Home / Sumut / Dikeluhkan Pelayanan Lamban, Pasien Balita Meninggal di RS Madani Medan
Dikeluhkan Pelayanan Lamban, Pasien Balita Meninggal di RS Madani Medan
Jenazah balita dikebumikan menyusahkan duka
Medan, katakabar.com– Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sederhana di Jalan Jermal 15, Gang Masjid, Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Denai.
Isak tangis keluarga pecah saat jenazah Zayna Saputri, balita berusia 9 bulan, tiba di rumah duka menggunakan mobil Grab.
Zayna dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, (6/52025), setelah sebelumnya sempat dilarikan ke Rumah Sakit Madani, Jalan AR Hakim, Medan Area.
Namun, keluarga korban menuding pihak rumah sakit telah lamban menangani sang anak hingga menghembuskan napas terakhir.
“Anakku demam tinggi. Kami bawa ke RS Madani sekitar pukul 17.30 WIB. Tapi bukannya langsung ditangani, malah dibiarkan begitu saja. Tidak ada penanganan cepat,” ujar Wahyu, ayah korban, sambil menahan tangis.
“Setengah jam lebih anakku tidak ditangani. Hingga akhirnya... dia meninggal,” lanjutnya lirih.
Eka, ibu korban, terlihat terus menangis di sisi jenazah anak keduanya itu. Ia tak menyangka niat menyelamatkan buah hatinya justru berujung petaka di rumah sakit yang mereka harapkan bisa memberi pertolongan.
Keluhan Serupa: Bukan Kasus Pertama?
Tidak hanya Wahyu dan Eka yang kecewa terhadap pelayanan RS Madani. Keluhan serupa juga datang dari warga lain yang pernah mendapat perawatan di sana. Salah satunya Ngadi, warga Medan.
“Kawan saya disuntik, tangannya malah bengkak. Gak tahu apa yang disuntikkan,” ujar Ngadi kepada media ini. Ia menyebut kejadian tersebut bukan pertama kali mendengar keluhan tentang pelayanan rumah sakit swasta itu.
Pihak Rumah Sakit Beri Penjelasan
Kasus ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang semestinya menjadi tempat paling aman saat darurat. Keluarga Zayna berharap ada keadilan dan pertanggungjawaban atas apa yang mereka alami.
Di tengah suasana duka, sebuah pesan datang dari dokter Tommy Hendra. Tak sekadar formalitas, nadanya terasa pribadi dan penuh empati. Ia memulai dengan ketegasan:
“Baik, Bang. Saya sudah minta keterangan dari dokter yang menangani pasien tadi pagi. Besok saya akan hubungi abang lagi.”
Tak lama, ucapan belasungkawa menyusul, mewakili pihak rumah sakit:
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami dari RS turut berduka cita sedalam-dalamnya.”
Ada keterlambatan dalam responsnya. Namun penjelasannya pun manusiawi, mengingatkan bahwa di balik jabatan medis, ada sosok yang juga menjalani rutinitas: “Maaf, Bang, lama membalas. Saya lagi di jalan dan sedang mengemudi kendaraan.”
Ia tetap berusaha membuka ruang komunikasi yang jujur dan penuh itikad baik: “Saya akan kumpulkan keterangannya dari dokter yang menangani. Mohon bersabar, Bang.”
Malam hari, setelah urusan duniawi dan ibadah ditunaikan, ia kembali menyambung dialog: “Maaf, Bang. Saya baru sampai rumah. Habis salat Isya kita lanjutkan diskusinya, ya.”
Keesokan siangnya, komunikasi kembali terjalin. Dengan sopan, ia menegaskan kembali proses yang tengah berjalan:
“Siang, Bang. Seperti yang saya sampaikan kemarin, saya masih mengumpulkan data. Nanti saya kabari abang.”
Lalu, sebuah kalimat sederhana namun penuh makna menjadi penutup dari rentetan percakapannya.
Kalimat yang mengandung harapan agar di tengah duka dan kecurigaan, tetap ada ruang bagi solidaritas dan kebersamaan.
“Sesama keluarga wartawan, janganlah sampai seperti ini, lah...”.








Komentar Via Facebook :