https://www.katakabar.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Privacy

https://www.katakabar.com

Privacy     Info Iklan     Pedoman Media Siber     Redaksi     Disclaimer     Tentang Kami    

https://www.katakabar.com

  • Home
  • ";
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

Home

Trending

Pilihan

Katakabar TV

Home / Internasional / Survei Cacco: Total 65 Persen Konsumen Indonesia Terdampak Penipuan E-commerce

Survei Cacco: Total 65 Persen Konsumen Indonesia Terdampak Penipuan E-commerce


Jumat, 13 Februari 2026 | 14:43 WIB  

Editor : Sahdan
Survei Cacco: Total 65 Persen Konsumen Indonesia Terdampak Penipuan E-commerce

Foto: Ilustrasi/katakabar.com.

www.katakabar.com | Artikel ID: 43829 | Artikel Judul: Survei Cacco: Total 65 Persen Konsumen Indonesia Terdampak Penipuan E-commerce | Tanggal: Jumat, 13 Februari 2026 - 14:43

Jakarta, katakabar.com - Cacco Inc. (Kantor Pusat: Minato-ku, Tokyo; Presiden Direktur Hiroyuki Iwai; Kode Saham: 4166; selanjutnya disebut "Cacco"), penyedia layanan deteksi penipuan Jepang No.1*1 yang berkontribusi pada pengembangan infrastruktur belanja online yang aman, telah melakukan survei mengenai kerugian akibat penipuan dan solusi pencegahannya di kalangan pelaku bisnis E-commerce (EC) dan konsumen di Indonesia.

Indonesia salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital terdepan di Asia Tenggara,dengan pasar E-commerce yang  diperkirakan akan berkembang hingga mencapai 86,81 miliar USD pada tahun 2028.

Sejalan dengan ekspansi pasar ini, peningkatan kerugian akibat penipuan diprediksi akan semakin meluas di masa depan.

*1:Berdasarkan survei yang dilakukan oleh TOKYO SHOKO RESEARCH, LTD., "Survei mengenai jumlah situs EC di Jepang yang menerapkan layanan deteksi penipuan berbayar" (per akhir Maret 2025).

*2:Berdasarkan International Trade Administration, "Indonesia Country Commercial Guide" (diterbitkan 17 November 2025).

■Ringkasan Eksekutif

1. 65 persen pengguna E-commerce di Indonesia pernah mengalami "penipuan", angka yang menunjukkan tren lebih tinggi dibandingkan dengan Jepang.

2. Jenis kerugian utama meliputi "Penolakan COD (Bayar di Tempat)", "Pengambilalihan Akun" (Account Takeover), dan "Penipuan Barang Tidak Dikirim".

3. Sekitar 75 persen korban mengalami kerugian ekonomi rata-rata bulanan di bawah "Rp1.000.000 ".

4. Lebih dari 50 persen pelaku bisnis masih mengandalkan pemantauan manual dan sistem deteksi konvensional, Sementara adopsi 3D Secure hanya mencapai22 persen.

5. Bisnis E-commerce menghadapi potensi kehilangan penjualan dan peningkatan beban layanan pelanggan (customer support) akibat meningkatnya pesanan palsu. *(Nilai tukar per 7 Januari 2026)

 ■Rincian Survei

・Penyelenggara: Cacco Inc.

・Metodologi: Riset online melalui Populix

・Target: 100 Pelaku bisnis E-Commerce di Indonesia

・Periode: Mei 2025

1. Frekuensi Kerugian Penipuan: menunjukkan bahwa 65% pelaku bisnis E-commerce di Indonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir.

Pertanyaan: Apakah Anda pernah mengalami penipuan? (Pilihan tunggal)

2. Jenis Penipuan Utama: "Penipuan COD" dan "Pengambilalihan Akun" mendominasi di Indonesia

"Penipuan terkait COD" (58%) dan "Pengambilalihan Akun"(52%) menyumbang porsi terbesar di Indonesia. yang besar. Sebaliknya, "Penipuan Kartu Kredit", yang menjadi fokus utama di Jepang, hanya tercatat sebesar 6%, menyoroti perbedaan signifikan pada lanskap keamanan antar kedua negara..

Pertanyaan: Jenis penipuan apa yang pernah Anda alami? (Pilihan ganda)
3. Kerugian Ekonomi akibat Penipuan

Sekitar 75% kerugian ekonomi bulanan terkonsentrasi di bawah Rp1.000.000. Tetapi, perlu dicatat 23 persen responden mengalami kerugian yang lebih tinggi dalam kisaran Rp1.000.000 hingga Rp10.000.000.

Pertanyaan: Berapa rata-rata kerugian ekonomi bulanan akibat penipuan pesanan? (Pilihan tunggal)

4. Solusi Pencegahan Penipuan

Lebih dari 50% bisnis masih mengandalkan pemantauan manual (51 persen) atau sistem internal. Sementara itu,adopsi metode keamanan 3D Secure di Indonesia baru mencapai 22 persen.

