Kokoh
Sorotan terbaru dari Tag # Kokoh
Pasar Aset Bitcoin Tetap Kokoh, Mengapa Penurunan Pasar Sinyal Positif Bagi Investor?
Jakarta, katakabar.com - Belkangan ini di tengah dinamika pasar aset kripto yang penuh tantangan, para analis dari perusahaan riset terkemuka, Bernstein, menyampaikan pandangan yang sangat optimis mengenai masa depan Bitcoin di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami penurunan. Bernstein menegaskan situasi yang terjadi saat ini merupakan fase pelemahan yang tidak mengkhawatirkan karena tidak ditemukan adanya kegagalan sistem maupun keruntuhan institusi besar seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Penurunan harga yang kita saksikan akhir-akhir ini dipandang sebagai ujian kepercayaan bagi para investor dibandingkan sebuah kegagalan teknologi, sehingga para ahli tetap yakin bahwa harga Bitcoin berpotensi menyentuh angka $150.000 pada akhir tahun 2026 mendatang. Keyakinan ini didasari oleh fondasi industri yang kini jauh lebih kokoh dengan adanya dukungan nyata dari lembaga keuangan besar dan kebijakan pemerintah di beberapa negara yang semakin terbuka terhadap aset kripto. Berbeda dengan masa lalu yang penuh dengan ketidakpastian, saat ini Bitcoin telah menjadi bagian dari strategi cadangan perusahaan besar dan instrumen investasi resmi melalui ETF yang diakui secara global. Bagi para investor di Indonesia, dinamika pasar global ini tentu memberikan pengaruh psikologis yang cukup besar terutama dalam menghadapi fluktuasi harga harian yang cukup tajam. Tetapi, pandangan positif dari lembaga riset internasional ini memberikan harapan baru bahwa peluang keuntungan jangka panjang masih terbuka sangat lebar bagi mereka yang mampu bersikap tenang dan tidak terbawa arus kepanikan sesaat. Bittime platform pertukaran aset kripto yang berizin dan diawasi di Indonesia, menekankan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang bagi setiap penggunanya agar investasi tidak sekadar menjadi ajang spekulasi, melainkan sebuah keputusan yang diambil berdasarkan pemahaman mendalam mengenai manajemen risiko dan fundamental aset. Dengan memperkuat wawasan sebelum bertransaksi, investor diharapkan dapat membedakan antara fluktuasi harga sementara dan nilai jangka panjang sebuah teknologi sehingga tidak mudah goyah oleh berita-berita yang kurang akurat. Kesabaran dan pemahaman yang baik akan menjadi kunci utama dalam meraih potensi maksimal dari perkembangan aset kripto yang terus bertransformasi menuju standar keuangan masa depan yang lebih inklusif dan modern. Diketahui, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya, salah satunya komunitas Bittime
Emas Melemah Jelang Keputusan The Fed, Tren Bullish Tetap Kokoh
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) melemah Selasa (2/12) setelah sempat menyentuh titik tertinggi harian di $4.240. Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, penurunan ini terjadi karena para investor memilih melakukan aksi ambil untung menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan minggu depan. "Penguatan dolar AS turut menekan harga emas, dengan indeks DXY bertahan di 99,44 atau naik tipis 0,04%, sehingga mengurangi minat terhadap instrumen safe haven tersebut," ujar Andy. Pada Rabu (3/12), harga emas kembali turun mendekati $4.210 akibat lanjutan aksi profit taking. Penurunan ini berlangsung di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menantikan rilis data ekonomi penting AS seperti ADP Employment Change dan ISM Services PMI. Koreksi sekitar 0,65% secara harian juga menggambarkan meningkatnya selera risiko global, dengan sebagian investor beralih ke aset berisiko seiring meningkatnya optimisme terhadap prospek ekonomi. Walaupun tekanan jangka pendek masih terasa, Andy Nugraha menilai ruang penurunan emas relatif terbatas. Pasar tetap yakin akan adanya peluang besar pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan 9 hingga 10 Desember 2025 nanti. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemotongan suku bunga kini berada di level 89%, naik signifikan dari sekitar 71% pekan sebelumnya. Penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena mengurangi biaya peluang dalam menyimpan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Dari perspektif teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish XAU/USD masih dominan. Andy menegaskan bahwa meskipun terjadi koreksi, struktur harga tetap menggambarkan pola penguatan yang sehat. Momentum ini turut diperkuat oleh stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di kisaran 4,086% serta imbal hasil riil yang bertahan di 1,856%, yang keduanya tidak menunjukkan kenaikan