Aceh, Katakabar – Air matanya tak mampu dibendung saat mengenang hari ketika banjir bandang meluluhlantakkan lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.

Di hadapan hamparan tanaman cabai yang kini kembali menghijau, Abdul Rozzaq Mubaroq (38) masih menyimpan luka mendalam akibat bencana yang menerjang Aceh Tamiang pada November 2025 lalu.

Sore itu, di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Rozzaq bercerita tentang perjuangan panjangnya bangkit dari keterpurukan. Suaranya sesekali bergetar ketika mengenang bagaimana banjir menyapu habis 1,8 hektare lahan pertanian miliknya.

Bencana itu tidak hanya menghanyutkan tanaman dan peralatan pertanian, tetapi juga merenggut harapan yang selama ini menjadi sandaran hidup keluarganya. Lumpur setebal puluhan sentimeter menimbun lahan, sementara sampah berserakan di setiap sudut kebun.

"Awal melihat lahan pertanian ini, saya bingung mau mulai dari mana. Saya sempat berpikir bagaimana bisa memberi makan anak dan istri. Setiap malam saya memandang wajah keluarga. Sedih, bingung, dan gelisah bercampur jadi satu," ujar Rozzaq sembari menyeka air mata.