Binjai, Katakabar  – Nasib ratusan pedagang kaki lima di Kota Binjai, Sumatera Utara (Sumut) masih menggantung. 

Di saat mereka kehilangan penghasilan karena tak lagi bisa berjualan, Pemerintah Kota (Pemko) Binjai justru baru memulai tahap diskusi soal relokasi.

Pertemuan antara Pemko Binjai dan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Agung baru digelar, tanpa keputusan konkret.

Diskusi itu dihadiri Sekretaris Daerah Kota Binjai Chairin Simanjuntak, Kepala Dinas Koperasi Sopyan Siregar, serta perwakilan pedagang dari kawasan Jalan Olahraga.

Di forum tersebut, para pedagang menyuarakan kondisi mereka yang kian terdesak. 

Sudah beberapa hari tidak berjualan, sebagian dari mereka mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Seorang pedagang bahkan menyatakan lebih memilih tetap berjualan daripada menerima bantuan yang dijanjikan.

“Saya tidak dapat bantuan tidak apa-apa, yang penting bisa berjualan lagi,” ujarnya.

Namun, harapan itu belum terjawab. Kepala Dinas Koperasi Binjai, Sopyan Siregar, menegaskan bahwa pembahasan masih bersifat awal dan belum mengarah pada keputusan relokasi.

“Ini masih diskusi. Akan ada pembahasan lanjutan,” katanya.

Sikap berbeda justru ditunjukkan Sekda Binjai Chairin Simanjuntak yang memilih tidak memberikan komentar saat dimintai keterangan oleh wartawan.

Di sisi lain, BKM Masjid Agung memberi batasan tegas. Ketua BKM, M. Yusuf (Ucok Ang), menyebut lokasi masjid hanya mampu menampung sekitar 10 pedagang kuliner dan minuman.

“Kalau lebih dari itu, tidak bisa kami tampung,” ujarnya. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian baru. 

Di tengah kebutuhan mendesak untuk kembali berjualan, para pedagang masih harus menunggu kejelasan langkah Pemko Binjai.*