1,30 juta ton. Peningkatan ini mencerminkan terus bergeraknya roda perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Menurut Jatmiko, menjaga kesiapan operasional pabrik kelapa sawit agar mampu menyerap hasil panen petani secara optimal merupakan salah satu prioritas perusahaan, terutama di tengah dinamika harga dan kondisi pasar yang terus berubah. "Ketika harga sedang dinamis atau saat memasuki masa panen raya, PKS kami berupaya menjaga keandalannya. Kami juga memastikan harga beli tetap sangat bersaing, transparan, dan selalu berpedoman pada aturan penetapan harga dari pemerintah daerah. Intervensi positif di hilir ini penting agar tata niaga sawit tingkat petani tidak terganggu," jelas Jatmiko. Selain memastikan terserapnya hasil panen petani, perusahaan juga terus memperkuat dukungan terhadap peningkatan produktivitas perkebunan rakyat melalui program edukasi dan pendampingan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menegaskan keberlanjutan kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh penyerapan hasil panen saat ini, tetapi juga oleh produktivitas kebun pada masa mendatang. "Menyerap sawit mereka hari ini menyelesaikan masalah jangka pendek. Namun, untuk memastikan kesejahteraan petani berkesinambungan, kita harus memikirkan dan merawat produktivitas kebun mereka untuk 10 hingga 20 tahun ke depan. Di situlah letak pentingnya edukasi dan pendampingan berkelanjutan di dalam ekosistem kemitraan kita," tutur Arya. Pendampingan yang dilakukan perusahaan mencakup aspek legalitas, teknis budidaya, hingga dukungan terhadap skema offtaker produksi. Sepanjang tahun 2025, perusahaan telah melakukan pendampingan terhadap lahan seluas 23.188 hektare. Program tersebut terus berlanjut pada tahun 2026. Hingga Mei 2026, proses pendampingan telah menjangkau 6.380 hektare lahan perkebunan rakyat. Kata Arya, luasan tersebut menjadi titik awal transformasi tata kelola perkebunan rakyat menuju penerapan Good Agricultural Practices (GAP). "Edukasi yang kami jalankan di lapangan bersifat komprehensif. Petani tidak dibiarkan meraba-raba menata kebun barunya. Mereka didampingi secara ketat, mulai dari fase krusial pemilihan bibit unggul yang bersertifikat, metode persiapan lahan, hingga teknis pemeliharaan pada masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)," terangnya. Ia menambahkan keberhasilan peremajaan sawit sangat ditentukan oleh kualitas pengelolaan pada fase awal penanaman. "Investasi pengetahuan di awal fase tanam ini sangat vital. Petani harus memahami bahwa perawatan yang tepat di awal akan menentukan tonase hasil panen belasan tahun ke depan. Kami ingin kebun yang diremajakan hari ini menjadi sumber penghidupan yang jauh lebih layak bagi keluarga petani kelak," tegas Arya. Melalui sinergi antara dukungan di sektor hulu melalui pendampingan agronomi dan percepatan PSR, serta kepastian penyerapan hasil panen di sektor hilir melalui operasional PKS perusahaan, PTPN IV PalmCo terus memperkuat ekosistem perkebunan kelapa sawit rakyat yang tangguh dan berkelanjutan.

Di Tengah Gejolak Harga Sawit, Holding PTPN Konsisten Serap TBS Petani Sawit
Sawit
Selasa, 16 Juni 2026 | 15:45 WIB

