Langkat, katakabar - Dugaan praktik tidak wajar dalam pengelolaan aset negara mencuat di wilayah kerja PT Pertamina EP Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. 

Sejumlah kapal milik negara yang berada di area dermaga dilaporkan mengalami kerusakan parah dan diduga tidak dirawat sebagaimana mestinya.

Kondisi ini memantik sorotan warga sekitar yang menilai adanya kejanggalan dalam pengelolaan aset tersebut. 

Dugaan pun mengarah pada pembiaran sistematis yang berpotensi merugikan keuangan negara.

Seorang warga setempat, Setiawan (46), mengaku prihatin saat melihat langsung kondisi kapal-kapal di area dok marine pada Selasa (21/4/2026).

 Ia menilai kerusakan yang terjadi bukan sekadar akibat faktor usia, melainkan terkesan dibiarkan tanpa perawatan.

“Sangat disayangkan, kondisinya seperti tidak diurus. Seolah-olah memang dibiarkan rusak,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Setiawan, muncul dugaan adanya motif tertentu di balik kerusakan tersebut. Ia menilai kapal-kapal itu sengaja dibiarkan memburuk hingga tak lagi bernilai operasional.

“Kalau sudah rusak parah, nanti bisa dianggap sebagai besi tua. Di situ yang dikhawatirkan ada permainan,” katanya.

Sebagai aset negara atau Barang Milik Negara (BMN), kapal-kapal tersebut seharusnya dikelola sesuai aturan yang berlaku. 

Jika sudah tidak digunakan, proses penghapusan wajib dilakukan melalui mekanisme resmi, termasuk lelang terbuka yang transparan.

Hasil dari proses tersebut semestinya disetorkan ke kas negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), bukan justru berpotensi disalahgunakan oleh pihak tertentu.

Di sisi lain, warga juga mempertanyakan keberadaan sejumlah kapal yang sebelumnya terlihat bersandar di dermaga Pangkalan Susu. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, jumlah kapal yang dulu mencapai belasan unit kini berkurang drastis.

“Sekarang tinggal beberapa saja. Yang lain tidak jelas ke mana,” ungkap seorang warga lainnya.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait berkurangnya jumlah kapal tersebut. Keberadaan aset yang tidak lagi terlihat di lokasi menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat.

Upaya konfirmasi kepada pihak manajemen PT Pertamina EP juga belum membuahkan hasil. Pesan yang dikirimkan wartawan melalui aplikasi WhatsApp pada Selasa (21/4/2026) tidak mendapat tanggapan.

Sejumlah pertanyaan terkait data aset, sistem pengawasan, hingga mekanisme pengelolaan kapal belum dijawab pihak perusahaan.

Sampai berita ini dipublikasikan, belum ada klarifikasi resmi maupun langkah hukum yang diumumkan terkait dugaan persoalan aset tersebut.*