Home / Sumut / Istana Tak Siap Dikritik? BEM USU Tegaskan Pers Tak Bisa Diatur Kekuasaan
Istana Tak Siap Dikritik? BEM USU Tegaskan Pers Tak Bisa Diatur Kekuasaan
BEM USU
Medan, katakabar.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (BEM USU) menyampaikan keprihatinan mendalam atas pencabutan kartu identitas liputan Istana milik reporter CNN Indonesia oleh Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden. Insiden ini dinilai mencederai prinsip dasar demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia.
Kepala Staf BEM USU, Arya LM Sinurat, menegaskan tindakan tersebut diduga dipicu pertanyaan kritis jurnalis terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk intimidasi terhadap jurnalis sekaligus penghalangan kerja-kerja jurnalistik.
“Apa yang dilakukan Biro Pers Istana sangat bertentangan dengan semangat demokrasi dan keterbukaan informasi publik. Jurnalis tidak bisa dibatasi aturan politis mengenai apa yang boleh atau tidak boleh ditanyakan. Jika pertanyaan tentang program pemerintah saja dianggap melanggar batas, lalu bagaimana rakyat bisa mengawasi jalannya pemerintahan?” tegas Arya.
Ia menambahkan, jurnalis memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi, mengontrol kekuasaan, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Membungkam pertanyaan kritis, kata Arya, sama saja merusak mekanisme kontrol sosial yang sah.
BEM USU juga menyoroti bahwa program MBG tengah disorot publik setelah muncul sejumlah kasus keracunan. Pertanyaan reporter CNN Indonesia justru mencerminkan kepedulian publik terhadap kualitas dan pelaksanaan program tersebut.
“Alih-alih merespons dengan terbuka, Biro Pers malah bereaksi dengan mencabut kartu liputan. Ini bukan hanya tindakan represif, tapi juga menunjukkan kegagapan dalam menghadapi kritik. Seharusnya Istana menjadi ruang terbuka terhadap suara publik, bukan dibatasi demi kepentingan pencitraan semata,” sambungnya.
BEM USU mendesak agar:
Biro Pers Sekretariat Presiden segera mengembalikan hak liputan reporter CNN Indonesia dan meminta maaf secara terbuka.
Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen terhadap kebebasan pers dengan menjamin tidak adanya intervensi terhadap jurnalis di lingkungan Istana.
Komnas HAM dan Dewan Pers menyelidiki dugaan pelanggaran kebebasan pers dalam insiden ini.
Sebagai representasi generasi muda, BEM USU menegaskan bahwa demokrasi hanya bisa tumbuh jika kebebasan pers dijunjung tinggi, bukan dibungkam. Mahasiswa, pers, dan masyarakat sipil harus berdiri bersama melawan segala bentuk represi terhadap kebebasan berpendapat.
“Kami, mahasiswa Universitas Sumatera Utara, tidak akan diam saat suara kebenaran dibungkam. Hari ini satu jurnalis, besok bisa siapa saja. Ini bukan hanya soal media, ini soal demokrasi yang sedang kita jaga bersama,” pungkas Arya.








Komentar Via Facebook :