Pelalawan, katakabar.com - Program Pelalawan Menawan adalah visi  program unggulan yang diusung Bupati Pelalawan, H. Zukri, dan Wakil Bupati, H. Husni Tamrin selama masa jabatan 2025-2030.

Program Pelalawan Menawan memiliki makna: Maju, Ekonomi Mandiri, Nyaman dan Aman, Bermarwah, serta Berkelanjutan

Masyarakat Kabupaten Pelalawan sebagai daerah mayoritas masyarakatnya bergantung pada komoditas kelapa sawit.

Masyarakat dan petani kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan sempat mengeluhkan penurunan, dan ketidakpastian harga Tandan Buah Segar (TBS). Menanggapi gejolak ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan mengambil tindakan tegas agar petani kelapa sawit tidak dirugikan di tengah ketidakpastian harga Tandan Buah Segar (TBS).

Selain itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Pelalawan gerak cepat mengumpulkan para pengusaha Pabrik Kelapa Sawit (PKS)  pada pekan lalu, guna menjaga keresahan akan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengalami penurunan signifikan di tengah masyarakat saat ini.

Puluhan pimpinan perusahaan sawit duduk berhadapan dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pemerintah daerah, bahas situasi harga kelapa sawit yang terus menjadi keluhan masyarakat Kabupaten Pelalawan.

Bupati Pelalalwan H. Zukri, menyatakan beberapa hari terakhir, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah wilayah Pelalawan dilaporkan mengalami penurunan tajam. Di tingkat petani, keresahan mulai terasa. Sebab bagi sebagian besar masyarakat Pelalawan, kelapa sawit bukan sekadar komoditas melainkan sumber kehidupan.

"Ada anak yang sekolah dari hasil panen kelapa sawit. Ada dapur yang tetap menyala karena tandan buah segar berhasil dijual, jangan sampai petani dizolimi," ucap mantan Anggota DPR Provinsi Riau itu.

Bahkan, jelas H. Zukri, denyut nadi ekonomi desa-desa di Pelalawan banyak bergantung pada harga kelapa sawit setiap harinya. Itu sebabnya, saat gejolak harga mulai mengusik ketenangan masyarakat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan bergerak cepat.

Total 26 perusahaan sawit dikumpulkan dalam satu meja gelar rapat. Tujuannya sederhana tetapi penting memastikan petani tidak menjadi pihak yang paling dirugikan.

Pada rapat tersebut, satu per satu perusahaan diminta membuka data harga pembelian TBS dan harga penjualan Crude Oalm Oil (CPO). Dari situ terlihat adanya perbedaan harga yang cukup mencolok antar perusahaan.

Situasi itu langsung mendapat perhatian serius dari Bupati Pelalawan, H. Zukri. Dengan nada tegas penuh kepedulian, ia meminta perusahaan tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga memikirkan nasib masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari kelapa sawit.

“Saya tidak mau ada perusahaan membeli TBS murah sementara menjual CPO tinggi. Masyarakat harus dilindungi,” tegasnya.

 

Bagi masyarakat kecil, ucapan itu bukan sekadar pernyataan formal dalam rapat pemerintahan. Banyak petani menganggap langkah tersebut sebagai bentuk keberpihakan nyata pemerintah daerah terhadap rakyatnya.

Tidak berhenti pada imbauan, Pemkab Pelalawan juga menyiapkan langkah konkret. Pemerintah meminta adanya keseragaman harga pembelian TBS dengan kisaran Rp2.960 hingga Rp3.050 per kilogram. Tidak cuma itu, akan dibentuk sistem pelaporan harga melalui grup koordinasi agar seluruh transaksi lebih transparan dan mudah diawasi.

Bahkan, tim khusus gabungan Forkopimda dan OPD akan turun langsung ke lapangan untuk memantau perusahaan, peron, hingga kondisi petani di desa-desa.

Angin segar mulai dirasakan para petani kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan. Setelah Bupati Pelalawan H. Zukri SM MM menggelar rapat mendadak bersama 26 perusahaan dan pabrik kelapa sawit di halaman Kantor Bupati, pada pekan lalu , harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani perlahan mulai mengalami kenaikan.

Sebelumnya, anjloknya harga TBS kelapa sawit sempat membuat para petani resah. Harga sawit di sejumlah wilayah bahkan turun drastis hingga berada di kisaran Rp1.900 hingga Rp2.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat banyak petani khawatir karena hasil panen tetap harus dijual demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tetapi, beberapa hari setelah rapat yang dipimpin langsung Bupati Pelalawan, H. Zukri itu digelar, harga TBS kelapa sawit mulai merangkak naik hingga menyentuh kisaran Rp2.800 per kilogram. Kenaikan ini pun disambut antusias masyarakat karena dinilai mulai menghidupkan kembali roda perekonomian warga.

Salah seorang petani sawit di Pelalawan, Ipan, menuturkan masyarakat Kacamatan Langgam  mengaku bersyukur atas membaiknya harga sawit yang mulai dirasakan para petani.

“Alhamdulillah, berharap harga dapat naik terus pak, harapan kita petani pak. Jangan tiba-tiba harga TBS sawit merosot, tentu para petani terkejut,” Selasa (2/6) kepada wartawan.

Petani lainnya, Erwin, petani kelapa sawit asal Pangkalan Kerinci aminkan Ipan. Ia menilai langkah cepat pemerintah daerah memanggil puluhan perusahaan sawit menjadi perhatian besar bagi masyarakat kecil.

Menurutnya, sebelum rapat tersebut digelar, harga TBS kelapa sawit di tingkat petani sangat rendah dan berbeda-beda di setiap tempat, sehingga membuat petani semakin resah.

“Ya, namanya kita butuh, harga berapapun tetap kita jual Pak, daripada busuk. Kami petani kelapa sawit juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Pak Bupati, yang mau mendengar curhatan kami terkait anjloknya harga TBS sawit di tengah masyarakat,” imbuhnya

Para petani kini berharap pemerintah daerah terus melakukan pengawasan terhadap perusahaan dan pabrik sawit agar harga TBS kelapa sawit tetap stabil dan tidak merugikan masyarakat.

Selain itu, mereka juga meminta agar tidak ada lagi perusahaan yang menurunkan harga secara sepihak tanpa koordinasi dengan pemerintah daerah.

Dengan mulai membaiknya harga sawit, masyarakat berharap kondisi ekonomi di Kabupaten Pelalawan kembali stabil, dan daya beli warga kembali meningkat. (Advertorial)