Tanah difermentasi dengan sekam bakar dan pupuk kandang sebagai bagian dari persiapan budidaya pascabanjir. Dari kebun sederhana itulah Chaidir membagikan ilmu yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun melalui pengalaman pahit dan kegagalan.
Chaidir mengaku pernah empat kali gagal menanam melon. Saat kembali mencoba pada 2020, panen perdananya pun belum memuaskan karena rasa buah masih hambar sehingga terpaksa dijual di bawah harga pasar. Namun, kegagalan itu justru menjadi titik balik.
Ia terus belajar secara otodidak hingga menemukan formulasi budidaya yang menghasilkan Melon Golden Alisha bercita rasa manis dan bernilai jual tinggi. Sejak saat itu, permintaan pasar terus meningkat, bahkan datang dari swalayan dan pusat perbelanjaan.
Cobaan kembali datang ketika stroke ringan menyerangnya pada Desember 2024. Aktivitas bertani nyaris terhenti. Melihat kondisi tersebut, Pertamina EP Field Rantau melalui Program Smart Agriculture Melonesia mengambil langkah pemberdayaan dengan melibatkan Chaidir sebagai mentor bagi Kelompok Tani Melon Mutiara dan Sekolah Lapang.
Empat Kali Gagal dan Lumpuh Karena Stroke, Petani Melon Aceh Bangkit Bersama Pertamina
Diskusi pembaca untuk berita ini