Home / Sawit / Apkasindo Hadiri FGD, Satu Bursa Tunggal Penting Referensi Perdagangan Sawit di Indonesia
Apkasindo Hadiri FGD, Satu Bursa Tunggal Penting Referensi Perdagangan Sawit di Indonesia
Foto: Istimewa/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) hadiri Focus Group Discussion (FGD) yang ditaja Institut Pertanian Bogor (IPB) bahas bursa sawit Indonesia, di Hotel Novotel Cikini, Jakarta Pusat, Senin (20/10) lalu.
FGD ini digelar terkait pelaksanaan penelitian akselerasi peran bursa berjangka komoditas CPO Indonesia sebagai acuan pasar dunia oleh International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE) IPB.
Ketua Tim Peneliti InterCAFE IPB, Prof. Dr. Dedi Budiman Hakim, MA.Ec, menjelaskan penelitian ini penting dilakukan. Penelitian ini sebagai upaya untuk menghasilkan kajian bagaimana Indonesia dapat menjadi acuan harga CPO dunia melalui ICDX.
“Indonesia sebagai produsen terbesar seharusnya bisa membentuk ekosistem bursa yang reliable seperti bursa Malaysia,” ujarnya, dilansir dari laman sawitsetara.co, Kamis sore.
Sedang Dr. Widyastutik, SE, M.Si., tim dari peneliti IPB, mencontohkan pemerintah Malaysia sangat mendukung bursa malaysia sehingga wajar jika saat ini harga sawit di Bursa Malaysia menjadi acuan dunia.
Apkasindo diwakili Head of International Relation DPP APKASINDO (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, ’Mgt (Int.Bus), CC.,CL. Selain itu hadir perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan perwakilan Kementerian Perdagangan yakni BAPPEPTI, serta dari Bursa CPO Indonesia ICDX dan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).
Menurut Djono, Bursa CPO Indonesia memiliki peran penting sebagai kunci transparansi dalam perdagangan sawit di Indonesia. "Sesuai dengan arahan Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Gulat ME Manurung, MP, C.IMA, C.APO, penting untuk memiliki hanya satu harga referensi acuan bursa CPO.
“Bapak ketua umum menekankan satu bursa tunggal ini penting untuk mendapatkan referensi yang tidak membingungkan yang reliable dan berkeadilan, yang betul betul menggambarkan pasar sawit indonesia, ini sama seperti bursa IHSG, yang dapat menggambarkan industri-industri dan sentimen secara nasional,” ulasnya.
Masih Djono, bursa CPO ini sebenarnya sudah masuk di dalam Permentan Nomor 13 Tahun 2024 tentang Penetapan Harga TBS di mana pada regulasi sebelumnya hanya memasukkan tender KPBN saja. Aturan ini, sebutnya, menjadi dasar penting dalam penetapan harga TBS di seluruh provinsi penghasil kelapa sawit untuk mulai menggunakan harga bursa ICDX sebagai rujukan.
Sudah semestinya, ucap Djono, Indonesia ini menggunakan harga patokan ekspor (HPE) 100 persen dari bursa CPO Indonesia. Apalagi saat ini HPE Indonesia adalah 60 persen dari bursa CPO Indonesia, 20 persen dari bursa Malaysia, serta 20 persen dari bursa rotterdam. Hal menunjukkan Indonesia masih ragu-ragu dengan produk sendiri.
“Bagaimana negara lain bisa percaya bursa ICDX kita menjadi acuan harga internasional, sedangkan kita sendiri dalam negeri masih ragu dan masih menetapkan 60 persen. Kita harus optimis karena ICDX adalah harapan untuk petani sawit lebih sejahtera dan negara kita memiliki harga sawit yang berkeadilan dan stabil untuk masa depan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan dan acuan dunia, karena kita produsen terbesar kelapa sawit dunia” beber Djono.
Presiden Direktur ICDX, Fenny Widjaja, mengutarakan saat ini sudah terdapat 58 member yang tergabung dalam Bursa CPO Indonesia. Hanya saja, imbuhnya, volumenya belum maksimal lantaran masih lemahnya regulasi pemerintah mendorong transaksi melalui bursa.








Komentar Via Facebook :