Pertanyaan: Metode pencegahan penipuan mana yang sedang Anda gunakan saat ini? (Pilihan ganda)

5. Beban Operasional pada Bisnis

Beban operasional manual masih sangat tinggi, di mana 49% responden menghabiskan 11 hingga 20 jam per bulan untuk melakukan pemantauan. Hal ini menimbulkan tantangan seperti membengkaknya biaya tenaga kerja dan risiko false positive.

Pertanyaan: Berapa jam yang dihabiskan setiap bulan untuk pemantauan penipuan secara manual? (Pilihan tunggal)

■ Kesimpulan

Survei ini mengungkapkan bahwa frekuensi penipuan tergolong tinggi dengan metode yang semakin beragam di pasar E-commerce Indonesia. Secara khusus, masalah seperti penolakan COD dan pesanan melalui pengambilalihan akun yang berakar pada metode pembayaran dan saluran transaksi spesifik sangat menonjol.

Saat ini, banyak bisnis masih bergantung pada pemantauan manual, yang membebani sumber daya manusia secara signifikan. Ketergantungan ini tidak hanya mengurangi efisiensi tetapi juga berpotensi menyebabkan positif palsu (false positive), yang dapat berdampak negatif pada pengalaman pengguna.

Sebagaimana yang terjadi di Jepang dalam satu dekade terakhir, skema penipuan di Indonesia diperkirakan akan menjadi lebih canggih seiring pertumbuhan pasar. Ke depannya, pasar Indonesia perlu beralih menuju deteksi real-time dan operasi berbasis aturan otomatis untuk mengurangi ketergantungan pada proses manual. Cacco bertujuan untuk mendukung kemajuan pencegahan penipuan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar Indonesia dan berkontribusi pada pertumbuhan ekosistem E-commerce yang berkelanjutan. 

*Nama perusahaan dan nama produk/layanan (termasuk logo) yang tercantum di sini adalah merek dagang atau merek dagang terdaftar dari pemiliknya masing-masing.

www.katakabar.com | Artikel ID: 43829 | Artikel Judul: Survei Cacco: Total 65 Persen Konsumen Indonesia Terdampak Penipuan E-commerce | Tanggal: Jumat, 13 Februari 2026 - 14:43

TOPIK TERKAIT

# Survei Cacco# Konsumen# 65 Persen# Terdampak# Penipuan# E-commerce
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Ekonomi

    Takut Deposit Lantaran Penipuan, Nasabah Ini Bertahan 5 Tahun di HSB Investasi

    Sabtu, 24 Jan 2026 | 11:08 WIB
  • Nasional
    Pulihkan Layanan Medis

    Kementerian PU Percepat Pembersihan RSUD dan Puskesmas Terdampak Bencana di Sumatera

    Selasa, 20 Jan 2026 | 12:00 WIB
  • Default

    Pulihkan Konektivitas Aceh, Kementerian PU: Sejumlah Jembatan Terdampak Banjir Kembali Fungsional

    Minggu, 18 Jan 2026 | 14:32 WIB
  • Sumut

    Dari Pelabuhan Belawan, Bantuan Logistik TNI AD Menuju Wilayah Terdampak

    Kamis, 15 Jan 2026 | 17:07 WIB
  • Lingkungan

    Akses Jalan Terdampak Bencana Berangsur Fungsional di Sumut

    Jumat, 09 Jan 2026 | 11:38 WIB
Rektor

TERPOPULER

  • Eksperimen Senpi Gagal, Pelajar SMP Islamic Center Siak Meninggal karena Tertembak

    Rabu, 08 Apr 2026 | 14:21 WIB
  • FPAN Diminta Tak Catut Nama PPPK Paruh Waktu dalam Aksi Demo di BPJSTK Sumbagut

    Rabu, 01 Apr 2026 | 21:41 WIB
  • RUPS Bank Sumut 2026, Pemda Tambah Modal, Dorong Akselerasi Ekonomi Daerah

    Senin, 06 Apr 2026 | 21:45 WIB
  • KPK Monitor Rp142 M, Sejak Desember 2025, di Labuhanbatu, Masyarakat Benarkah!

    Minggu, 05 Apr 2026 | 19:12 WIB
  • Warga Gajah Sakti dan Titian Antui Dikerangkeng Polisi Gegara Jualan Pil Ekstasi

    Kamis, 02 Apr 2026 | 19:28 WIB
Tuk Malim Daiwah



  • Tentang Kami     Disclaimer     Redaksi     Pedoman Media Siber     Info Iklan     Privacy    

    katakabar.com 2019 - - All Right Reserved Desain by : Aditya

    Network :