Di Tengah Gejolak Harga Sawit, Holding PTPN Konsisten Serap TBS Petani

Jakarta, katakabar.com -  Polemik penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani kembali menjadi perhatian beberapa pekan terakhir. Kementerian Pertanian (Kementan) bahkan mengingatkan akan memberikan sanksi hingga pencabutan izin terhadap 139 pabrik kelapa sawit (PKS) swasta yang diduga membeli TBS petani di bawah harga yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Penurunan harga tersebut dipicu kepanikan sebagian pelaku industri menyusul transisi kebijakan ekspor satu pintu serta praktik pembelian TBS di bawah harga acuan. Kondisi ini terutama dirasakan oleh petani swadaya yang belum memiliki kemitraan dengan perusahaan maupun pabrik pengolahan, sehingga di sejumlah daerah harga TBS sempat merosot jauh di bawah ketetapan pemerintah. Ketika rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar akhir pekan lalu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono meminta seluruh pelaku industri sawit tetap menjalankan transaksi perdagangan secara normal dengan mengacu pada harga yang terbentuk secara wajar. "Pelaku usaha khususnya di hilir, yaitu refinery dan eksportir untuk tetap melaksanakan atau melakukan transaksi perdagangan seperti biasa melalui acuan harga PT KPBN dan menghindari terjadinya withdraw terhadap harga yang terbentuk secara wajar," kata Sudaryono. Ia menegaskan pemerintah tidak akan ragu menjatuhkan sanksi kepada perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan tata niaga sawit. "Jika ada pelanggaran kegiatan-kegiatan sesuai dengan Permentan tentu ada sanksi administratif dan juga pencabutan izin barangkali. Dan jika ada pelanggaran hukum tentunya Kementan menggandeng Satgas Pangan," tegasnya. Serapan TBS Tetap Berjalan Di tengah sorotan terhadap ratusan PKS swasta tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui subholding PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo pastikan aktivitas pembelian TBS dari masyarakat dan petani mitra tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan hingga April 2026 perusahaan telah menyerap sekitar 1,03 juta ton TBS dari masyarakat dan mitra. Volume tersebut meningkat 2,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Jatmiko, keberlanjutan serapan TBS menjadi faktor penting dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat di sentra-sentra perkebunan sawit. "Peningkatan volume serapan ini berjalan beriringan dengan penerapan standar mutu yang jelas. Hingga April 2026, perolehan rendemen CPO kami terjaga di angka 18,69 persen," jelasnya. Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menimpali perusahaan terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan di berbagai wilayah operasional untuk memastikan implementasi ketentuan harga sesuai regulasi pemerintah. Menurutnya, keberadaan Holding Perkebunan Nusantara melalui PalmCo di sektor sawit tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas tata niaga ketika pasar mengalami gejolak. "PTPN IV PalmCo terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan untuk memastikan implementasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Kehadiran BUMN di daerah harus menjadi referensi harga yang wajar dan jangkar pengaman tata niaga, terutama saat pasar sedang mengalami gejolak," ucap Arya. Mekanisme Harga Melindungi Petani Harga TBS yang diterima petani pada dasarnya ditetapkan melalui mekanisme tim perumus harga di tingkat provinsi yang melibatkan unsur pemerintah daerah, perusahaan pengolahan sawit, serta perwakilan petani. Skema tersebut dirancang agar harga TBS mencerminkan perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, sekaligus memberikan perlindungan bagi petani dari praktik pembelian yang tidak wajar. Keberadaan mekanisme tersebut dirasakan langsung oleh petani yang tergabung dalam pola kemitraan dengan perusahaan. Selain memperoleh kepastian penjualan hasil panen, mereka juga menerima harga yang mengacu pada ketetapan pemerintah daerah. Suparman, Sekretaris Koperasi Unit Desa (KUD) Sawit Makmur di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengatakan anggota koperasinya tidak mengalami gejolak harga seperti yang dialami sebagian petani swadaya. Menurut dia, ketika harga TBS di tingkat petani swadaya sempat turun hingga sekitar Rp2.400 per kilogram pada pekan lalu, anggota koperasi tetap menerima harga sesuai ketetapan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. "Karena posisi kami adalah mitra resmi, kami menggunakan harga ketetapan dari Dinas Perkebunan Provinsi. Gejolak informasi di luaran tidak membawa pengaruh ke dalam," tuturnya. Data Dinas Perkebunan Kalimantan Selatan menunjukkan harga TBS tanaman menghasilkan berusia 10–20 tahun selama Mei berada pada kisaran Rp3.781 hingga Rp3.841 per kilogram. Kondisi serupa juga dirasakan petani di Riau. Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya, Kabupaten Rokan Hulu, Hadiyanto, mengatakan anggota koperasinya relatif terlindungi dari gejolak harga yang terjadi di pasar. Koperasi yang mengelola sekitar 731 hektare kebun sawit dan telah bermitra dengan PTPN selama hampir empat dekade tersebut tetap memperoleh harga sesuai ketentuan yang berlaku. "Di saat petani swadaya sangat terimbas dengan anjloknya harga, kami masih tersenyum. Selisih harga kami dengan pabrik-pabrik swasta terdekat lumayan signifikan, berkisar Rp600 sampai Rp1.000 per kilogram," imbuhnya. Cerita Hadiyanto, kepastian harga menjadi faktor penting terutama ketika produktivitas kebun sedang menurun akibat usia tanaman maupun proses peremajaan. "Sangat membantu anggota kami. Di saat tren produksi sedang menurun dan harga di PKS lain anjlok, PTPN tetap hadir dengan harga stabil," katanya. Turunnya harga TBS dalam beberapa pekan terakhir kembali menunjukkan pentingnya kepatuhan seluruh pelaku industri terhadap mekanisme penetapan harga yang telah disepakati. Di sisi lain, kemitraan yang kuat serta konsistensi serapan TBS oleh Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas pendapatan petani ketika pasar menghadapi ketidakpastian.