tajam yang biasanya memberi tekanan tambahan pada emas. Untuk prospek pergerakan hari ini, Andy memberikan dua kemungkinan skenario. Pertama, bila dorongan bullish berlanjut dan pelaku pasar merespons positif ekspektasi pemangkasan suku bunga, emas berpeluang menguji area resistance di 4.267. Jika level ini berhasil ditembus, ruang kenaikan berikutnya terbuka lebih lebar. Kedua, jika sentimen risk-on meningkat atau data ekonomi AS dirilis lebih kuat dari estimasi, emas dapat terkoreksi ke support terdekat di 4.184. Level ini menjadi penentu apakah tren naik jangka pendek tetap bertahan atau mulai berbalik melemah. Dari sisi geopolitik, kabar pertemuan utusan AS Steve Witkoff dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta keterlibatan Jared Kushner dalam pembahasan rencana perdamaian Rusia–Ukraina juga dapat memengaruhi arah harga emas. Biasanya, ketegangan geopolitik mendukung kenaikan emas; sebaliknya, ekspektasi tercapainya perdamaian dapat mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai tersebut. Secara keseluruhan, meski emas sedang berada dalam fase koreksi, peluang penguatan masih cukup besar, terutama jika keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed semakin menguat. Dengan kombinasi faktor ekonomi, geopolitik, dan analisis teknikal yang cenderung mendukung, harga emas diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun tetap mempertahankan bias bullish dalam perdagangan hari ini.
Emas Menguat Tajam, Tren Bullish Kian Kokoh Didukung Melemahnya Dolar AS
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali bergerak positif pada perdagangan Kamis setelah lonjakan kuat sehari sebelumnya. Rabu (26/11), emas mencatat kenaikan lebih dari 0,80 persen, terdorong oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta pelemahan Dolar AS. Kedua faktor ini meningkatkan minat investor terhadap aset aman, terutama ketika peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve masih tinggi meski data ekonomi Amerika menunjukkan ketahanan. XAU/USD sempat menyentuh $4.165 setelah rebound dari level terendah hariannya di $4.127. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, sinyal teknikal emas memperlihatkan kecenderungan bullish yang semakin dominan. Pola candlestick harian yang terbentuk, ditambah posisi harga yang bergerak di atas indikator Moving Average, menunjukkan momentum kenaikan masih kuat. “Selama dorongan beli tetap terjaga, prospek emas untuk melanjutkan penguatan masih sangat terbuka,” jelas Andy. Dalam pandangan Andy, ada dua skenario utama yang berpotensi terjadi hari ini. Jika tekanan beli terus berlanjut, emas diperkirakan dapat menembus area $4.208, yang menjadi resistance penting. Jika momentum memudar dan harga terkoreksi, maka penurunan kemungkinan mengarah ke $4.116, yang saat ini berfungsi sebagai support jangka pendek. Pada Kamis (27/11) pagi, XAU/USD sempat bergerak di kisaran $4.150, sedikit melemah dibanding penutupan sebelumnya, tetapi tetap berada dalam jalur bullish. Dari sisi fundamental, data ekonomi terbaru dari AS turut memberikan dinamika baru. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim tunjangan pengangguran mingguan turun ke 216.000 level terendah sejak pertengahan April dan lebih baik dari perkiraan. Meski Pesanan Barang Tahan Lama untuk September mengalami penurunan dari bulan sebelumnya, angka tersebut tetap berada di atas ekspektasi pasar. Menariknya, data ekonomi yang cukup kuat ini tidak mengurangi keyakinan pasar bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember. Probabilitas kebijakan dovish tersebut berada di sekitar 85 persen, menurut CME FedWatch Tool. Ekspektasi ini menjadi faktor utama pelemahan Dolar AS, tercermin dari turunnya Indeks Dolar (DXY) ke level 99,60 atau 0,19 persen lebih rendah dari sesi sebelumnya. Melemahnya dolar memberikan dorongan tambahan bagi emas, yang memiliki hubungan terbalik terhadap pergerakan mata uang tersebut. Di sisi geopolitik, ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan kembali meningkat setelah Taiwan menilai adanya perubahan pola manuver militer Beijing. Sementara, kabar adanya perkembangan positif menuju potensi resolusi konflik Rusia-Ukraina juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Walau perdamaian biasanya menekan permintaan aset safe haven seperti emas, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed masih menjadi penopang utama pergerakan harga. Secara keseluruhan, tren emas pada hari ini masih menunjukkan arah naik yang kuat. Didukung oleh pelemahan dolar, meningkatnya peluang pemangkasan suku bunga, dan kondisi global yang dinamis, potensi penguatan emas tetap besar.
Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Tren Bullish XAU/USD Masih Kokoh
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali torehkan rekor baru dengan tren kenaikan yang solid. Pada sesi perdagangan Amerika Utara, Senin (13/10), harga logam mulia ini menembus level psikologis penting di atas $4.100 dan terus bergerak naik hingga mendekati $4.130 pada awal sesi Asia, Selasa (15/10). Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, lonjakan harga emas kali ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang mendorong para investor beralih ke aset aman seperti emas. Secara teknikal, Andy menjelaskan sinyal dari grafik candlestick serta indikator Moving Average (MA) mengonfirmasi kekuatan tren bullish yang masih dominan pada XAU/USD. Sentimen pasar cenderung positif, dan selama tekanan beli tetap kuat, peluang kenaikan lebih lanjut masih terbuka lebar. “Apabila momentum kenaikan ini bertahan, emas berpotensi menembus level $4.200 dalam waktu dekat. Namun, bila terjadi koreksi teknikal, maka area $4.071 menjadi batas bawah yang perlu diwaspadai oleh trader,” jelas Andy. Dari sisi fundamental, eskalasi konflik perdagangan AS–Tiongkok menjadi pendorong utama reli harga emas. Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan kebijakan baru yang lebih keras terhadap Tiongkok, termasuk penerapan tarif 100% untuk seluruh barang impor asal Negeri Tirai Bambu serta pembatasan ekspor perangkat lunak strategis buatan AS yang akan berlaku mulai 1 November. Meski Trump kemudian menenangkan pasar dengan pernyataan “semuanya akan baik-baik saja,” kekhawatiran terhadap perang dagang masih membebani pelaku pasar. Faktor lain yang memperkuat reli emas adalah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat Oktober, dan kemungkinan lanjutan pada Desember mendatang. Kebijakan suku bunga rendah ini membuat emas semakin menarik karena menurunkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil. Meski, sejumlah analis memperingatkan potensi koreksi harga setelah kenaikan signifikan lebih dari 56% sepanjang tahun ini. Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Bank, menilai “Rally emas masih memiliki ruang untuk tumbuh, tetapi konsolidasi jangka pendek akan lebih sehat bagi kelanjutan tren naiknya.” Sementara, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun delapan basis poin ke 4,059 persen, dan imbal hasil riil juga menurun ke 1,742 persen, kondisi yang semakin memperkuat dukungan terhadap harga emas. Analis dari Bank of America serta Societe Generale bahkan memperkirakan harga emas bisa mencapai $5.000 pada tahun 2026, sedangkan Standard Chartered menaikkan target rata-rata untuk tahun depan menjadi $4.488.
BRI-MI Kian Kokoh di Top 3, Kok Bisa!
