https://www.katakabar.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Privacy

https://www.katakabar.com

Privacy     Info Iklan     Pedoman Media Siber     Redaksi     Disclaimer     Tentang Kami    

https://www.katakabar.com

  • Home
  • ";
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

Home

Trending

Pilihan

Katakabar TV

Home / Internasional / ICMF2025: Teknologi, Integrasi India Indonesia dan Jalan Cepat Menuju Pasar Modal Masa Depan

ICMF2025: Teknologi, Integrasi India Indonesia dan Jalan Cepat Menuju Pasar Modal Masa Depan


Sabtu, 06 Desember 2025 | 12:00 WIB  

Editor : Sahdan
ICMF2025: Teknologi, Integrasi India Indonesia dan Jalan Cepat Menuju Pasar Modal Masa Depan

Foto: Istimewa/katakabar.com.

www.katakabar.com | Artikel ID: 42623 | Artikel Judul: ICMF2025: Teknologi, Integrasi India Indonesia dan Jalan Cepat Menuju Pasar Modal Masa Depan | Tanggal: Sabtu, 06 Desember 2025 - 12:00

Jakarta, katakabar.com - InvestorTrust Capital Market Forum 2025 perlihatkan dengan sangat jelas masa depan pasar modal Indonesia bakal ditentukan oleh tiga kekuatan utama, yakni teknologi, integrasi regional, dan partisipasi investor yang lebih luas.

Forum yang digelar di salah satu hotel ternama Jakarta pada Kamis (4/12) lalu ini, menghadirkan pejabat pemerintah Indonesia, regulator, CEO bursa, pakar teknologi India, serta industri keuangan global yang menyampaikan satu pesan yang sama. Indonesia berada di titik peluang yang jarang terjadi dan dapat melakukan lompatan besar bila bergerak cepat dan terkoordinasi.

Forum dibuka Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan meski hubungan ekonomi antara kedua negara kuat, pasar modal mereka masih berjalan di jalur yang terpisah.

Ia menyebut adanya “air gap” yang perlu dijembatani melalui integrasi sistem pembayaran, settlement lintas negara, dan kolaborasi teknologi. India hari ini, katanya, adalah salah satu pasar modal terbesar di dunia dengan kapitalisasi lebih dari US$5 triliun, digerakkan oleh penetrasi investor ritel yang kini mencapai 225 juta orang.

Chakravorty mengungkapkan langkah teknis seperti Local Currency Settlement antara BI dan RBI serta integrasi sistem pembayaran UPI dengan QRIS telah bergerak maju dan berada di ambang implementasi.

Ketika infrastruktur ini tersambung, banyak sekat biaya dan waktu antara kedua negara akan menghilang. Ia menegaskan bahwa pelajaran dari India jauh lebih relevan bagi Indonesia daripada contoh dari negara negara Barat. Dengan demografi dan dinamika pertumbuhan yang mirip, dua negara ini dapat bergerak bersama dan saling mempercepat transformasi.

Sementara, Dr. Arief Wibisono, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, membingkai pertemuan ini dalam konteks ekonomi Indonesia yang sedang menghadapi tekanan global dan perubahan teknologi yang sangat cepat.

Ia mengutarakan Indonesia tidak hanya membutuhkan pasar modal yang lebih besar, tetapi juga lebih dalam, lebih inklusif, dan lebih efisien. Target kapitalisasi pasar 120 persen PDB pada 2045 merupakan tulang punggung dari agenda Indonesia Emas.

Arief menekankan akselerasi digitalisasi dan otomatisasi akan mengubah cara masyarakat memproduksi, berdagang, dan mengonsumsi. Jika dikelola dengan baik, gelombang transformasi ini dapat meningkatkan produktivitas dan inovasi, terutama bagi UMKM yang menjadi penggerak utama ekonomi domestik.

Tetapi ia menekankan pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Sinergi antara regulator, pelaku industri, akademisi, dan investor menjadi syarat utama untuk menciptakan ekosistem pasar modal yang modern dan tangguh.

Lalu CEO Bursa Efek Bombay, Sundararaman Ramamurthy, mengatakan bursa modern bukan sekadar arena perdagangan, tetapi institusi publik yang berfungsi sebagai pendorong pembentukan modal nasional.

Ia mencontohkan bagaimana India berhasil mengubah US$800 juta modal yang dihimpun 671 UMKM menjadi US$15 miliar nilai pasar, bukti bahwa pasar modal dapat menjadi jembatan pertumbuhan usaha kecil.

