https://www.katakabar.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Privacy

https://www.katakabar.com

Privacy     Info Iklan     Pedoman Media Siber     Redaksi     Disclaimer     Tentang Kami    

https://www.katakabar.com

  • Home
  • ";
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

Home

Trending

Pilihan

Katakabar TV

Home / Opini / Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara

Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara


Rabu, 24 Desember 2025 | 21:00 WIB  

Editor : Sahdan
Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara

Foto: A Marsudi/katakabar.com.

www.katakabar.com | Artikel ID: 42967 | Artikel Judul: Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara | Tanggal: Rabu, 24 Desember 2025 - 21:00

Oleh: Agung Marsudi,
Pemerhati Geopolitik

katakabar.com - Bayangkan saja: rakyat bisa hidup bahagia, gotong royong, sejahtera, tata tentrem kerta raharja, tanpa perlu "negara" yang megah dengan istana, DPR, dan APBN triliunan. Tanpa pajak yang menggerus kantong, tanpa birokrasi yang bikin pusing, tanpa janji palsu pemilu yang berakhir seperti kentut bau. Jika itu mungkin—dan sejarah desa-desa adat kita buktikan bisa—maka lupakan saja dongeng "bernegara" yang selama ini dijual begitu manisnya.

Rakyat membentuk konsensus bersama: kita sepakat membentuk negara agar tertib, agar kepentingan bersama teratur, agar sejahtera merata. Kita pilih orang-orang sebagai pengurus—pemerintah, presiden, menteri, DPR—bukan jadi raja, tapi pelayan yang jalankan amanah dari rakyat. Tugasnya jelas, tertulis merah di atas putih dalam Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945: Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, Memajukan kesejahteraan umum, Mencerdaskan kehidupan bangsa, Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Tapi realitasnya: pengurus negara ini gagal. Kesejahteraan? Ketimpangan Gini 0,375, 1% elite kuasai 50% kekayaan. Melindungi bangsa? PSN gusur lahan adat ribuan hektar, rakyat Aceh kibarkan bendera putih di banjir Sumatera, Papua miskin di atas gunung emas Grasberg yang kini membuat lobang di bumi yang sangat mengerikan. Tugas melindungi itu pun gagal.

Mencerdaskan? Stunting 19,8%, IQ anak rata-rata 78—generasi rusak karena gizi buruk dan pendidikan ala kadarnya. MBG menjadi lingkaran proyek makan sedu-sedan. Ketertiban dunia? Utang Rp9.450 T ke Cina, SDA nikel 94% ekspor ke Tsingshan—kedaulatan ekonomi menganga.

Amandemen empat kali UUD 1945 adalah kudeta konstitusi. Reformasi menjual pasal-pasal kepada oligarki. Rakyat ditipu dengan UUD palsu. Negara berjalan tanpa haluan.

Pelanggar konstitusi terbesar justru pemerintah—pengurus negara lima tahunan yang dipilih rakyat untuk menjalankan amanah. Rakyat disuruh-suruh "Pancasilais" setiap hari: upacara bendera, pidato politik basa-basi, spanduk "NKRI Harga Mati"—tapi merekalah yang mengkhianati. UUD 1945 dan Pancasila menjadi alat legitimasi, manajemen negara demi oligarki. 10 tahun era Jokowi, fakta obyektifnya kewarasan dan intelektualitas digiring ke gorong-gorong. Ini bukan potret negara Pancasila—ini negara korporasi!

Pengurus lima tahunan itu bukan saja gagal—mereka berkhianat dan melanggar amanah berulang: korupsi endemik, oligarki kuasai kebijakan, reformasi deformasi menjadi alat rampok. Jika tukang kebun gagal rawat tanaman, ya wajib kita pecat. Jika sopir ugal-ugalan, kita cabut SIMnya. Kenapa jika pengurus negara yang gagal—bahkan melanggar konstitusi, berkhianat, gak bisa dipercaya—malah dilindungi, dipuji, atau diganti sesama kroni?

Ada baiknya ya: berhentikan yang tak becus, pecat yang korup, sanksi berat bagi yang melanggar. Bukan pemilu ritual memilih "bau rasa baru", tapi mekanisme akuntabilitas sejati—recall presiden, audit independen, referendum rakyat. Jika pengurus tak jalankan Alinea ke-4, bubarkan saja konsensus itu—rakyat bisa kok bahagia tanpa negara.

Ini akal sehat kembali ke akar, kembali ke pangkal. Bahwa keberadaan negara itu untuk melayani rakyat, bukan rakyat untuk melayani negara. Jika pengurus tak mampu mensejahterakan, melindungi, mencerdaskan—lupakan janji bernegara. Saatnya rakyat ambil alih: tuntut reformasi sejati, atau buat konsensus baru tanpa oligarki.

Astungkara, kebahagiaan rakyat tak lagi bergantung pada mereka: "yang kepalanya ngaku nasionalis, tapi leher ke perut kapitalis, bawah perut maunya liberalis!"

www.katakabar.com | Artikel ID: 42967 | Artikel Judul: Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara | Tanggal: Rabu, 24 Desember 2025 - 21:00

TOPIK TERKAIT

# Jika# Bahagia# Gak Perlu# Negara# Rakyat# Lupa# Meninggalkan# Janji Palsu# Bernegara
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Sawit

    Pemuda Sakai Kecam Konflik Antara KSO APN dan Karyawan SIS di Kebun Sawit Sitaan Negara

    Senin, 22 Des 2025 | 22:44 WIB
  • Ekonomi

    Mengintip Peluang Bisnis Jasa Viral: Profesi Baru Menjanjikan di Balik Fenomena Medsos

    Sabtu, 20 Des 2025 | 15:39 WIB
  • Sawit

    Emas Hijau Berkembang Pesat di Jabar Tapi Bukan Kelapa Sawit Rakyat

    Selasa, 16 Des 2025 | 15:45 WIB
  • Olahraga

    Lagi, Asia Koshien 2025 Digelar di Jakarta Hadirkan 14 Tim Muda dari Tiga Negara

    Sabtu, 13 Des 2025 | 12:00 WIB
  • Ekonomi

    Dari Lorong Ikan Teri ! Harapan Baru Pedagang Pusat Pasar Medan Untuk Adira Finance

    Selasa, 09 Des 2025 | 15:39 WIB
Rektor

TERPOPULER

  • Eksperimen Senpi Gagal, Pelajar SMP Islamic Center Siak Meninggal karena Tertembak

    Rabu, 08 Apr 2026 | 14:21 WIB
  • FPAN Diminta Tak Catut Nama PPPK Paruh Waktu dalam Aksi Demo di BPJSTK Sumbagut

    Rabu, 01 Apr 2026 | 21:41 WIB
  • RUPS Bank Sumut 2026, Pemda Tambah Modal, Dorong Akselerasi Ekonomi Daerah

    Senin, 06 Apr 2026 | 21:45 WIB
  • KPK Monitor Rp142 M, Sejak Desember 2025, di Labuhanbatu, Masyarakat Benarkah!

    Minggu, 05 Apr 2026 | 19:12 WIB
  • Warga Gajah Sakti dan Titian Antui Dikerangkeng Polisi Gegara Jualan Pil Ekstasi

    Kamis, 02 Apr 2026 | 19:28 WIB
Tuk Malim Daiwah



  • Tentang Kami     Disclaimer     Redaksi     Pedoman Media Siber     Info Iklan     Privacy    

    katakabar.com 2019 - - All Right Reserved Desain by : Aditya

    Network :