Jakarta, katakabar.com - PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI) menorehkan lagi catatan positif di sepanjang tahun 2024, melalui pertumbuhan dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) reksa dana sebesar Rp31,97 triliun per 31 Mei 2024, tumbuh 7 persen secara tahunan (year on year/YoY). Direktur Utama BRI-MI, Tina Meilina menyatakan, catatan positif ini bukti atas meningkatnya kepercayaan investor terhadap produk reksa dana BRI-MI. "BRI Manajemen Investasi catatkan pertumbuhan dengan total dana kelolaan (AUM) reksa dana senilai Rp31,97 triliun pada Mei 2024 dibandingkan Rp30 triliun pada Mei 2023. Pangsa pasar BRI-MI menjadi 6,6% dari industri reksa dana nasional," rincinya. Tidak hanya itu, Tina menjelaskan terdapat 4 produk unggulan BRI-MI yang menjadi motor pertumbuhan pada 5 bulan pertama 2024. Keempat produk BRI-MI itu, sebutnya, mencatatkan pertumbuhan di atas 10 persen untuk periode berjalan (year to date/YTD). "Hal ini menunjukan minat investor yang terus meningkat terhadap produk-produk unggulan milik BRI-MI," tuturnya. Adapun atas kenaikan AUM tersebut, berikut empat produk unggulan BRI-MI yang mengalami kenaikan AUM di atas 10 persen sepanjang tahun 2024, yakni: 1. Reksa Dana BRI G20 Sharia Equity Fund Dollar (G20): Reksa dana G20 mengalami pertumbuhan sebesar 150,60 persen atau setara Rp58,03 miliar per 6 Juni 2024 dari sebelumnya Rp23,16 miliar pada akhir Desember 2023. Reksa dana G20 menawarkan investasi berbasis syariah dengan eksposur dolar pada pasar global. 2. Reksa Dana BRI Seruni Pasar Uang Syariah (SPUS): Reksa dana SPUS mengalami pertumbuhan AUM sebesar 112,84 persen atau senilai Rp81,02 miliar per 6 Juni 2024 dari sebelumnya Rp38,07 miliar pada akhir Desember 2023. Reksa dana SPUS menawarkan alternatif investasi yang stabil dan sesuai prinsip syariah, menjadikannya sebagai pilihan utama bagi investor yang mengutamakan keamanan dan stabilitas. 3. Reksa Dana BRI Gamasteps Pasar Uang (GamaSteps): Reksa dana GamaSteps mengalami pertumbuhan AUM sebesar 45,47 persen menjadi Rp517,03 miliar per 6 Juni 2024 dari posisi senilai RpRp355,42 miliar pada akhir Desember 2023. Reksa dana GamaSteps menawarkan likuiditas tinggi dan risiko rendah, ideal untuk investor yang mencari fleksibilitas dalam berinvestasi. 4. Reksa Dana BRI Balanced Regular Income Fund (BRIF): Reksa dana BRIF mengalami pertumbuhan AUM sebesar 14,11 persen atau menjadi sebesar Rp2,72 triliun per 6 Juni 2024 dari sebelumnya Rp2,38 triliun pada akhir Desember 2023. Reksa dana BRIF diformulasikan untuk memberikan keseimbangan antara pertumbuhan dan pendapatan dividen secara bulanan bagi para investor. Inovasi Produk dan Menjaga Kepercayaan Investor Tina melanjutkan, BRI-MI berkomitmen untuk melakukan inovasi produk untuk menjawab perkembangan pasar dan kebutuhan investor. "Fokus kami adalah memberikan solusi investasi dengan mengedepankan risk-adjusted return dan sesuai kebutuhan investor. Dengan begitu, BRI-MI senantiasa menghadirkan produk sesuai dengan profil risiko dan tentunya dengan imbal hasil yang optimal serta peningkatan pelayanan investasi bagi para investor," imbuhnya. Sebagai informasi tambahan, nasabah juga dapat melakukan pembelian produk reksa dana unggulan dan produk lainnya secara online melalui aplikasi digital InvestASIK, BRIGHTS atau di gerai APERD rekanan BRI-MI lainnya. Minimum pembelian reksa dana yang ditawarkan juga sangat terjangkau mulai dari Rp10.000. Kunjungi akun Instagram resmi BRI-MI yakni @brimanajemeninvestasi mengetahui lebih lanjut produk BRI-MI.