Home / Riau / Kades Sangkir Indah Tuai Sorotan, dari Isu SARA Hingga Peredaran Narkoba
Kades Sangkir Indah Tuai Sorotan, dari Isu SARA Hingga Peredaran Narkoba
Isu SARA hingga peredaran narkoba mencuat di mediasi kasus pembakaran peron sawit di Rokan Hulu. Foto: Yahya/katakabar.com.
Pasir Pengaraian, katakabar.com - Kasus pembakaran peron sawit milik seorang warga di Desa Sangkir Indah, belakangan ini menghiasi laman linimasa beberapa portal online rupanya cukup menarik perhatian publik.
Peristiwa yang di latar belakangi aksi massa kelompok ibu-ibu perwiritan di desa tersebut satu narasi tak sedap terkait kinerja buruk sang kepala desa atau Kades.
Beragam persoalan pun muncul satu per satu sasar isu sosial masyarakat, dan peredaran narkobadinilai sudah memasuki zona merah.
Isu SARA muncul tatkala Kepala Desa, Misdar terkesan melakukan pembiaran terhadap aksi anarkis pembakaran yang dilakukan kelompok massa di Desa Sangkir Indah, Kecamatan Pagaran Tapah Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu beberapa bulan lalu.
Tak pelak, tudingan keberpihakan ke salah satu pihak membuat lambannya proses penanganan kasus ini hingga berujung buntunya mediasi yang di lakukan Polsek Kunto Darussalam, Sabtu (2/8) kemarin.
Hal ini pun pantik emosi Seri Narni, korban pembakaran yang juga masyarakat melayu desa.
"Anggapan anak kandung dan anak tiri di Desa Sangkir Indah itu bukan mengada-ada atau isapan jempol semata, tapi faktanya selama ini keluarga saya alami," ucapnya sesaat setelah proses mediasi gagal di Mapolsek Kunto Darussalam.
Ia tak persoalkan soal masyarakat suku asli atau pendatang, tapi sikap fanatisme kesukuan yang kerap ditunjukkan Kepala Desa membuat diskriminasi sosial bagi sebagian masyarakat.
Kondisi ini, menurut Seri Narni diperparah dengan bebas, dan maraknya peredaran narkoba di Desa Sangkir Indah. Ia mengaitkan dengan motif, dan alasan kejadian pembakaran peron sawit milik keluarganya tersebut. "Benar, peredaran narkoba di desa ini (Sangkir Indah) sangat meresahkan, apalagi kondisi akhir-Akhir ini," sebutnya.
Tapi, lanjut ibu empat anak ini, basis peredaran barang haram tersebut, mulai dari lokasi transaksi hingga pengguna ada di beberapa titik tertentu, dan bukan di lingkungan peron sawit miliknya.
"Ada beberapa titik lokasi sebenarnya kalau mau di tindak lanjuti, informasi nya kades tau akan persoalan ini, namun terkesan tutup mata," cerita perempuan paruh baya ini lagi.
Tingkat penggunaan zat psikotropika golongan satu yang sudah menyasar para pelajar saat ini, menurut Seri Narni mutlak tanggung jawab Kades yang harus berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas, dan Babinsa Desa Sangkir Indah.
"Beliau (Misdar) paling paham dengan karakter masyarakat di sini, harusnya melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum sebagai upaya pemberantasan narkoba, bukan malah terkesan melakukan pembiaran," tegas Seri Narni.
Ia berharap, baik perangkat pemerintahan, dan instansi kepolisian, melalui Camat Pagaran Tapah Darussalam, dan Kapolsek Kunto Darussalam menindaklanjuti kondisi dan keresahan yang terjadi di Desa Sangkir Indah agar ke depan tidak terjadi lagi aksi anarkis massa yang disebabkan netralitas kepemimpinan Kades yang menjadi pemicu persoalan.








Komentar Via Facebook :