Simak! Ini Pemicu Harga TBS Kelapa Sawit Melonjak Tinggi Sawit
Sawit
Minggu, 05 April 2026 | 21:11 WIB

Simak! Ini Pemicu Harga TBS Kelapa Sawit Melonjak Tinggi

Pekanbaru, katakabar.com - Saat ini, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah daerah Indonesia tengah mengalami lonjakan signifikan, bahkan tembus kisaran Rp4.000 per kilogram. Banyak indikator dinilai menjadi penyebab meroketnya harga sawit nasional ini, salah satunya yakni pengaruh cuaca ekstrim dan ketegangan politik global. Pengamat Ekonomi Universitas Riau (Unri), Dahlan Tampubolon, mengatakan faktor cuaca yang enggak menentu bikin produksi di beberapa sentra kelapa sawit enggak sebanyak biasanya. Begitu barang di pasar tidak sebanyak permintaan, otomatis hukum ekonomi jalan yakni harga melambung tinggi. "Jadi, meskibaru libur Idulfitri, kalau buah di pohon masih malu-malu keluar, ya harganya makin pedas di timbangan," ujarnya dilanwir dari laman elaeis.co, Minggu (5/4) sore. Dahlan yang tengah sumringah dengan kehadiran putri kecilnya tersebut, menuturkan kalau dikaitkan dengan minyak mentah dunia, poin patennya adalah kelapa sawit merupakan bahan baku utama Biodiesel (B35/B40). Begitu Selat Hormuz diblokade dan harga minyak mentah (crude oil) dunia melonjak gara-gara perang atau ketegangan geopolitik, pasar dunia langsung pusing. Mereka kemudian mulai cari alternatif energi yang lebih murah. Di situlah sawit (CPO) jadi primadona. Harga minyak bumi naik, permintaan biofuel naik, ujung-ujungnya harga TBS di kebun orang tu la yang ikut terkerek naik. "Dikaitkan dengan efek substitusi minyak nabati di pasar dunia. Kelapa sawit bersaing dengan minyak kedelai dari Amerika atau minyak bunga matahari dari Ukraina. Karena kondisi global lagi kacau, pasokan minyak nabati lain itu tersendat atau harganya selangit. Alhasil, pabrik-pabrik di India dan China balik lagi mengejar sawit, karena stoknya paling siap. Jadi, kenaikan harga di Sumbar atau Riau itu sebenarnya efek dari rebutan orang luar negeri sama hasil bumi kita ini," bebernya. Tidak sampai situ, urusan kapal di laut juga dinilai ikut mempengaruhi harga timbangan RAM di pinggir jalan. Karena Selat Hormuz disumbat, rute kapal tanker dunia jadi mutar jauh dan asuransi pengiriman naik berkali-kali lipat. Biaya angkut CPO keluar negeri jadi mahal. Tetapi, lantaran permintaan dunia lagi haus-hausnya dengan minyak nabati, para pembeli global tetap berani bayar mahal. Ini yang bikin harga patokan CPO di bursa Malaysia dan Rotterdam tetap perkasa di papan atas. Data menunjukkan stok minyak sawit di negara importir utama seperti China sedang tidak banyak. Mau gak mau kondisi ini membuat China harus restocking atau isi gudang lagi buat kebutuhan industri mereka pasca-lebaran. "Begitu mereka masuk ke pasar serentak, ya harganya langsung terbakar. Makanya, harga Rp4.000 itu bukan angka gaib, itu angka hasil rebutan pembeli besar yang takut nggak kebagian barang," terangnya. "Pemerintah kita juga lagi main cantik. Kalau kebijakan Domestic Market Obligasi (DMO) diperketat untuk amankan stok minyak goreng dalam negeri, ekspor jadi agak tertahan. Tapi kalau harga dunia sudah terlalu tinggi dibanding harga lokal, tekanan untuk ekspor makin kuat. Selisih harga inilah yang seringkali bikin harga TBS di tingkat petani ikut menyesuaikan secara agresif karena pabrik kelapa sawit (PKS) berebut amankan pasokan buah untuk diolah," sebutnya. Kendati demikian, kondisi harga yang tinggi itu juga dinilai cukup beresiko. Harga sawit sangat bergantung dengan berita perang dan kebijakan ekspor-impor negara besar. Begitu Selat Hormuz dibuka lagi atau ketegangan dunia mereda, harga minyak mentah dunia bisa anjlok. Kalau itu terjadi, daya tarik sawit sebagai bahan bakar alternatif bakal turun, dan harga TBS bisa terjun juga dalam sekejap. "Harga tinggi sekarang ini sebagian besar dipicu oleh rasa takut (fear) pasar dunia akan kekurangan pasokan energi dan pangan. Kalau rasa takut ini hilang, pasar bakal melakukan koreksi harga. Jadi untuk orang itu yang punya kebun, jangan langsung foya-foya beli barang mewah dulu. Gunakan momen Rp4.000 ini buat pupuk kebun yang bagus atau tabungan, karena nggak tau kita kapan angin pasar berubah arah," terangnya. Intinya kupas Dahlan, kenaikan ini adalah perpaduan berkah dari kacaunya geopolitik dunia dan tipisnya stok nabati global. Selama Selat Hormuz masih tegang dan minyak bumi masih mahal, sawit bakal tetap jadi emas hijau yang diburu. Meski begitu, tamba Dahlan, pasar komoditas tidak abadi di puncak. Petani dan pengusaha kelapa sawit harus siap siaga dengan kondisi yang ada.

