Home / Sawit / Deadline November 2025, Perusahaan Sawit di Riau Masih Banyak Belum Kantongi ISPO
Deadline November 2025, Perusahaan Sawit di Riau Masih Banyak Belum Kantongi ISPO
Foto Ilustrasi Net/katakabar.com.
Pekanbaru, katakabar.com - Perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di 'Bumi Lancang Kuning' nama lain dari Provinsi Riai masih banyak belum kantongi Indonesia Sustainable Palm Oil atau ISPO.
Hal itu kontras dengan program kelapa sawit berkelanjutan telah dicanangkan pemerintah dari 2020 silam.
Kepala Dinas Perkebunan atau Disbun Provinsi Riau, Syahrial Abdi mengaku pihaknya sudah melakukan sosialisasi, dan edukasi tentang ISPO ini kepada banyak perusahaan kelapa sawit.
Bahkan, ujar mantan Pj Bupati Bengkalis ini, tidak hanya di perusahaan yang menjadi kewenangan provinsi, pihaknya kolaborasi dengan Dinas Perkebunan atau Disbun kabupaten dan kota di Provinsi Riau.
"Kalau untuk kewenangan Disbun provinsi ada 24 perusahaan, seluruhnya telah kantongi sertifikasi ISPO," jelasnya, dilansir dari laman EMG, Rabu (8/1).
Masih banyak perusahaan sawit yang ada di kabupaten dan kota, tegasnya, belum memiliki sertifikat tersebut.
"Kita sudah melayangkan teguran kepada perusahan-perusahaan ini. Di mana kita masih menunggu untuk batas waktu pengurusan yakni sampai November 2025 mendatang," bebernya.
Dari informasi yang diperolehnya, ada beberapa alasan perusahaan belum punya sertifikat ISPO itu. Misalnya terkait belum lengkapnya persyaratan pengajuan seperti IUP dan sebagainya.
"Pada prinsipnya kita tetap dorong agar perusahaan bersertifikasi ISPO sesuai dengan target kita. Karena ini akan sangat bermanfaat bagi perusahaan maupun petani kelapa sawit yang ada," ucapnya.
Menurutnya, ISPO upaya untuk meningkatkan daya saing minyak kelapa sawit di pasar internasional. Selain itu, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, memprioritaskan masalah lingkungan, dan sosial ketenagakerjaan.
"Banyak manfaat dari ISPO ini, di mana kebun perusahaan akan memiliki mutu pengolahan dan hasil akhir yang meningkat. Kemudian meningkatkan daya saing, produksi dan sistem usaha lebih ramah lingkungan," sebutnya.








Komentar Via Facebook :