Tren Bullish
Sorotan terbaru dari Tag # Tren Bullish
Harga Emas Tunjukkan Kinerja Positif, Tren Bullish Masih Terjaga Sepanjang Pekan
Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global sepanjang pekan ini mencatatkan performa yang cukup impresif dengan kecenderungan menguat di tengah dinamika pasar yang masih diliputi ketidakpastian. Berdasarkan kajian terbaru dari Dupoin Futures, logam mulia tersebut berhasil mempertahankan tren naik yang solid, didukung oleh kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang saling menopang. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan dari perspektif teknikal, pergerakan XAU/USD di timeframe H4 menunjukkan sinyal penguatan yang cukup konsisten. Salah satu indikator penting adalah keberhasilan harga menembus area Moving Average (MA) 21 dan 34, yang sebelumnya berperan sebagai resistance dinamis. Saat ini, level tersebut telah beralih fungsi menjadi support, yang memperkuat struktur tren bullish dalam jangka pendek. “Breakout ini menjadi konfirmasi bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar. Selama harga bertahan di atas area Moving Average, maka peluang kenaikan lanjutan masih terbuka lebar,” ujar Geraldo dalam analisisnya. Selain itu, indikator Stochastic juga memberikan sinyal yang sejalan dengan tren tersebut. Posisi indikator yang berada di atas level 50 dan bergerak naik mencerminkan momentum penguatan masih terjaga. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat beli investor belum mengalami penurunan signifikan, sehingga ruang untuk kenaikan harga masih cukup besar. Dengan dukungan sinyal teknikal tersebut, XAU/USD diproyeksikan berpotensi melanjutkan penguatan menuju area resistance terdekat di level 4.946. Apabila level ini berhasil ditembus secara meyakinkan, maka target kenaikan berikutnya berada di kisaran 5.047. Level tersebut menjadi area kunci yang saat ini tengah menjadi perhatian pelaku pasar, khususnya bagi trader jangka pendek. Di sisi lain, faktor fundamental juga memainkan peran penting dalam menopang pergerakan harga emas sepanjang minggu ini. Salah satu pendorong utama adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Investor mulai memperkirakan adanya peluang pelonggaran kebijakan, termasuk kemungkinan penurunan suku bunga, seiring dengan tren inflasi di Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda moderasi. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang pada akhirnya mengurangi daya tarik aset berbasis bunga. Pada situasi seperti ini, emas kembali dilirik sebagai alternatif investasi yang menarik, mengingat perannya sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Tak hanya itu, pelemahan dolar AS juga turut memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga emas. Hubungan terbalik antara dolar dan emas membuat logam mulia ini cenderung menguat ketika nilai tukar dolar melemah. Dengan dolar yang lebih rendah, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor global, sehingga meningkatkan permintaan di pasar internasional. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kondisi global yang masih diwarnai ketidakpastian, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik. Situasi ini mendorong investor untuk mengadopsi sikap lebih berhati-hati (risk-off), dengan meningkatkan alokasi aset pada instrumen safe haven seperti emas. Permintaan yang stabil dari investor institusi serta bank sentral juga menjadi penopang tambahan bagi pergerakan harga. Secara keseluruhan, kinerja emas sepanjang pekan ini mencerminkan fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan tren kenaikan. Kombinasi antara sinyal teknikal yang positif dan dukungan fundamental yang solid menjadi faktor utama yang menjaga momentum bullish tetap terjaga. Tetapi, pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati berbagai perkembangan eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan harga ke depan. Rilis data ekonomi penting serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter dapat menjadi katalis yang memicu volatilitas dalam jangka pendek. Dengan struktur tren yang masih solid dan dukungan sentimen global yang positif, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur penguatan dalam waktu dekat. Selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, peluang untuk melanjutkan kenaikan menuju level resistance berikutnya masih terbuka lebar.