Turun Rp70,86 per Kg, Harga TBS Kelapa Sawit Swadaya Dibanderol Rp3.627 per Kg di Riau Sawit
Sawit
Rabu, 22 Oktober 2025 | 16:30 WIB

Turun Rp70,86 per Kg, Harga TBS Kelapa Sawit Swadaya Dibanderol Rp3.627 per Kg di Riau

Pekanbaru, katakabar.com - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit swadaya turun Rp70,86 per kilogram, sehingga harga 'emas hijau' nama lain dari kelapa sawit swadaya dibanderol Rp3.627 per kilogram sepekan ke depan ini. Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau yang merilis harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya di Riau periode 22 hingga 28 Oktober 2025 nanti. Kabid Pengolahan dan Pemasaran Disbun Riau, Dr Defris Hatmaja, menyampaikan penurunan harga tertinggi di kelompok umur 9 tahun sebesar Rp70,86 per kilogram setara 1,92 persen dari harga sepekan sebelumnya. "Jadi harga pembelian TBS petani turun menjadi Rp3.627,64 per kilogram dengan harga cangkang sebesar Rp26,10 per kilogram," ujar Dr Defris Hatmaja, dilansir dari laman media center Riau, Rabu (22/10). Di periode ini, ucap Defris, indeks K yang dipakai adalah indeks K untuk 1 bulan kedepan yaitu 92,62 persen, harga penjualan CPO minggu ini turun sebesar Rp331,51 per kilogram dari minggu lalu dan harga penjualan kernel minggu ini naik sebesar Rp10,88 per kilogram dari pekan lalu. Menurut Defris, ada beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tidak melakukan penjualan, berdasarkan Permentan nomor 01 tahun 2018 pasal 8 maka harga CPO dan Kernel yang digunakan adalah harga rata-rata tim, apabila harga cpo atau kernel terkena validasi 2 maka digunakan harga rata-rata KPBN. "Harga rata-rata CPO KPBN pada periode ini yaitu sebesar Rp14.582,67/Kg dan harga Kernel KPBN sebesar Rp13.305,00 per kilogram," jelasnya. Penurunan harga periode ini disebabkan faktor turunnya harga cpo. Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh stakeholder yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. "Komitmen bersama ini pada akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," imbuhnya. Ini Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Swadaya Prov Riau Nomor 38 Periode 22 hingga 28 Oktober 2025, yakni umur 3 tahun Rp2.811,35 per kilogram, umur 4 tahun Rp3.133,96 per kilogram, umur 5 tahun Rp3.361,85 per kilogram, umur 6 tahun Rp3.490,90 per kilogram, umur 7 tahun Rp3.569,67 per kilogram.

Harga TBS Beda di Sejumlah PKS di Bengkulu, Kok Bisa! Sawit
Sawit
Sabtu, 18 Oktober 2025 | 18:02 WIB

Harga TBS Beda di Sejumlah PKS di Bengkulu, Kok Bisa!

