Home / Sawit / Produksi dan Stok Minyak Sawit Naik Tapi Ekspor Indonesia Menukik
Produksi dan Stok Minyak Sawit Naik Tapi Ekspor Indonesia Menukik
Foto Istimewa/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Produksi, dan stok minyak kelapa sawit naik tapi ekspor Indonesia menukik alias turun.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI mencatat produksi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil bulan September 2024 mencapai 4,021 juta ton, lebih tinggi 0,88 persen dibandingkan produksi bulan JuIi sebesar 3,986 juta ton.
Produksi minyak inti sawit atau PKO pun naik menjadi 394 ribu ton dari 391 ribu ton pada bulan Agustus 2024. Tapi, peningkatan produksi tidak dibarengi dengan penambahan volume ekspor.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono mengatakan, total ekspor pada September turun cukup besar menjadi 1,860 juta ton dari sebelumnya 2,384 juta ton pada Agustus.
"Turun sebesar 21,97 persen. Penurunan yang besar terjadi pada produk olahan CPO, dari 1,668 juta ton pada bulan Agustus menjadi 1,373 juta ton pada bulan September (-17,70%). Diikuti CPO yang turun dari 222 ribu ton pada Agustus menjadi 28 ribu ton pada bulan September (-87,26%). Sedang, ekspor oleokimia turun dari 440 ribu ton pada bulan Agustus menjadi 408 ribu ton pada bulan September (-7,33%)," jelasnya melalui siaran pers, dilansir dari laman EMG, Jumat (22/11).
Menurut negara tujuan, kata Mukti, penurunan ekspor terbesar terjadi untuk tujuan India yang turun 220 ribu ton setelah naik 170 ribu pada bulan sebelumnya. Pakistan juga turun menjadi 112 ribu ton setelah naik 62 ribu ton pada bulan Agustus. Sedangkan Timur Tengah turun 79 ribu ton setelah naik 6 ribu ton pada bulan sebelumnya.
"Kenaikan ekspor terjadi untuk tujuan USA menjadi 231 ribu ton atau naik sebesar 80 ribu ton setelah turun 42 ribu ton pada bulan Agustus. Belanda juga naik menjadi 155 ribu ton setelah naik 35 ribu ton pada bulan sebelumnya," ulasnya.
Secara tahunan (YoY) hingga September, ekspor ke China tahun 2024 turun 37,66 persen dibanding tahun 2023. Demikian pula India 31,13 persen lebih rendah dan Bangladesh 73,12 persen lebih rendah.
Lalu, ekspor ke Uni Eropa 12,31 persen lebih tinggi dari tahun lalu, Pakistan lebih tinggi 3,98 persen, dan Rusia lebih tinggi 135 persen dari tahun lalu.
"Secara nasional, ekspor tahun 2024 lebih rendah 16,60 persen dibandingkan dengan ekspor 2023 untuk periode Januari-September," bebernya.
Nilai ekspor bulan September mencapai USD 2,183 miliar atau lebih rendah 14,06 persen dari bulan Agustus sebesar USD 2,450 miliar.
"Secara YoY sampai dengan bulan September nilai ekspor tahun 2024 mencapai USD 19,532 miliar atau 15,25% lebih rendah dari nilai ekspor 2023 sebesar USD 23,046 miliar," ujarnya.
Total konsumsi dalam negeri turun menjadi 1,989 juta ton pada bulan September dari 2,060 juta ton pada bulan Agustus 2024. Konsumsi minyak sawit untuk pangan turun dari 898 ribu ton pada Agustus 2024 menjadi 865 ribu ton pada bulan September, sedangkan untuk biodiesel turun menjadi 934 ribu ton pada bulan September dari 979 ribu ton pada bulan Agustus. Sebaliknya, konsumsi untuk oleokimia naik menjadi 190 ribu ton pada September dari 183 ribu ton pada bulan Agustus 2024.
"Secara YoY hingga September, total konsumsi dalam negeri tahun 2024 mencapai 17,559 juta ton atau 1,63 persen lebih tinggi dari tahun 2023 sebesar 17,277 juta ton. Konsumsi untuk pangan mencapai 7,530 juta ton atau 4.01 persen lebih rendah dari tahun lalu sebesar 7,845 juta ton, oleokimia 1,674 juta ton atau lebih rendah 1,65 persen dari tahun sebelumnya sebesar 1,702 juta ton, sedangkan biodiesel mencapai 8,355 juta ton atau lebih tinggi 8.08 persen dari tahun sebelumnya sebesar 7,730 juta ton," bebernya.
Jadi, tambahnya, produksi yang mengalami kenaikan 0,88 persen konsumsi dalam negeri yang turun 3,48 persen, dan ekspor yang turun 21,97 persen, maka stok akhir September naik menjadi 3,021 juta ton dari 2,450 juta ton pada akhir Agustus 2024.








Komentar Via Facebook :