Ramamurthy membawa peserta forum ke dalam perjalanan digital India, ketika bursa beralih dari sistem manual menjadi ekosistem digital penuh yang kini dapat memproses lebih dari satu miliar order derivatif per hari, dengan kemampuan mencapai dua juta order per detik pada jam perdagangan tersibuk.

"Pertumbuhan investor ritel sebesar 400 persen dalam lima tahun terakhir, katanya, adalah hasil dari kemudahan akses, keamanan, dan transparansi yang didorong oleh teknologi. Ia menutup dengan menawarkan kerja sama penuh kepada Indonesia, seraya menyatakan bahwa kesamaan struktur ekonomi kedua negara menjadikan pertukaran pengalaman ini sangat relevan," jelasnya.

Setelah paparan keynote, diskusi panel mengambil alih panggung dan membawa audiens lebih dalam ke tantangan praktis yang dihadapi Indonesia. Panel yang dipandu oleh Direktur InvestorTrust, Sachin Gopalan, mempertemukan regulator dari OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), KSEI, KPEI, serta perwakilan industri seperti UBS, Jarvis Asset Management, dan Remiges. Hasilnya adalah gambaran yang jujur sekaligus optimistis mengenai apa yang harus dilakukan Indonesia untuk mencapai pasar modal berkelas dunia.

Broto Endianto, Kepala Pengembangan IT BEI, menimpali Indonesia sudah berada di jalur yang benar. BEI menargetkan pembaruan trading engine pada 2026 dengan teknologi yang jauh lebih modern, termasuk penggunaan kecerdasan buatan untuk mendeteksi pola transaksi abnormal dan meningkatkan kapasitas sistem.

Tetapi Broto mengingatkan bursa tidak dapat bekerja sendiri. Dengan 93 broker anggota dan banyak titik simpul lain di ekosistem pasar modal, peningkatan kapasitas teknologi harus terjadi secara menyeluruh, bukan hanya pada satu lembaga.

Dari sisi regulator, Pepek Marsiah dari OJK memberikan gambaran bahwa pengawasan manual sudah tidak relevan dalam pasar dengan 2.3 juta transaksi harian. OJK kini menggunakan big data dan machine learning untuk mendeteksi anomali secara real time. Pepek menegaskan bahwa koordinasi antara regulator, SRO, dan pelaku industri harus diperkuat agar pasar modal Indonesia mampu tumbuh tidak hanya besar, tetapi juga sehat dan terpercaya.

“Kita perlu bekerja bersama. Dengan koordinasi, kita bisa tumbuh lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Suara industri memberi perspektif tambahan. Ranju Parambi, Managing Director UBS, mengingatkan bahwa Indonesia tidak akan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi bila hanya mengandalkan konglomerat atau BUMN. Entrepreneur, katanya, adalah pencipta lapangan kerja dan penggerak inovasi.

Tetapi tanpa akses modal risiko, mereka tidak dapat berkembang menjadi perusahaan skala besar. Baginya, memperluas jalur IPO dan meningkatkan daya tarik pasar modal adalah prioritas.

Dari sisi manajemen aset, Kartika Sutandi dari Jarvis menyoroti isu paling mendasar: likuiditas. Bobot Indonesia di indeks global MSCI turun dari 4 persen menjadi 1.3 persen dalam satu dekade.

Ketika bobot suatu negara terlalu kecil, manajer dana global berhenti memberikan perhatian aktif. Menurut Kartika, likuiditas domestik yang dalam adalah kunci untuk menarik kembali minat global.

Panel juga mengangkat tiga kasus besar penipuan di Indonesia yang menyerupai tragedi keuangan India di masa lalu, seperti manipulasi saham tidak likuid, pencurian akun melalui phishing, dan kompromi API antara broker dan bank RDN. Penjelasan ini diberikan oleh Lily Widjaja dari Asosiasi Perusahaan Efek, yang menekankan bahwa masalah ini terjadi bukan karena kelemahan sistem inti bursa, melainkan celah dalam proses di tingkat anggota. Analisis ini kemudian ditegaskan oleh Shuvam Misra dari Remiges Technologies, yang mengatakan bahwa pola ini identik dengan apa yang terjadi di India sebelum reformasi teknologinya.

Di akhir diskusi, Sachin Gopalan menggambarkan ekosistem Indonesia sebagai orkestra dengan banyak pemain berbakat namun belum memiliki konduktor.