Tekanan Fundamental dan Sinyal Teknis Dukung Tren Bullish Emas
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) melanjutkan pergerakan stabilnya mendekati area $4.200 di perdagangan awal pekan ini, dengan bias penguatan seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat. Pasar saat ini berada dalam mode “menunggu dan melihat” menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada hari Rabu (10/12), sehingga volatilitas harga diperkirakan meningkat dalam beberapa sesi mendatang. Di penutupan sesi perdagangan Amerika Utara akhir pekan lalu, emas (XAU/USD) sempat menyentuh level tertinggi harian di $4.259 sebelum terkoreksi dan kembali ditransaksikan di sekitar $4.216. Meski mengalami retracement jangka pendek, posisi harga yang tetap berada di atas ambang psikologis $4.200 dianggap sebagai sinyal bahwa sentimen pasar masih condong pada sisi bullish. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha menjelaskan bahwa indikator teknikal saat ini menunjukkan konsolidasi bullish. Kombinasi pola grafik candlestick dan posisi Moving Average memperlihatkan kecenderungan kenaikan masih aktif dan belum mengalami pelemahan signifikan. “Selama struktur harga terus bergerak di atas area $4.200, tren naik masih menjadi preferensi utama dalam jangka pendek,” ujar Andy. Dari sudut pandang teknikal, Andy merumuskan dua kemungkinan skenario harga. Untuk skenario pertama, jika dorongan bullish kembali menguat, maka XAU/USD diperkirakan mampu bergerak menuju target resistance terdekat di area $4.256. Namun, apabila terjadi penolakan harga atau reaksi pasar terhadap penguatan dolar jelang keputusan The Fed, harga berpotensi terkoreksi menuju level support $4.184. Secara fundamental, prospek emas saat ini didukung oleh meningkatnya spekulasi pasar bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk merespons tanda-tanda perlambatan ekonomi. Data terbaru menunjukkan melemahnya pasar tenaga kerja AS, meski inflasi masih berada di atas target 2 persen. Penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena mengurangi biaya peluang bagi investor untuk menyimpan aset non-bunga tersebut. Sentimen tambahan datang dari sisi permintaan global. Bank Sentral Tiongkok kembali meningkatkan cadangan emasnya selama 13 bulan berturut-turut, menambah total sebesar 30.000 troy ons. Tren akumulasi ini mencerminkan preferensi institusi moneter terhadap emas sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Tetapi, beberapa faktor penekan harga tetap perlu diperhatikan. Kenaikan imbal hasil obligasi AS 10 tahun menjadi 4,141 persen serta ekspektasi inflasi yang mulai menurun dapat memperkuat dolar AS dan menahan laju kenaikan harga emas. Apabila dolar bergerak lebih kuat, emas berpotensi menghadapi hambatan pada level resistance teknikalnya. Jadi, pergerakan emas hari ini diperkirakan tetap sensitif terhadap berita fundamental dan respons pasar menjelang keputusan The Fed. Selama harga berada di area atas $4.200, peluang penguatan jangka pendek tetap terbuka, namun potensi koreksi teknikal masih membayangi apabila pasar mulai mengantisipasi pernyataan hawkish dari bank sentral AS.
Emas Melemah Jelang Keputusan The Fed, Tren Bullish Tetap Kokoh
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) melemah Selasa (2/12) setelah sempat menyentuh titik tertinggi harian di $4.240. Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, penurunan ini terjadi karena para investor memilih melakukan aksi ambil untung menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan minggu depan. "Penguatan dolar AS turut menekan harga emas, dengan indeks DXY bertahan di 99,44 atau naik tipis 0,04%, sehingga mengurangi minat terhadap instrumen safe haven tersebut," ujar Andy. Pada Rabu (3/12), harga emas kembali turun mendekati $4.210 akibat lanjutan aksi profit taking. Penurunan ini berlangsung di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menantikan rilis data ekonomi penting AS seperti ADP Employment Change dan ISM Services PMI. Koreksi sekitar 0,65% secara harian juga menggambarkan meningkatnya selera risiko global, dengan sebagian investor beralih ke aset berisiko seiring meningkatnya optimisme terhadap prospek ekonomi. Walaupun tekanan jangka pendek masih terasa, Andy Nugraha menilai ruang penurunan emas relatif terbatas. Pasar tetap yakin akan adanya peluang besar pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan 9 hingga 10 Desember 2025 nanti. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemotongan suku bunga kini berada di level 89%, naik signifikan dari sekitar 71% pekan sebelumnya. Penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena mengurangi biaya peluang dalam menyimpan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Dari perspektif teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish XAU/USD masih dominan. Andy menegaskan bahwa meskipun terjadi koreksi, struktur harga tetap menggambarkan pola penguatan yang sehat. Momentum ini turut diperkuat oleh stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di kisaran 4,086% serta imbal hasil riil yang bertahan di 1,856%, yang keduanya tidak menunjukkan kenaikan tajam yang biasanya memberi tekanan tambahan pada emas. Untuk prospek pergerakan hari ini, Andy memberikan dua kemungkinan skenario. Pertama, bila dorongan bullish berlanjut dan pelaku pasar merespons positif ekspektasi pemangkasan suku bunga, emas berpeluang menguji area resistance di 4.267. Jika level ini berhasil ditembus, ruang kenaikan berikutnya terbuka lebih lebar. Kedua, jika sentimen risk-on meningkat atau data ekonomi AS dirilis lebih kuat dari estimasi, emas dapat terkoreksi ke support terdekat di 4.184. Level ini menjadi penentu apakah tren naik jangka pendek tetap bertahan atau mulai berbalik melemah. Dari sisi geopolitik, kabar pertemuan utusan AS Steve Witkoff dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta keterlibatan Jared Kushner dalam pembahasan rencana perdamaian Rusia–Ukraina juga dapat memengaruhi arah harga emas. Biasanya, ketegangan geopolitik mendukung kenaikan emas; sebaliknya, ekspektasi tercapainya perdamaian dapat mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai tersebut. Secara keseluruhan, meski emas sedang berada dalam fase koreksi, peluang penguatan masih cukup besar, terutama jika keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed semakin menguat. Dengan kombinasi faktor ekonomi, geopolitik, dan analisis teknikal yang cenderung mendukung, harga emas diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun tetap mempertahankan bias bullish dalam perdagangan hari ini.
Pelaku Pasar Tunggu Keputusan Fed, Harga Emas Semakin Mantap di Tren Bullish
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali menunjukkan momentum positif memasuki perdagangan Selasa, memperpanjang reli kenaikannya untuk hari kedua berturut-turut di tengah meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Emas menilai sentimen pasar saat ini didominasi ekspektasi pelonggaran moneter yang semakin kuat, sehingga emas mendapatkan dukungan signifikan sebagai aset non-yielding. Pada sesi Senin (1/12), emas naik lebih dari 0,40 persen, dan mempertahankan stabilitas di area $4.240 setelah menyentuh level tertinggi lima minggu di $4.264. Pergerakan ini dipicu oleh pelemahan dolar AS yang terdampak ekspektasi dovish The Fed. Hingga Selasa (2/12) sesi Asia, emas terus melaju ke area $4.230 dan berada mendekati level tertinggi hampir enam minggu. Sentimen bullish emas semakin diperkuat oleh data ekonomi AS terbaru. Berdasarkan rilis Institute for Supply Management (ISM), indeks PMI Manufaktur AS kembali berada di bawah level ekspansi, turun menjadi 48,2 pada November dari 48,7 pada bulan sebelumnya, dan berada di bawah proyeksi pasar 48,6. Kontraksi selama sembilan bulan berturut-turut ini semakin menguatkan pandangan bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum. Dampaknya, pelaku pasar kini meningkatkan probabilitas pemangkasan suku bunga bulan Desember hingga 87 persen, naik signifikan dari pekan sebelumnya, menurut CME FedWatch. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, dari sisi teknikal kombinasi candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish yang semakin menguat pada XAU/USD. Struktur harga memperlihatkan peningkatan minat beli (buying pressure) terutama pada timeframe intraday. Andy memproyeksikan dua skenario harga emas hari ini, jika momentum bullish berlanjut, emas berpotensi menguji resistance lanjutan menuju area $4.324. Apabila terjadi koreksi profit-taking, penurunan terdekat diperkirakan menuju area support $4.208 sebelum potensi rebound kembali terjadi. Meski tren bullish masih dominan, terdapat faktor penghambat. Permintaan fisik emas dari China terpantau mulai melambat karena tingginya harga. Laporan dari Financial Times mengungkapkan bahwa sejumlah retailer menutup cabang di Tiongkok daratan akibat penurunan penjualan yang tajam, sementara pedagang kecil mengeluhkan kenaikan pajak dan beban biaya. Selain itu, data makro penting AS yang akan dirilis pekan ini menjadi penentu arah harga emas selanjutnya. Laporan ketenagakerjaan ADP dan PMI Jasa ISM yang rilis Rabu, serta data inflasi PCE-indikator inflasi favorit The Fed-akan sangat memengaruhi arah dolar dan imbal hasil obligasi. Jika data menunjukkan ketahanan ekonomi, dolar berpotensi rebound dan menekan emas. Sebaliknya, data yang lebih lemah akan memperpanjang sentimen bullish logam mulia ini. Sementara, indeks dolar (DXY) melemah 0,16% ke 99,31, tetapi yield obligasi AS 10 tahun justru meningkat tujuh basis poin ke 4,092%. Yield riil AS juga naik hingga 1,862%, menciptakan dinamika pasar campuran bagi logam mulia. Rumor politik turut menjadi variabel yang diperhatikan pasar, setelah kabar bahwa Kevin Hassett disebut sebagai kandidat kuat pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed berikutnya. Namun Presiden Donald Trump menyatakan bahwa keputusan akhir belum diumumkan. Dengan dominasi sentimen dovish dan ketidakpastian geopolitik global, emas diperkirakan tetap menarik bagi investor sebagai aset lindung nilai dalam waktu dekat.