Bengkulu, katakabar.com - Tim Satuan Tugas (Satgas) monitoring penetapan harga Provinsi Bengkulu temukan sejumlah perbedaan harga kelapa sawit di sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Tim menemukan saat melakukan pemantauan harga di beberapa PKS yang tersebar di provinsi tersebut. Pada tahap awal, pemantauan tersebut dilakukan di tiga kabupaten, yakni kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur. Di mana PKS yang menjadi sasaran di kegiatan tersebut, yakni PT Agri Andalas, PT AIP, PT BSL di Air Teras, dan PT PN VII di Seluma. Lalu di Bengkulu Selatan, pemantauan dilakukan di PKS milik PT SBS di Pino Raya dan PT BSL, dan di Kabupaten Kaur, dua PKS yang disambangi adalah milik PT APLS dan PT BCS. "Kita temukan adanya ketidaksesuaian harga TBS yang diberlakukan oleh sejumlah PKS dibandingkan dengan harga yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu. Harga yang ditetapkan hanya Rp 3.020 per kilogram berbeda dengan harga penetapan periode ini Rp 3.360 per kilogram," ujar Sekretaris Apkasindo Bengkulu, Jhon Simamora dilansir dari laman Elaeis Media Group (EMG), Sabtu (18/10). Menurutnya, tidak ada satu pun pabrik yang terapkan harga yang sama. Bahkan ada pabrik yang membeli dengan harga jauh di bawah ketetapan pemerintah. Ini sangat merugikan petani, belum lagi pemberlakukan pemotongan harga di tingkat pengepul, RAM. Sehingga harga yang diterima petani bisa turun hingga di bawah Rp 3.000 per kilogram. "Kondisi ini sangat merugikan petani sawit di Bengkulu, yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil panen mereka," jelasnya. Lantaran itu, Satgas monitoring mendesak Gubernur Bengkulu untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap PKS yang membeli TBS di bawah harga ketetapan. Soalnya toleransi terhadap praktik ini hanya akan semakin memperburuk ekosistem industri sawit di daerah. “Kami minta tidak ada toleransi bagi PKS yang membeli di bawah harga pemerintah. Harus ada sanksi tegas," tegasnya. Ia menambahkan penetapan harga oleh pemerintah bertujuan menciptakan keseimbangan pasar dan mencegah persaingan tidak sehat antar PKS. Jika tidak diatur, persaingan harga dapat menyebabkan penurunan kualitas buah sawit yang dikirim petani ke pabrik, sebab mutu buah seringkali diabaikan demi harga jual.

Cangkang Dibeli Rp23,06 per Kg dan TBS Sawit Mitra Swadaya Dihargai Rp3.698,50 per Kg di Riau Sawit
Sawit
Rabu, 15 Oktober 2025 | 16:00 WIB

Cangkang Dibeli Rp23,06 per Kg dan TBS Sawit Mitra Swadaya Dihargai Rp3.698,50 per Kg di Riau