Panel sepakat bahwa Indonesia memiliki semua elemen yang diperlukan untuk melakukan lompatan besar. Tantangannya bukan pada kemampuan, tetapi pada ritme dan koordinasi.

"Bila seluruh pemangku kepentingan bergerak serempak, transformasi lima sampai tujuh tahun seperti India bukanlah mimpi," ucapnya.

Saatnya India Indonesia Bergerak Bersama

InvestorTrust Capital Market Forum 2025 berakhir dengan kesadaran kolektif bahwa Indonesia memiliki kesempatan langka untuk mempercepat pendalaman pasar modalnya dan mengejar ketertinggalan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan negara lain. Tiga keynote dari India dan Indonesia menunjukkan bahwa visi dan arah sudah jelas.

Diskusi panel memperlihatkan infrastruktur, regulasi, dan pelaku industri kini berada di titik yang sama dalam memahami urgensi transformasi.

Tetapi seluruh pembicara sepakat bahwa keberhasilan Indonesia tidak akan ditentukan oleh satu lembaga atau satu kebijakan. Transformasi ini hanya akan terwujud bila seluruh pihak pemerintah, regulator, bursa, pelaku industri, bank, dan investor bergerak dalam ritme yang sama. Teknologi dapat mempercepat, regulasi dapat memperkuat, dan edukasi dapat memperluas dampak, tetapi koordinasi lah yang akan menentukan seberapa cepat Indonesia mencapai tujuan.

Indonesia berada di titik awal perjalanan baru.

Dengan ekosistem yang semakin terhubung, visi yang semakin selaras, dan kemauan politik yang semakin jelas, pasar modal Indonesia memiliki peluang untuk menjadi mesin pertumbuhan yang inklusif, modern, dan berdaya saing global. Seperti yang disampaikan di forum, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia dapat mengejar ketertinggalan, tetapi apakah kita dapat bergerak cukup cepat, dan bergerak bersama.

www.katakabar.com | Artikel ID: 42623 | Artikel Judul: ICMF2025: Teknologi, Integrasi India Indonesia dan Jalan Cepat Menuju Pasar Modal Masa Depan | Tanggal: Sabtu, 06 Desember 2025 - 12:00

TOPIK TERKAIT

# ICMF 2025# Teknologi# Integritas# India-Indonesia# Jalan Cepat# Pasar Modal# Masa Depan
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Nasional

    Urgensi Kapabilitas Teknologi dan Inovasi Menjawab Tantangan Dunia Migas

    Sabtu, 29 Nov 2025 | 14:46 WIB
  • Nasional

    Urgensi Kapabilitas Teknologi dan Inovasi Menjawab Tantangan Dunia Migas

    Sabtu, 29 Nov 2025 | 10:22 WIB
  • Nasional

    Editage dan Undip Gelar IRS 2.2 Perkuat Integritas Riset, Produktivitas dan RAG

    Sabtu, 29 Nov 2025 | 08:21 WIB
  • Nasional

    ICTIM 2025 Sukses Menghubungkan Inovasi, Teknologi dan Transformasi Bisnis

    Jumat, 28 Nov 2025 | 21:38 WIB
  • Nusantara

    MIND ID Perkuat Integrasi Komunikasi Dorong Terbentuknya Generasi Emas Indonesia

    Minggu, 23 Nov 2025 | 11:00 WIB
Rektor

TERPOPULER

  • Eksperimen Senpi Gagal, Pelajar SMP Islamic Center Siak Meninggal karena Tertembak

    Rabu, 08 Apr 2026 | 14:21 WIB
  • FPAN Diminta Tak Catut Nama PPPK Paruh Waktu dalam Aksi Demo di BPJSTK Sumbagut

    Rabu, 01 Apr 2026 | 21:41 WIB
  • RUPS Bank Sumut 2026, Pemda Tambah Modal, Dorong Akselerasi Ekonomi Daerah

    Senin, 06 Apr 2026 | 21:45 WIB
  • KPK Monitor Rp142 M, Sejak Desember 2025, di Labuhanbatu, Masyarakat Benarkah!

    Minggu, 05 Apr 2026 | 19:12 WIB
  • Warga Gajah Sakti dan Titian Antui Dikerangkeng Polisi Gegara Jualan Pil Ekstasi

    Kamis, 02 Apr 2026 | 19:28 WIB
Tuk Malim Daiwah



  • Tentang Kami     Disclaimer     Redaksi     Pedoman Media Siber     Info Iklan     Privacy    

    katakabar.com 2019 - - All Right Reserved Desain by : Aditya

    Network :