Minat Investor Global Meningkat, Emas Tren Bullish di Tengah Volatilitas Pasar
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) memasuki perdagangan hari ini dengan kecenderungan menguat seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Ekspektasi ini mendorong pelemahan dolar AS dan penurunan yield obligasi pemerintah, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Sentimen ini terlihat konsisten dalam beberapa sesi terakhir, mencerminkan perubahan sikap pasar terhadap kondisi makroekonomi global dan potensi langkah kebijakan moneter yang lebih dovish. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai pergerakan emas hari ini masih berada dalam jalur bullish. Menurutnya, ekspektasi pemangkasan suku bunga memberi dorongan signifikan terhadap logam mulia ini. “Banyak pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Hal ini melemahkan dolar AS dan menurunkan opportunity cost dalam memegang emas, sehingga memperkuat daya tariknya di mata investor,” ujarnya. Selain faktor kebijakan moneter, tekanan inflasi global dan melemahnya kepercayaan terhadap stabilitas mata uang fiat turut memperkuat permintaan emas. Situasi ekonomi AS yang mulai menunjukkan tanda perlambatan melalui data ketenagakerjaan dan indeks manufaktur juga menjadi alasan investor meningkatkan eksposur pada aset lindung nilai. Secara teknikal, Andy memproyeksikan bahwa jika tekanan bullish terus berlanjut, harga XAUUSD berpotensi naik hingga area $4381 pada pekan depan. Ia menyebutkan bahwa momentum penguatan masih terjaga, terutama jika dolar AS tidak menunjukkan rebound yang signifikan dalam waktu dekat. “Selama harga mampu bertahan di atas struktur support, peluang penguatan tetap terbuka,” jelasnya. Tapi, ia juga mengingatkan pasar masih berada dalam kondisi sensitif terhadap data ekonomi AS dan sinyal dari pejabat The Fed. Jika dolar AS kembali bangkit, baik akibat data ekonomi yang lebih kuat, kenaikan yield obligasi, maupun pernyataan hawkish dari bank sentral, harga emas berpotensi mengalami tekanan. Dalam skenario alternatif, Andy menegaskan bahwa jika harga mengalami reversal dan menembus area kunci $3867, maka penurunan lanjutan menuju $3718 bukan hal yang mustahil. Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, termasuk risiko geopolitik dan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, emas tetap dianggap salah satu aset defensif paling relevan. Investor kini menunggu rilis data ekonomi lanjutan serta komunikasi resmi dari The Fed untuk melihat arah pasar yang lebih jelas.