Pekanbaru, katakabar.com - Di 'Bumi Lancang Kuning' nama lain dari Provinsi Riau, Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dibeli Rp3.698,50 per kilogram periode 15 hingga 21 Oktober 2025 nanti. Sementara, Crude Palm Oil (CPO) dibanderal sebesar Rp14.825,25 per kilogram, Cangkang sebesar RP23,06 per kilogram untuk sebulan ke depan, dan harga kernel turun dibeli Rp322,88 per kilogram. Dinas Perkebunan(Disbun) Provinsi Riau bersama tim penetapan yang melakukan penetapan harga dari hasil rapat penetapan harga, Selasa (14/10) kemarin. Menurut hasil penetapan harga TBS kelapa sawit itu, kelompok umur 9 tahun naik sebesar Rp42,30 per kilogram setara 1,16 persen dibandingkan periode sebelumnya. Dengan kenaikan tersebut, harga pembelian TBS petani menjadi Rp3.698,50 per kilogram dan berlaku untuk satu sepekan ke depan. Sedang harga cangkang, itu tadi ditetapkan sebesar Rp23,06 per kilogram dan berlaku sebulan ke depan. Kabid Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Dr. Defris Hatmaja, SP, M.Si, menjelaskan kenaikan harga TBS periode ini lebih banyak dipengaruhi naiknya harga crude palm oil (CPO). “Kita tahu bersama, harga TBS kelapa sawit mitra swadaya mengalami kenaikan. Kenaikan periode ini disebabkan faktor naiknya harga CPO,” kata Defris Hatmaja, dilansir dari laman media center Riau, Rabu (15/10. Proses penetapan harga TBS kelapa sawit ini, ucap Defris, pihaknya bersama tim selalu melakukan perbaikan tata kelola agar hasil yang ditetapkan sesuai regulasi, dan berkeadilan bagi petani maupun perusahaan mitra. “Membaiknya tata kelola penetapan harga ini upaya serius dari seluruh pemangku kepentingan yang didukung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau. Komitmen ini diharapkan berdampak positif pada peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya. Di periode ini, lanjutnya, indeks K yang digunakan sebesar 92,83 persen, dengan harga penjualan CPO naik Rp290,75 per kilogram dari pekan lalu, sedang harga kernel turun Rp322,88 per kilogram. Untuk perusahaan yang tidak melakukan penjualan, digunakan harga rata-rata tim sesuai ketentuan Permentan Nomor 01 Tahun 2018 Pasal 8. "Harga rata-rata CPO KPBN pada periode ini tercatat Rp14.825,25 per kilogram sedang Kernel KPBN sebesar Rp13.353,00 per kilogram," tuturnya. Ini Daftar Harga TBS Kemitraan Swadaya Riau Periode 15 hingga 21 Oktober 2025, yakni umur 3 tahun: Rp2.864,16 per kilogram, umur 4 tahun: Rp3.194,08 per kilogram, umur 5 tahun Rp3.427,46 per kilogram, umur 6 tahun Rp3.559,43 per kilogram, umur 7 tahun Rp3.639,75 per kilogram, umur 8 tahun Rp3.683,77 per kilogram. Berikutnya, umur 9 tahun Rp3.698,50 per kilogram, umur 10–20 tahun Rp3.660,30 per kilogram, umur 21 tahun Rp3.598,96 per kilogram, umur 22 tahun Rp3.528,23 per kilogram, umur 23 tahun Rp3.447,79 per kilogram, umur 24 tahun Rp3.386,85 per kilogram, dan umur 25 tahun Rp3.336,89 per kilogram.

CPO dan TBS Sawit Mitra Plasama Kompak Naik Pekan Ini di Riau, Ini Harganya per Kilogram Sawit
Sawit
Rabu, 15 Oktober 2025 | 15:28 WIB

CPO dan TBS Sawit Mitra Plasama Kompak Naik Pekan Ini di Riau, Ini Harganya per Kilogram

Pekanbaru, katakabar.com - Minyak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mitra plasma kompak naik periode 15 hingga 21 Oktober 2025 nanti. Itu diketahui dari hasil rapat penetapan harga kelapa sawit mitra plasma oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau bersama tim. Di mana hasil penetapan harga periode 15 hingga 21 Oktober 2025 telah menggunakan tabel rendemen harga baru hasil kajian dari PPKS Medan yang disepakati tim. Menurut Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Defris Hatmaja, menyatakan untuk kenaikan harga tertinggi berada di kelompok umur 9 tahun sebesar Rp28,03 per kilogram setara mencapai 0,76 persen dari harga periode lalu. Jadi, harga pembelian TBS petani untuk periode sepekan ke depan naik jadi Rp3.714,14 per kilogram. “Untuk harga cangkang berlaku untuk satu bulan sebesar Rp17,38 per kilogram ke depan. Di periode ini indeks K yang dipakai indeks K untuk 1 bulan ke depan yakni 92,75 persen, harga penjualan CPO minggu ini naik sebesar Rp176,45 dan kernel minggu ini turun sebesar Rp181,03 dari periode lalu,” jelasnya, dilansir dari laman media center Riau, Rabu (15/10). Kata Defris, ada beberapa PKS yang tidak melakukan penjualan, berdasarkan Permentan nomor 01 tahun 2018 pasal 8 harga CPO dan kernel yang digunakan adalah harga rata-rata tim, tetapi bila terkena validasi 2 digunakan harga rata-rata KPBN. Jadi, harga rata-rata CPO KPBN periodeini adalah Rp14.825,25 dan harga kernel KPBN periode ini sebesar Rp13.353,00. “Kita ketahui bersama harga TBS yang ditetapkan tim untuk mitra plasma mengalami kenaikan. Kenaikan harga pekan ini lebih disebabkan karena faktor naiknya harga CPO,” terangnya. Di penetapan harga TBS Provinsi Riau Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau dan Tim Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun selalu melakukan perbaikan tata Kelola agar penetapan harga ini sesuai regulasi dan berkeadilan untuk kedua belah pihak yang bermitra. “Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh stakeholder yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini pada akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. Ini Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Kemitraan Plasma ProvinsiRiau Nomor 37 Periode 15 hingga 21 Oktober 2O25, yakni: umur 3 tahun Rp2.866,48 per kilogram, umur 4 tahun Rp3.245,99 per kilogram, umur 5 tahun Rp3.439,14 per kilogram, umur 6 tahun Rp3.588,40 per kilogram, umur 7 tahun Rp3.666,12 per kilogram, umur 8 tahun Rp3.709,38 per kilogram.

