Medan, Katakabar - Dua puluh delapan tahun reformasi berlalu, namun jeritan keadilan masih terdengar dari lorong-lorong sejarah bangsa ini.

Reformasi yang dahulu diperjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan mahasiswa serta rakyat Indonesia, hingga hari ini masih menyisakan banyak pertanyaan tentang keberpihakan negara terhadap rakyat kecil.

Atas dasar itu, organisasi mahasiswa GMNI, HMI, GMKI, IMM, PMKRI, HIMMAH, dan KAMMI yang tergabung dalam Cipayung Plus Kota Medan menyatakan sikap untuk turun ke jalan sebagai bentuk refleksi perjuangan reformasi sekaligus pengingat bahwa cita-cita reformasi belum sepenuhnya tercapai.

Gerakan turun kejalan ini tidak sekadar mengenang sejarah 1998, tetapi merupakan panggilan moral untuk terus menjaga api perjuangan rakyat demi menghadirkan keadilan sosial yang sesungguhnya.

Reformasi lahir dari rahim penderitaan rakyat dan keberanian mahasiswa dan rakyat melawan ketidakadilan.