Emas Menguat Tajam, Tren Bullish Kian Kokoh Didukung Melemahnya Dolar AS
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali bergerak positif pada perdagangan Kamis setelah lonjakan kuat sehari sebelumnya. Rabu (26/11), emas mencatat kenaikan lebih dari 0,80 persen, terdorong oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta pelemahan Dolar AS. Kedua faktor ini meningkatkan minat investor terhadap aset aman, terutama ketika peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve masih tinggi meski data ekonomi Amerika menunjukkan ketahanan. XAU/USD sempat menyentuh $4.165 setelah rebound dari level terendah hariannya di $4.127. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, sinyal teknikal emas memperlihatkan kecenderungan bullish yang semakin dominan. Pola candlestick harian yang terbentuk, ditambah posisi harga yang bergerak di atas indikator Moving Average, menunjukkan momentum kenaikan masih kuat. “Selama dorongan beli tetap terjaga, prospek emas untuk melanjutkan penguatan masih sangat terbuka,” jelas Andy. Dalam pandangan Andy, ada dua skenario utama yang berpotensi terjadi hari ini. Jika tekanan beli terus berlanjut, emas diperkirakan dapat menembus area $4.208, yang menjadi resistance penting. Jika momentum memudar dan harga terkoreksi, maka penurunan kemungkinan mengarah ke $4.116, yang saat ini berfungsi sebagai support jangka pendek. Pada Kamis (27/11) pagi, XAU/USD sempat bergerak di kisaran $4.150, sedikit melemah dibanding penutupan sebelumnya, tetapi tetap berada dalam jalur bullish. Dari sisi fundamental, data ekonomi terbaru dari AS turut memberikan dinamika baru. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim tunjangan pengangguran mingguan turun ke 216.000 level terendah sejak pertengahan April dan lebih baik dari perkiraan. Meski Pesanan Barang Tahan Lama untuk September mengalami penurunan dari bulan sebelumnya, angka tersebut tetap berada di atas ekspektasi pasar. Menariknya, data ekonomi yang cukup kuat ini tidak mengurangi keyakinan pasar bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember. Probabilitas kebijakan dovish tersebut berada di sekitar 85 persen, menurut CME FedWatch Tool. Ekspektasi ini menjadi faktor utama pelemahan Dolar AS, tercermin dari turunnya Indeks Dolar (DXY) ke level 99,60 atau 0,19 persen lebih rendah dari sesi sebelumnya. Melemahnya dolar memberikan dorongan tambahan bagi emas, yang memiliki hubungan terbalik terhadap pergerakan mata uang tersebut. Di sisi geopolitik, ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan kembali meningkat setelah Taiwan menilai adanya perubahan pola manuver militer Beijing. Sementara, kabar adanya perkembangan positif menuju potensi resolusi konflik Rusia-Ukraina juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Walau perdamaian biasanya menekan permintaan aset safe haven seperti emas, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed masih menjadi penopang utama pergerakan harga. Secara keseluruhan, tren emas pada hari ini masih menunjukkan arah naik yang kuat. Didukung oleh pelemahan dolar, meningkatnya peluang pemangkasan suku bunga, dan kondisi global yang dinamis, potensi penguatan emas tetap besar.
Shutdown AS Hampir Kelar, Tren Bullish Emas Kian Menguat
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) terus tunjukkan performa positif Kamis (13/11) kemarin pagi, memperpanjang reli yang sudah terbentuk sejak sesi perdagangan sebelumnya. Data pasar terbaru menunjukkan, logam mulia tersebut kini diperdagangkan di kisaran $4.195 per troy ounce, menandai level tertinggi sejak 21 Oktober 2025 lalu. Kenaikan ini menjadi lanjutan dari pemulihan tajam setelah harga sempat anjlok ke $3.886 pada akhir Oktober, dan kini berhasil menembus kembali batas psikologis penting di atas $4.200. Menurut Andy Nugraha, analis pasar dari Dupoin Futures Indonesia, penguatan emas kali ini hasil dari kombinasi faktor teknikal dan fundamental. Secara teknikal, pola candlestick harian menunjukkan struktur bullish yang semakin kuat, sementara indikator Moving Average (MA) memperlihatkan tren naik yang stabil. “Jika tekanan beli terus berlanjut, emas berpotensi menguji area resistensi di sekitar $4.267,” ujar Andy. Tetapi, ia mengingatkan jika harga kehilangan momentumnya, maka kemungkinan koreksi bisa terjadi hingga level $4.122. Faktor eksternal turut memperkuat kenaikan harga emas. Pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat emas kembali diminati sebagai aset lindung nilai. Sementara, meningkatnya selera risiko di pasar keuangan global belum cukup untuk menekan minat investor terhadap logam mulia ini. Dari sisi fundamental, pasar saat ini fokus pada perkembangan politik di Amerika Serikat, khususnya proses pemungutan suara di Kongres untuk mengakhiri penutupan pemerintah (shutdown) terpanjang dalam sejarah. Senat AS telah setujui rancangan anggaran yang memungkinkan operasional lembaga-lembaga federal berjalan kembali hingga 30 Januari. Optimisme akan berakhirnya kebuntuan politik ini ikut meningkatkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi AS dan memperkuat harapan Federal Reserve (Fed) akan memangkas suku bunga pada Desember mendatang. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga oleh Fed kini mencapai sekitar 64%. Kebijakan moneter yang lebih longgar ini biasanya menjadi pendorong positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang dalam memegang aset tanpa imbal hasil. “Jika Fed memberikan sinyal dovish yang lebih kuat, emas berpotensi melanjutkan reli menuju $4.267 atau bahkan lebih tinggi,” terang Andy Nugraha. Tetapi, perdebatan di internal Fed masih berlangsung. Stephen Miran, salah satu Gubernur Fed, menilai kebijakan moneter saat ini terlalu ketat dan perlu dilonggarkan, sedangkan Raphael Bostic, Presiden Fed Atlanta, berpendapat suku bunga sebaiknya tetap dipertahankan sampai ada bukti nyata bahwa inflasi telah turun menuju target 2 persen. Perbedaan pandangan ini memunculkan potensi volatilitas di pasar emas dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, Dupoin Futures Indonesia menilai tren harga emas masih positif, dengan peluang kenaikan yang tetap terbuka selama harga bertahan di atas area support $4.122.
Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Tren Bullish XAU/USD Masih Kokoh
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali torehkan rekor baru dengan tren kenaikan yang solid. Pada sesi perdagangan Amerika Utara, Senin (13/10), harga logam mulia ini menembus level psikologis penting di atas $4.100 dan terus bergerak naik hingga mendekati $4.130 pada awal sesi Asia, Selasa (15/10). Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, lonjakan harga emas kali ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang mendorong para investor beralih ke aset aman seperti emas. Secara teknikal, Andy menjelaskan sinyal dari grafik candlestick serta indikator Moving Average (MA) mengonfirmasi kekuatan tren bullish yang masih dominan pada XAU/USD. Sentimen pasar cenderung positif, dan selama tekanan beli tetap kuat, peluang kenaikan lebih lanjut masih terbuka lebar. “Apabila momentum kenaikan ini bertahan, emas berpotensi menembus level $4.200 dalam waktu dekat. Namun, bila terjadi koreksi teknikal, maka area $4.071 menjadi batas bawah yang perlu diwaspadai oleh trader,” jelas Andy. Dari sisi fundamental, eskalasi konflik perdagangan AS–Tiongkok menjadi pendorong utama reli harga emas. Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan kebijakan baru yang lebih keras terhadap Tiongkok, termasuk penerapan tarif 100% untuk seluruh barang impor asal Negeri Tirai Bambu serta pembatasan ekspor perangkat lunak strategis buatan AS yang akan berlaku mulai 1 November. Meski Trump kemudian menenangkan pasar dengan pernyataan “semuanya akan baik-baik saja,” kekhawatiran terhadap perang dagang masih membebani pelaku pasar. Faktor lain yang memperkuat reli emas adalah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat Oktober, dan kemungkinan lanjutan pada Desember mendatang. Kebijakan suku bunga rendah ini membuat emas semakin menarik karena menurunkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil. Meski, sejumlah analis memperingatkan potensi koreksi harga setelah kenaikan signifikan lebih dari 56% sepanjang tahun ini. Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Bank, menilai “Rally emas masih memiliki ruang untuk tumbuh, tetapi konsolidasi jangka pendek akan lebih sehat bagi kelanjutan tren naiknya.” Sementara, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun delapan basis poin ke 4,059 persen, dan imbal hasil riil juga menurun ke 1,742 persen, kondisi yang semakin memperkuat dukungan terhadap harga emas. Analis dari Bank of America serta Societe Generale bahkan memperkirakan harga emas bisa mencapai $5.000 pada tahun 2026, sedangkan Standard Chartered menaikkan target rata-rata untuk tahun depan menjadi $4.488.