Harga CPO Berulah Bikin Harga TBS Sawit Mitra Plasma Umur 9 Tahun Tertekan Periode Ini Sawit
Sawit
Rabu, 08 Oktober 2025 | 12:49 WIB

Harga CPO Berulah Bikin Harga TBS Sawit Mitra Plasma Umur 9 Tahun Tertekan Periode Ini

Pekanbaru, katakabar.com - Harga Crude Palm Oil atau minyak sawit mentah berulah bikin harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mitra plasma umur tanam 9 tahun tertekan Rp9,81 per kilogram periode 8 hingga 14 Oktober 2025. Itu diketahui setelah Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau bersama tim rapat penetapan harga kelapa sawit mitra plasma. Hasil penetapan harga kelapa sawit tersebut menggunakan tabel rendemen harga baru hasil kajian dari PPKS Medan yang disepakati tim. Menurut Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau Defris Hatmaja, untuk penurunan harga tertinggi berada di kelompok umur 9 tahun sebesar Rp9,81 per kilogram setara 0,27 persen dari harga periode lalu. Jadi, harga pembelian TBS petani untuk periode sepekan ke depan turun menjadi Rp3.686,11 per kilogram, dan berlaku untuk periode sepekan ke depan. “Untuk harga cangkang sebesar Rp17,38 per kilogram berlaku sebulan ke depan. Di periode ini indeks K yang dipakai indeks K untuk 1 bulan ke depan 92,75 persen, di mana harga penjualan CPO minggu ini turun sebesar Rp6,88 dan kernel pekan ini turun sebesar Rp178,32 dari pekan lalu,” ulasnya, dilansir dari laman media center Riau, Rabu (8/10). Kata Defris, ada beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tidak melakukan penjualan, berdasarkan Permentan nomor 01 tahun 2018 pasal 8 maka harga CPO dan kernel yang digunakan harga rata-rata tim, tetapi bila terkena validasi 2 digunakan harga rata-rata KPBN. Harga rata-rata CPO KPBN periode ini sebesar Rp14.675,00 dan harga kernel KPBN periode ini sebesarRp14.041,00. “Kita ketahui bersama harga TBS yang ditetapkan tim untuk mitra plasma mengalami penurunan. Penurunan harga minggu ini lebih disebabkan karena faktor turunnyanya harga CPO dan kernel,” jelasnya. Kata Defris, penetapan harga TBS Provinsi Riau melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau dan Tim Penetapan Harga Pembelian TBS Produksi Pekebun selalu melakukan perbaikan tata kelola agar penetapan harga inisesuai dengan regulasi dan berkeadilan untuk kedua belah pihak yang bermitra. “Membaiknya tata kelola penetapan harga ini upaya serius dari seluruh stakeholder yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini akhirnya bakal berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

Harga TBS Mitra Swadaya Riau Turun Periode 8 hingga 14 Oktober 2025, Ini Penyebabnya Sawit
Sawit
Rabu, 08 Oktober 2025 | 12:12 WIB

Harga TBS Mitra Swadaya Riau Turun Periode 8 hingga 14 Oktober 2025, Ini Penyebabnya

