Pasir Pengaraian, katakabar.com - Titik jenuh dan hilangnya kepercayaan anggota kepada manajemen Koperasi Serba Usaha (KSU) Sumber Rezeki Kota Lama akhirnya memuncak. Para Ketua Kelompok Tani (Poktan) mewakili seluruh massa anggota menyatakan perang terhadap sistem yang busuk, dan menuntut agar Khairul Zaman selaku Ketua beserta seluruh jajaran pengurusnya segera angkat kaki dari kursi jabatan.

Melalui pertemuan resmi dengan Bupati Rokan Hulu, Anton ST MM, dan Kepala Dinas Koperasi, Soeparno, Senin (6/7), tuntutan itu disuarakan dengan sangat lantang. Mereka tidak mau lagi bertele-tele, tidak mau lagi didramai dengan janji manis, yang mereka inginkan sekarang adalah perubahan total.

"Kami ingin perombakan pengurusan struktur KSU-SR mulai dari Ketua hingga seluruh pengurus lainnya. Mengevaluasi seluruh pengurus, kami tidak ingin koperasi ini seperti apa yang selama ini terjadi. Kami tidak ingin berlarut-larut dengan masalah ini lagi. Yang pasti KSU-SR Kota Lama itu harus pengurus baru, ketua baru, semuanya harus steril," tegas H. Sawal sangat tegas mewakili anggota.

Fondasi Kemarahan dan Deretan Dosa Pengurus

Tuntutan keras ini bukan tanpa alasan. Ini adalah hasil akumulasi kekecewaan bertahun-tahun yang dibeberkan secara gamblang dalam rapat internal pada Rabu, 1 Juli 2026 lalu di kediaman H. Rama. Ada sejumlah kebusukan yang menjadi alasan utama kenapa Khairul Zaman dan kawan-kawan dinyatakan tidak lagi memegang kendali:

1. Uang Anggota Rp2,7 Miliar "Hilang" Tanpa Jejak: Tercatat adanya dana anggota sebesar Rp2.763.781.657 yang lenyap dalam usaha spare-part mobil. Hingga saat ini nasib uang rakyat tersebut tidak jelas keberadaannya, tidak ada pertanggungjawaban yang jelas, dan tidak ada upaya penyelesaian yang memuaskan sejak tahun 2023.

2. Aset 11 Hektare "Dihapus" dari Buku
Sangat Mencurigaka: lahan kebun sawit milik koperasi seluas 11 hektare beserta hasil panennya diduga sengaja tidak dimasukkan ke dalam laporan keuangan. Tidak ada di aset tetap, tidak ada di pendapatan, tidak ada di neraca. Ini menimbulkan pertanyaan besar: Ke mana perginya aset dan uang hasil jual sawit tersebut? Apakah dinikmati oleh oknum tertentu?

3. Kelalaian Parah, Hasil Panen Anjlok:
Pengurus dinilai sangat lalai membiarkan maraknya pencurian buah sawit di lapangan. Akibatnya, pendapatan petani merosot tajam sementara pengurus diam saja tak bertindak.

4. Berkuasa Terlalu Lama, Jalankan Sesuka Hati: Sudah sejak tahun 2003 menjabat, pengurus dinilai merasa memiliki kekuatan mutlak. Koperasi dijalankan seperti perusahaan pribadi, tidak transparan, dan melanggar aturan main, termasuk soal pembagian fee manajemen yang merugikan anggota.

5. RAT 2024 Tidak Pernah Dilaksanakan: Hal ini bukti ketidakpatuhan dan ketidakjujuran, Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk Tahun Buku 2024 saja tidak pernah digelar. Ini pelanggaran berat terhadap Anggaran Dasar dan Undang-Undang Koperasi.

6. Dugaan Ketidaktransparanan terhadap Umi Handayani: Terdapat dugaan kuat adanya ketidakakuntabilitasan dalam pengelolaan kepengurusan anggota a/n Umi Handayani pada periode Tahun 2021-2022. Hal ini mencakup sumber penggunaan dana anggota, kas umum, hingga penerimaan kwitansi yang diduga tidak transparan dan tidak sesuai aturan.

Bupati dan Kadis Turun Tangan, RLB Segera Digelar

Melihat besarnya masalah dan desakan ribuan anggota, Bupati Rokan Hulu, Anton ST MM, menyambut baik kedatangan mereka dan langsung memerintahkan Kadiskoptransnaker, Soeparno, untuk segera memfasilitasi solusi yang tepat.

Kadis Koperasi, Soeparno, dalam kesempatan tersebut menegaskan akan segera menindaklanjuti permintaan tersebut. Ia mengakui bahwa yang bermasalah bukan koperasinya, melainkan sistem dan kepengurusannya.

"Yang rusak itu bukan Koperasinya tapi sistem kepengurusannya. Makanya nanti di Rapat Luar Biasa (RLB) ini semua dokumen dan data akan dikonfirmasi kepada anggota. Disitulah nanti diputuskan terkait dengan rencana koperasi kedepan, keuangan, dan badan pengawasnya akan kita bantu benahi," ujar Soeparno.

Fokus Utama Ganti Semua!

Meskipun ada banyak masalah hukum dan keuangan yang menggunung, bagi para anggota, prioritas nomor satu saat ini hanyalah satu: segera gelar RLB dan ganti semua pengurus.

"Sebetulnya kita fokus pada RLB, soal masalah lain atau aduan itu urusan nantilah. Seluruh anggota menginginkan RLB segera dilaksanakan tanpa terkecuali. Kami dan seluruh anggota lainnya sudah bersepakat untuk membawa koperasi ini ke tangan yang baru, yang jujur, dan yang amanah," tegas H. Sawal.

Pesan ini sangat jelas untuk Khairul Zaman dan seluruh jajaran: Legowo lah! Anggota sudah tidak percaya lagi. Koperasi bukan milik pribadi, ini milik bersama, dan waktunya kalian minggir demi kebaikan bersama.