Rally Emas Berlanjut, Analis Dupoin Sebut Tren Bullish Masih Solid
Jakarta, katakabar.com - Harga emas melanjutkan reli ke rekor tertinggi di US$4.056 per troy ons. Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai tren bullish emas masih kuat, didukung kombinasi faktor teknikal dan fundamental seperti pemangkasan suku bunga The Fed serta ketidakpastian politik AS. Harga emas (XAU/USD) masih menunjukkan potensi penguatan pada perdagangan hari ini setelah mencatatkan reli selama tiga sesi berturut-turut. Logam mulia tersebut sempat menyentuh rekor tertinggi baru di level US$4.056 per troy ons pada Rabu (8/10), naik lebih dari 1,70 persen dalam satu hari. Menurut Andy Nugraha, analis dari Dupoin Futures Indonesia, lonjakan harga emas yang sudah mencapai 54 persen sepanjang tahun ini merupakan hasil dari kombinasi kuat antara faktor teknikal, dan fundamental yang masih menopang tren bullish. Dari sisi teknikal, Andy menjelaskan berdasarkan pola candlestick dan indikator Moving Average, tren kenaikan XAU/USD masih terjaga dengan baik. “Harga emas saat ini masih bergerak di atas area support utama dan belum menampilkan tanda pembalikan arah yang signifikan. Jika tekanan beli berlanjut, bukan tidak mungkin emas kembali menguji level US$4.056 atau bahkan menembus level yang lebih tinggi,” ujarnya. Tapi, ia menambahkan jika momentum menguat mulai melemah, maka potensi koreksi bisa membawa harga turun ke sekitar US$3.986 per troy ons. Sementara dari sisi fundamental, reli emas kali ini didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Pada Kamis (9/10), harga emas stabil di kisaran US$4.010 setelah terkoreksi ringan dari puncaknya di US$4.059 pada sesi perdagangan Asia. Para investor masih mencari perlindungan pada aset safe haven di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan politik Amerika Serikat. Krisis penutupan pemerintahan (government shutdown) AS yang telah berlangsung selama sembilan hari tanpa kesepakatan antara Partai Republik dan Demokrat memperburuk sentimen pasar. Bahkan, pemerintahan Presiden Donald Trump memperingatkan tidak adanya jaminan pembayaran bagi pegawai federal selama masa penutupan tersebut. Kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) juga menjadi katalis utama penguatan harga emas. Bank sentral AS baru saja memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan bulan September, penurunan pertama sejak akhir 2024 dan memberi sinyal akan ada dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir tahun ini. Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memperkirakan ada 78% peluang penurunan suku bunga lagi pada Desember mendatang. Secara historis, kebijakan suku bunga rendah mendorong kenaikan harga emas karena mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia. Meski demikian, penguatan harga emas masih dihadapkan pada hambatan dari meredanya ketegangan di Timur Tengah. Presiden AS, Trump mengumumkan tercapainya tahap awal kesepakatan damai antara Israel dan Hamas, termasuk rencana pembebasan sandera dalam waktu 72 jam. Walau implementasinya masih belum pasti, kabar ini sedikit mengurangi permintaan ekstrem terhadap aset safe haven seperti emas. Menariknya, reli harga emas berlangsung di tengah penguatan Dolar AS, di mana indeks DXY naik 0,45 persen ke level 99,00, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun AS turun tipis ke 4,113 persen. Penurunan imbal hasil riil AS yang secara historis berbanding terbalik dengan harga emas turut memperkuat daya tarik logam kuning ini.
Ekspektasi Kebijakan Dovish The Fed Perkuat Tren Bullish Emas
menilai tren bullish pada emas tetap dominan. Ia mengungkapkan, pergerakan harga emas saat ini masih ditopang oleh kombinasi sinyal candlestick dan indikator Moving Average yang mengindikasikan tekanan beli kuat. Andy memperkirakan momentum positif ini berpotensi membawa harga emas menembus area psikologis penting yang menjadi fokus investor. Tapi, ia menegaskan pentingnya mengantisipasi skenario koreksi apabila harga gagal mempertahankan laju penguatannya, dengan area support tertentu sebagai patokan utama untuk mengukur kekuatan tren. Selain menantikan keputusan FOMC, pelaku pasar juga memantau agenda ekonomi lain yang dapat memengaruhi pergerakan emas, seperti rilis data Penjualan Ritel AS. Di sisi politik, perhatian publik tertuju pada proses pemungutan suara di Senat AS terkait pencalonan Dr. Stephen Miran untuk kursi Federal Reserve. Jika disetujui, Miran dapat langsung berpartisipasi dalam pertemuan kebijakan pekan ini. Di tengah dinamika tersebut, mantan Presiden Donald Trump bahkan menyuarakan dorongan agar The Fed memangkas suku bunga lebih besar daripada yang diantisipasi Powell, menambah spekulasi di kalangan investor. Sementara, hasil survei University of Michigan terbaru menunjukkan penurunan indeks sentimen konsumen yang mencerminkan meningkatnya pesimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi AS. Ekspektasi inflasi jangka pendek memang tetap tinggi, namun proyeksi inflasi jangka panjang justru menunjukkan kenaikan, menegaskan kekhawatiran akan risiko resesi. Kombinasi faktor fundamental dan teknikal ini memperkuat pandangan bahwa emas akan tetap menjadi aset yang dilirik menjelang pengumuman penting The Fed.