Pekanbaru, katakabar.com - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mitra swadaya di Provinsi Riau turun periode 8 hingga 14 Oktober 2025. Penurunan tertinggi harga TBS tersebut terjadi pada kelompok umur 9 tahun sebesar Rp1,26 per kilogram setara 0,03 persen dibandingkan periode sebelumnya. Menurut Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau bersama Tim Penetapan Harga setelah menetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit untuk pekebun mitra swadaya periode 8 hingga 14 Oktober 2025. Penetapan harga tersebut melalui rapat resmi yang dipimpin Kabid Pengolahan dan Pemasaran, Defris Hatmaja, Selasa (7/10) kemarin. Di penetapan minggu ke 36 tahun 2025 ini, harga TBS mengalami penurunan tipis. Penurunan tertinggi terjadi pada kelompok umur 9 tahun sebesar Rp1,26/Kg atau 0,03 persen dibandingkan minggu sebelumnya. "Jadi, harga pembelian TBS untuk umur 9 tahun ditetapkan sebesar Rp3.656,20 per kilogram, dan berlaku untuk sepekan ke depan," ujar Defris, dilansir dari laman media center Riau, Rabu (8/10). Di periode ini, kata Defris, indeks K yang digunakan tetap sebesar 92,83 persen. Harga penjualan CPO tercatat turun sebesar Rp33,06 per kilogram menjadi Rp14.630,25 per kilogram. Sedang, harga kernel justru naik Rp108,56 per kilogram menjadi Rp14.170,00 per kilogram. Jadi, harga cangkang sawit ditetapkan Rp23,06 per kilogram, dan berlaku untuk sebulan bulan ke depan. Menurut Defris, Dinas Perkebunan (Disbun) Riau mencatat beberapa perusahaan tidak melakukan penjualan CPO dan kernel. Berdasarkan Permentan Nomor 01 Tahun 2018 Pasal 8, maka harga yang digunakan harga rata-rata tim. Kalau terkena validasi 2, ulas Defris, digunakan harga rata-rata KPBN. Pada periode ini, harga rata-rata CPO KPBN sebesar Rp14.675,00 per kilogram, dan harga kernel Rp14.041,00 per kilogram. “Penurunan harga TBS pekan ini lebih disebabkan turunnya harga CPO di pasar. Harga TBS Mitra Swadaya Riau periode ini turun tipis Rp1,26 per kilogram untuk kelompok umur 9 tahun ,” jelasnya. Ini Harga TBS Mitra Swadaya Provinsi Riau Periode 8 hingga 14 Oktober 2025, yakni umur 3 tahun Rp2.833,83 per kilogram, umur 4 tahun Rp3.158,70 per kilogram, umur 5 tahun Rp3.387,91 per kilogram, umur 6 tahun Rp3.517,86 per kilogram, umur 7 tahun Rp3.597,39 per kilogram, umur 8 tahun Rp3.640,72 per kilogram. Terus umur 9 tahun Rp3.656,20 per kilogram, umur 10 hingga 20 tahun Rp3.619,19 per kilogram, umur 21 tahun Rp3.559,27 per kilogram, umur 22 tahun Rp3.489,96 per kilogram, umur 23 tahun Rp3.411,15 per kilogram, umur 24 tahun Rp3.351,40 per kilogram, dan umur 25 tahun Rp3.302,47 per kilogram.

Harga CPO dan PK Menukik Berimbas ke TBS Mitra Plasma Jambi Periode 5 Hingga 11 September 2025 Sawit
Sawit
Jumat, 05 September 2025 | 16:45 WIB

Harga CPO dan PK Menukik Berimbas ke TBS Mitra Plasma Jambi Periode 5 Hingga 11 September 2025

Jambi, katakabar.com - Lantaram harga jual minyak sawit mentah atau crude palm oil atai CPO dan inti sawit atau palm kernel atau PK menukik berdampak pada herga tandan buah segar atau TBS produksi para petani kelapa sawit mitra plasma Provinsi Jambi pada periode 5 hingga 11 September 2025. Di mana, harga pembelian TBS mitra plasma mengalam penurunan di berbagai pabrik kelapa sawit atau PKS untuk periode yang sama seperti penetapan dari pihak Bidang Produksi dan Pemasaran Hasil Perkebunan Strategis atau PPHPS Dinas Perkebunan atau Disbun Provinsi Jambi. Dari berbagai informasi yang dirangkum katakabar.com Jumat (5/9) harga TBS dari usia tanam 10-0 tahun yang kategori premium turun tipis sebanyak Rp14,49 menjadi Rp3.624,93 per kilogram. Tapi harga TBS sejauh ini tetap kuat, dan mayoritas berada di kisaran Rp3.000 per kilogram, terkecuali harga TBS dari usia tanam 3 tahun yang masih berkutat di level 2.800 per kilogram. Sedang, harga penjualan CPO tercatat turun sebanyak Rp42,04 per kilogram, harga penjualan PK melorot lumayan dalam kisaran Rp115,29, sehingga membuatnya menjauh dari upaya menembus level harga Rp13.500 per kilogram.